Banyuasin optimistis produksi 1,3 juta ton gabah kering giling

Banyuasin optimistis produksi 1,3 juta ton gabah kering giling

Petani Desa Karya Mukti, Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Selasa (24/12/2019). ANTARA/Hafidz Mubarak/am.

Saat ini, kami menjadi produsen beras nomor empat secara nasional dan nomor satu di Pulau Sumatera, ke depan berharap bisa jadi nomor satu di Indonesia
Pangkalan Balai, Sumsel (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, optimistis daerahnya memproduksi sebanyak 1,3 juta ton gabah kering giling (GKG) pada 2020 karena terjadi penambahan areal persawahan.

Bupati Banyuasin Askolani di Pangkalan Balai, Sumsel, Rabu, mengatakan jika produksi ini dapat tercapai hingga akhir tahun nanti maka Banyuasin diperkirakan dapat menempati posisi ke dua hingga satu produsen beras nasional.

"Luas lahan persawahan terus bertambah dan digarap optimal oleh petani. Belum lagi ada program pemanfaatan lahan rawa (serasi), saya optimistis bisa tembus 1,3 juta ton pada 2020 ini," kata dia.

Baca juga: Petani Banyuasin berhasil kembangkan padi hitam di lahan gambut

Sejauh ini, berdasarkan data Kementerian Pertanian luas panen padi di Kabupaten Indramayu Provinsi Jawa Barat 215,731 hektare, Kabupaten Karawang 185.807 ha, dan Kabupaten Subang 156.298,50 ha.

Sementara pada 2020, Kabupaten Banyuasin menargetkan luas panen padi mencapai 263.368 hektare sehingga dapat memproduksi 1.309,598 ton GKG atau setara 750.399 ton beras.

Pada 2019, Banyuasin memiliki luas panen padi 208,598 ha dengan produksi padi sebesar 905.846 ton GKG atau setara 519.684 ton beras.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Banyuasin juga mengoptimalkan areal rawa menjadi persawahan karena menjadi daerah yang melaksanakan program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi) Kementerian Pertanian.

"Saat ini, kami menjadi produsen beras nomor empat secara nasional dan nomor satu di Pulau Sumatera, ke depan berharap bisa jadi nomor satu di Indonesia," kata dia.

Menurutnya, produksi beras di Banyuasin masih bisa ditingkatkan karena luas lahan baku sawah mencapai 174.371 ha dengan luas tanam tahun 2019 mencapai 213.813 ha. Lahan ini terdiri atas pasang surut 148.658 ha, (IP100 90.151 ha, IP200 58.007 ha, dan IP300 36 ha) serta rawa lembak 25.713 ha (IP100 21.279 ha dan IP200 2.562 ha).

Lokasi potensial pun telah dipetakan pemkab yakni di 15 kecamatan seperti Muara Telang 23.120 ha, Air Saleh 21.391 ha, Sumber Marga Telang 10.299 ha, Makartijaya 11.000 ha, Muara Sugihan 24.292 ha, Tanjung Lago 15.226 ha, Selat Penuguan 12.710 ha, dan Rantau Bayur 16.337 ha.

"Ada empat kecamatan potensial yang masih bisa dikembangkan secara optimal, yakni Rantau Bayur, Rambutan, Tungkal Ilir. dan Selat Penuguan," kata dia.

Untuk itu, pemkab akan mendorong penggunaan benih bermutu, penyediaan pupuk yang cukup, penyediaan alat mesin olah tanah modern, dan pengolahan tanah secara insentif dengan menggunakan alat mesin TR4.

Lalu, penyediaan pestisida dan pengelolaan air dengan baik, perbaikan saluran-saluran air, pintu-pintu air dan tanggul, penerapan ekstensifikasi lahan produktif, dan peluasan lahan produksi dengan pengembangan lahan sawah baru.

Kemudian, penyediaan sarana panen dan pascapanen yang modern seperti pengering gabah (vertical dryer) dan pembangunan RMU yang modern untuk menghasilkan beras berkualitas tinggi.

"Pada 2020 ini juga dibuka penerimaan petugas penyuluh lapangan (PPL) untuk melakukan pendampingan petani secara intens, dengan target 1 desa 1 PPL," kata dia.

Baca juga: Dana Desa di Kabupaten Banyuasin untuk perbaikan rumah tak layak huni
Baca juga: Pemkab Banyuasin bangun 11 embung cegah karhutla

Pewarta: Dolly Rosana
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pengusaha arang batok kelapa di Banyuasin terus mengasap saat pandemi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar