Polisi sebut tersangka Tri Nugraha pernah jadi anggota Perbakin

Polisi sebut tersangka Tri Nugraha pernah jadi anggota Perbakin

Dirreskrimum Polda Bali, Kombes Pol Dodi Rahmawan bersama Wakajati Bali, Asep Maryono di Polda Bali, Rabu (2/9/2020). ANTARA/Ayu Khania Pranisitha/am.

Denpasar (ANTARA) - Dirreskrimum Polda Bali, Kombes Pol Dodi Rahmawan, menyebutkan bahwa tersangka Tri Nugraha pernah menjadi anggota Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin) Bali.

Tri Nugraha sendiri terkait dugaan tindak pidana korupsi gratifikasi kepada pegawai negeri/penyelenggara negara pada Kantor Pertanahan Kota Denpasar dan dugaan tindak pidana pencucian uang atas tindak pidana asal yaitu korupsi gratifikasi kepada pegawai negeri / penyelenggara negara pada Kantor Pertanahan Kota Denpasar dan Badung.​​​​​​​

"Memang benar yang bersangkutan pernah menjadi anggota Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin), namun dokumen suratnya sudah mati, tidak diperpanjang," jelas Dodi Rahmawan, dalam konferensi pers di Polda Bali, Denpasar, Rabu.

Baca juga: Polisi sebut senpi dalam kasus bunuh diri Tri Nugraha diduga ilegal

Ia mengatakan bahwa dokumen surat keanggotaan dari tersangka Tri Nugraha tidak diperpanjang dan mati. Selain itu, dokumen surat terkait penggunaan senjata api juga mati.

Sebelumnya, tersangka Tri Nugraha diduga melakukan bunuh diri dengan menembakkan senpi ke dada kirinya dalam toilet Kantor Kejati Bali, pada Senin (31/8) sekitar 19.40 wita, saat akan diproses penahanan dari Kejati Bali menuju Lapas Kerobokan.

Terkait dengan hal tersebut, pihak Polda Bali melakukan penyelidikan dan penggeledahan terhadap rumah tersangka, yang beralamat di Jalan Gunung Talang, Padangsambian, Denpasar Barat.

"Ditemukan beberapa barang bukti lainnya yaitu satu kotak senjata warna hitam merk alfa 320, satu buah magazine hitam, dua buah sikat pembersih senjata, satu buku senjata namun tidak ada senjatanya atas nama Tri Nugraha. Kemudian, satu buku warna merah, satu tas pinggang berisi enam peluru aktif, kemudian 28 butir peluru tajam, satu buah selongsong peluru panjang, satu senjata kecil merk North Amerika beserta 5 butir peluru kaliber 22, kaliber 45," jelas Dodi Rahmawan.

Selanjutnya, barang bukti terkait lainnya yaitu buku senjata api warna hijau, tapi tidak ada senjatanya. Lalu ada juga tiga butir peluru kabiler 9 mm, kemudian 20 butir 9 mm, satu pucuk senjata api laras panjang.

Dodi menjelaskan bahwa selanjutnya pihak kepolisian sedang menunggu hasil pemeriksaan dari laboratorium forensik terkait senpi dan proyektil dari kasus tersangka Tri Nugraha ini.

"Akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait barang ini (di TKP) yang juga penting meliputi baju yang bersangkutan, jam tangan, lalu selongsong peluru dan empat peluru yang masih aktif,"ucapnya.

Hingga saat ini, kata Dodi sudah memeriksa 10 saksi dari dugaan kasus bunuh diri mantan Kepala BPN Denpasar dan Kepala BPN Badung, Tri Nugraha. 10 orang tersebut terdiri dari pihak kejaksaan delapan orang kemudian penasehat hukum, dan sopir.

Dirreskrimum Polda Bali, Kombes Pol Dodi Rahmawan membenarkan bahwa penasehat hukumnya, Harmaini Hasibuan sempat memberikan tas kepada tersangka Tri Nugraha.

"Iya jadi sebelum tersangka dibawa untuk menuju ke Lapas Kerobokan, tersangka menyuruh penasehat hukumnya mengambil tasnya di loker dan diserahkan saat pemeriksaan," katanya.

Baca juga: Mantan Kepala BPN Denpasar yang bunuh diri dimakamkan di Bandung
Baca juga: Kejagung bakal gelar penyidikan internal, kasus bunuh diri Tri Nugraha

Pewarta: Ayu Khania Pranishita
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Tidak ada WNI yang jadi korban ledakan bom di Filipina

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar