Tekan impor, Masyarakat Biohidrokarbon kembangkan katalis Merah Putih

Tekan impor, Masyarakat Biohidrokarbon kembangkan katalis Merah Putih

Sertifikat penghargaan dari Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) untuk salah satu pelopor pengembangan sawit sebagai bahan bakar nabati (Antara/HO-DMSI)

Dengan terciptanya Katalis Merah Putih ini Indonesia tidak perlu lagi mengimpor minyak bumi setiap tahun
Jakarta (ANTARA) - Masyarakat Biohidrokarbon melakukan pengembangan katalis Merah Putih hasil penelitian Institut Teknologi Bandung/ITB untuk menekan angka impor produk yang dimanfaatkan dalam industri kimia.

"Dengan terciptanya Katalis Merah Putih ini Indonesia tidak perlu lagi mengimpor minyak bumi setiap tahun, karena industri katalis ini akan mendorong untuk menuju kemandirian energi," ujar Ketua Masyarakat Biohidrokarbon Sahat M Sinaga di Jakarta, Rabu.

Katalis adalah jantung bagi industri kimia di Indonesia, rintisan pengembangannya dilakukan ITB dan Pertamina untuk pengolahan minyak dan gas, antara lain minyak diesel hijau.

Katalis dibuat dari senyawa zat mineral yang dicetak dalam beragam bentuk dan warna berupa butiran yang sangat keras menyerupai beras, pelet, atau bulatan seperti mutiara. Fungsinya untuk mengarahkan hingga mempercepat reaksi bahan baku olahan di industri hingga mencapai
keseimbangan menjadi senyawa yang stabil.

Dengan katalis, reaksi bahan proses dapat lebih efisien dari segi waktu, bahan baku, dan energi, serta ramah lingkungan.

Di dunia, kebutuhan katalis sekitar 21 miliar dollar AS atau setara Rp294 triliun sedangkan nilai ekonomi yang dihasilkan dari produk olahannya 11 triliun-15 triliun dollar AS atau Rp210.000 triliun.

"Penggunaan katalis di Indonesia sekitar 500 juta dollar AS atau Rp7 triliun Sayangnya, untuk memenuhi kebutuhan katalis, hampir 100 persen industri mengandalkan produk impor," katanya melalui keterangan tertulis dari Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI).

Upaya mengurangi ketergantungan katalis impor dirintis pakar katalis dari Fakultas Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung Prof.Dr Subagjo bersama tim, sejak 1983 dengan melakukan riset di Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis ITB dan telah menghasilkan enam jenis katalis yang terbukti berfungsi baik.

Pada 2004, Subagjo bersama rekannya, Makertihartha dan Melia Laniwati, menemukan formula katalis yang dinamai PK100 HS, untuk hidrotriting (hydrotreating) nafta (NHT). Uji coba skala pilot di Pusat Riset dan Teknologi Pertamina menggunakan 100 gram katalis menunjukkan hasil lebih baik daripada katalis komersial.

Dari sinilah katalis itu dijuluki katalis ”merah putih” pertama. Kehadiran inovasi katalis “Merah Putih” ini memegang peran penting bagi kemandirian teknologi tanah air.

Menindaklanjuti temuan tersebut, Masyarakat Biohidrokarbon berusaha mengembangkan apa yang telah dihasilkan oleh ITB yaitu Katalis Merah Putih.

"Dari hasil riset, selain memiliki harga yang lebih ekonomis serta hemat energi, minyak dari kelapa sawit ini juga menghasilkan gasolin yang lebih baik dibandingkan fosil," katanya.

Katalis “Merah Putih” mendapatkan apresiasi Presiden Joko Widodo pada acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Tahun 2020 yang diselenggarakan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), di Graha Widya Bhakti, Kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong, Kota Tangerang Selatan, 30 Januari 2020.

Baca juga: Pemerintah diminta tetapkan standar dan nomenklatur biohidrokarbon
Baca juga: Kabupaten Muba-ITB MoU terapkan biohidrokarbon berbasis kelapa sawit

Pewarta: Subagyo
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Presiden sebut B30 jadikan Indonesia mandiri

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar