Artikel

Cerdaslah kelola keuangan bisnis agar kemerdekaan finansial tercapai

Oleh Baratadewa Sakti Perdana *)

Cerdaslah kelola keuangan bisnis agar kemerdekaan finansial tercapai

Ilustrasi: Menjadi Investor Sadar Finansial (Frontier)

...masih banyak orang yang belum memahami bahwa kekayaan itu harus dibangun melalui proses, cara yang benar, dan tak dapat instan...
Jakarta (ANTARA) - Saat memasak, penggunaan api menjadi hal yang penting. Kebanyakan orang akan menganggap penggunaan api besar diperlukan agar masakannya cepat matang. Sebaliknya, api kecil digunakan agar masakan bisa matang dan merata. Padahal metode ini tidak selalu dapat berlaku. Beda masakan, tentu beda pula cara penggunaan apinya.

Masakan yang membutuhkan krispi di luar dan lembut di dalam atau makanan-makanan yang mengembang sebaiknya menggunakan api yang besar. Namun saat menggunakan api besar, harus diperhatikan karena minyak lebih cepat panas dan membuat proses memasak jadi lebih cepat, sehingga harus pas pemilihan durasinya agar tidak terjadi gosong.

Sebaliknya pastikan untuk tidak menggunakan api kecil saat menggoreng gorengan, sebab api yang kecil justru akan lebih banyak menyebabkan gorengan menyerap minyak, alih-alih renyah malah jadi lembek.

Cara memasak dengan api kecil akan mendapatkan hasil yang maksimal seperti bumbunya terserap dengan benar dan tidak gosong. Namun jika menggunakan api besar, maka hal ini justru akan menyebabkan daging hancur sebelum matang.

Begitu pula dalam berbisnis. Uang besar tak serta merta menjamin bahwa bisnis akan berhasil sesuai dengan harapan. Ketika penggunaan uang tak sesuai pada tempatnya, maka bisnis justru berpotensi menjadi bermasalah dan akan semakin runyam ketika tak segera dibenahi.

Baca juga: MUI ajak Muslim tiru kebaikan Tionghoa dalam berbisnis

Ilustrasi: Pengusaha Merdeka Finansial
 

Sadar Finansial

Banyak cerita tentang orang-orang yang kehilangan uangnya karena menanamkan uang besar secara serampangan pada bisnis yang tidak mereka kuasai. Biasanya diawali dengan impian memperoleh untung besar dalam waktu cepat, kemudian mudah tergiur dengan iming-iming bisnis yang dianggap menguntungkan tersebut, namun pada akhirnya bernasib tragis karena kehilangan uangnya.

Tak jarang pula mendengar kisah dari orang-orang yang hancur keuangannya karena mereka nekat untuk menjadi investor dengan cara berinvestasi di tempat yang memang benar-benar salah. Yang sering kita dengar dengan istilah investasi bodong. Biasanya, investasi bodong ini menggunakan skema ponzi atau piramida.

Skema ponzi adalah bisnis "merampok si B untuk membayar si A," semata-mata hanyalah urusan setor-menyetor uang. Karena uang tidaklah diputar dalam bisnis untuk menghasilkan keuntungan, sehingga suatu saat bisnis ini akan "kehabisan duit" bila pendaftar yang masuk tidak lagi cukup untuk membayar member terdahulu.

Sedangkan skema piramida pada dasarnya juga mirip ponzi yaitu berusaha mengumpulkan uang masyarakat melalui rekruitmen anggota baru secara turun temurun.
Hanya saja skema piramida sering dibungkus dalam bentuk jual beli barang atau jasa.

Proses jual-beli tersebut pada dasarnya hanya kamuflase semata, karena barang yang diperjualbelikan biasanya jauh lebih mahal dari seharusnya, dan seringkali barang yang ditawarkan juga sebetulnya tidak memiliki manfaat alias barang sampah. Barang tersebut bila dijual di dengan cara normal pun belum tentu laku.

Baca juga: Sandiaga Uno ajak mahasiswa jadi pengusaha sejak dini



Kelola Keuangan

Mengelola bisnis tentu tak cukup hanya fokus pada pemasarannya, tetapi juga pada kondisi keuangan dan cara mengaturnya.

Kondisi keuangan bisnis akan tercermin dari laporan keuangannya. Bila laporan keuangan bisnisnya buruk lalu tidak tersusun rapi serta tidak tercatat dengan baik akan berdampak pada kondisi keuangan perusahaan.

Apalagi jika laporan keuangan yang dimiliki tidak cukup akurat dan real time, maka hal ini akan berdampak pada kesalahan dalam pengambilan keputusan yang cukup strategis yang nantinya dapat mengakibatkan kerugian bagi usaha bisnis tersebut.

Begitu pula dalam pengaturan keuangan bisnisnya. Meski memiliki data yang akurat, namun bila tak memiliki kecakapan dalam mengelola uang bisnis, maka tak jarang kita mendengar suatu bisnis yang sudah berdiri bertahun-tahun namun pertumbuhannya cenderung stagnan.

Beberapa tips yang dapat dilakukan oleh pengusaha start up adalah jangan habiskan keuntungan usaha bulanan hanya untuk gaji owner. Pastikan juga ada dana untuk dialokasikan menjadi modal operasional bulan depan, biaya promosi, dana cadangan bisnis serta alokasi untuk nambah modal.

Mengalokasikan sebagian keuntungan untuk menambah modal sesungguhnya sama dengan menaruh uang kecil secara efektif untuk meraih kebermanfaatan yang lebih besar di masa mendatang. Sebab definisi bisnis dari sudut pandang keuangan menurut saya adalah perputaran uang tunai yang menjadikan modal semakin besar.

Baca juga: HIPMI : Pemuda Indonesia yang jadi pengusaha hanya tiga persen

Ilustrasi: Pencatatan dan Pengaturan Keuangan Bisnis


Namun karena masih banyak orang yang belum memahami bahwa kekayaan itu harus dibangun melalui proses, cara yang benar, dan tak dapat instan, sehingga ketika ada godaan suatu bisnis yang sifatnya musiman kemudian booming dan menjanjikan keuntungan yang berlipat-lipat pada waktu yang singkat, maka tanpa berpikir panjang banyak orang serta merta menanamkan uangnya hanya karena memiliki keyakinan yang serampangan untuk ingin berhasil dan kaya dalam sekejap.

Tak jarang demi kekayaan instan yang semu itu, banyak orang kemudian merelakan uang apapun, termasuk dengan mengambil modal dari jalan utang.

Anda tentu tak ingin mengalami hal yang sama bukan? Karena itu, perlakukan uang Anda dengan baik. Pilihlah investasi di bisnis yang benar-benar Anda kuasai. Jika Anda memutuskan untuk merambah bidang lain, maka investasikan dulu waktu Anda untuk mempelajarinya dengan seksama. Masih ingat dengan Sandi Octa, petani milenial dengan penghasilan rata-rata Rp 500.000.000 per bulan dari Cianjur?

Mungkin seandainya tanpa tahu istilah investasi sekalipun, ia pasti akan memilih menanamkan uangnya untuk membeli kebun. Petani milenial ini bermental kaya, sebab melakukan investasi dengan pengetahuan dan naluri orang kaya, yaitu orang yang menghargai uangnya melalui investasi di bidang yang dikuasainya serta pandai mengatur kemana seharusnya uang besar digunakan atau kapan waktu yang tepat untuk lebih memilih uang kecil dipakai dalam bisnisnya.

Bagaimana dengan Anda?

*) Baratadewa Sakti P adalah Praktisi Keuangan Keluarga & Pendamping Bisnis UMKM

Oleh Baratadewa Sakti Perdana *)
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Bonsai kelapa jadi potensi bisnis baru di tengah pandemi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar