Dirut BRI: Permintaan kredit belum mampu imbangi pertumbuhan dana

Dirut BRI: Permintaan kredit belum mampu imbangi pertumbuhan dana

Tangkapan layar Direktur Utama BRI Sunarso saat memberikan keterangan dalam paparan publik secara virtual di Jakarta, Kamis (27/8/2020). ANTARA/Citro Atmoko

... Sehingga bisa disimpulkan kalau begitu isunya adalah apakah likuiditas untuk menumbuhkan kredit atau justru isunya bukan likuiditas, tapi adalah demand terhadap kredit itu sendiri
Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sunarso mengatakan permintaan kredit dari masyarakat saat ini belum mampu mengimbangi pertumbuhan dana perseroan yang mencapai "double digit" .

Menurut Sunarso, kredit BRI tumbuh hampir 4 persen, di atas rata-rata industri yang hanya tumbuh 1,49 persen. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) perseroan tumbuh 12 persen.

"Terus LDR kita ternyata hanya 85 persen. Artinya yang semula kita takut likuiditas terdampak akibat restrukturisasi kredit, ternyata begitu kredit direstrukturisasi, memang benar pembiayaan pokok menjadi ditunda, tapi ternyata demand kredit itu belum mampu mengimbangi pertumbuhan dana masyarakat. Sehingga bisa disimpulkan kalau begitu isunya adalah apakah likuiditas untuk menumbuhkan kredit atau justru isunya bukan likuiditas, tapi adalah demand terhadap kredit itu sendiri," ujar Sunarso saat paparan publik secara virtual di Jakarta, Kamis.

Mendapatkan dana Rp10 triliun dari pemerintah dan ditargetkan untuk menyalurkan kredit tiga kali lipatnya, BRI sendiri sudah melampaui target tersebut hanya dalam waktu kurang dari dua bulan. Per 26 Agustus 2020, BRI telah menyalurkan kredit Rp39,96 triliun kepada 947.446 debitur.

Secara lebih rinci, sebanyak Rp16,57 triliun disalurkan dalam bentuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) terhadap 652 ribu nasabah, kredit mikro non KUR Rp12,28 triliun kepada 249 ribu nasabah, dan kredit kepada usaha kecil dan menengah sebesar Rp10,62 triliun kepada 20 ribu nasabah.

"Kalau ditanya apakah mau minta tambahan, kita serahkan kepada pemerintah, apakah mau ditarik dana PEN atau dana deposit itu, kita serahkan pada pemerintah. Jangan-jangan pemerintah sudah tahu nanti yang optimal seperti apa, misalnya "Oh kalau begitu bank sebenarnya tidak butuh likuidtas", kalau begitu uang ditarik saja dan dialihkan dalam betuk setimulus lain misalkan dalam bentuk stimulus bukan melalui bank tapi seperti banpres produktif untuk usaha mikro. Itu kan bukan kredit tapi hibah, itu mungkin barangkali yang tepat dorong permitnaan. Nanti kalau demand ada, baru kemudian bank salurkan kredit dan butuh likuiditas," kata Sunarso.

Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo juga mengungkapkan hal senada. Secara internal, BRI memiliki likuiditas yang cukup tercermin dari rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) yang berada di posisi 85 persen.

"LDR kami 85 persen dan itu cukup. Kemudian apakah penempatan dana pemerintah ini perlu diperpanjang atau tidak ? Saya kira itu dikembalikan kepada pemerintah apakah ini akan diperpanjang atau tidak. Kami siap untuk terus menyalurkan semua program-program PEN yang disalurkan melalui perbankan karena kami memilliki jumlah outlet dan personel yang cukup untuk menyalurkan itu," ujar Haru.

Baca juga: Dirut BRI: Daya beli masyarakat faktor penting dalam pemulihan ekonomi

Baca juga: BRI salurkan Rp247,5 triliun dukung program pemulihan ekonomi

Baca juga: Bos BRI sebut target kredit Rp30 triliun dari dana PEN sudah tercapai

Baca juga: BRI akan jaga marjin bunga 5,6 persen hingga akhir tahun


 

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Modernisasi pasar rakyat Malang di masa pandemi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar