Dokter paru: Pandemi COVID-19 tingkatkan beban pelayanan kanker paru

Dokter paru: Pandemi COVID-19 tingkatkan beban pelayanan kanker paru

Sekretaris Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr. Erlang Samoerdo (kanan) berbicara dalam Diskusi tentang Paru yang digelar secara virtual oleh Cancer Information and Support Center (CISC), Jakarta, Rabu (26/8/2020). (ANTARA/Katriana)

Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr Erlang Samoerdo mengatakan pandemi COVID-19 telah meningkatkan beban pada pelayanan penanganan kanker paru di Indonesia.

"Jadi ini menjadi beban di sistem pelayanan kesehatan, terutama penatalaksanaan pada pasien-pasien kanker," kata dia dalam Diskusi tentang Paru yang digelar secara virtual oleh Cancer Information and Support Center (CISC), Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan sebelum pandemi saja, para penyintas kanker paru sudah terbebani oleh biaya cukup besar yang harus mereka keluarkan untuk mengobati penyakit tersebut.

Terlebih dengan adanya pandemi COVID-19 pada saat ini yang semakin meningkatkan beban dan risiko, baik kepada penderita maupun kepada petugas medis dan pelayanannya.

Baca juga: Tanya jawab kanker paru, benarkah bisa dialami orang muda?

Baca juga: Melly Goeslaw: lebih mudah berhenti merokok daripada tak makan nasi


"Ini memberikan double burden (beban ganda) karena pasien kanker bisa terinfeksi juga, selain (beban) penderitaan yang sudah mereka rasakan akibat kanker parunya sendiri," katanya.

Kemudian, pelayanan kesehatan untuk pengobatan kanker paru juga terbebani dengan adanya pandemi COVID-19 saat ini.

"Sehingga setiap kali ingin melakukan pelayanan kesehatan untuk kanker paru harus diskrining dahulu. Tentunya ini juga menjadi beban buat semuanya," ujar dia.

Sementara itu, tenaga medis yang meninggal akibat terinfeksi pandemi COVID-19 juga terus meningkat. Hal itu menyebabkan sistem pelayanan, terutama terhadap pasien kanker paru, juga semakin terganggu.

"Korbannya di kalangan tenaga kesehatan, terutama dokter, sudah 86 dokter, dari mulai dokter umum sampai dokter spesialis yang meninggal. Ini menjadi masalah tersendiri. Bahwa satu orang dokter saja bisa melayani hampir puluhan ribu pasien. Sehingga rasanya sangat kehilangan sekali kalau ada satu dokter yang meninggal," ujarnya.

Sehingga pandemi COVID-19, katanya, mau tidak mau harus ditangani segera agar tidak ada lagi dokter yang meninggal akibat COVID-19, yang dapat meruntuhkan sistem pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Sementara itu, terkait dengan penanganan pada pasien kanker paru, Erlang mengatakan saat ini penatalaksanaan penanganan kanker paru di Indonesia sudah cukup maju. Penatalaksanaan terbaru untuk membantu menangani pasien kanker paru saat ini, katanya, adalah dengan imunoterapi.

"Hal ini menempatkan Indonesia setara dengan penatalaksanaan yang setara dengan standar internasional," demikian kata Erlang.*

Baca juga: Dokter Paru: Hanya 10 persen perokok tidak mengidap kanker paru

Baca juga: Benarkah vape bisa bantu berhenti merokok konvensional?

Pewarta: Katriana
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kanker paru dampak jangka panjang kabut asap

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar