Anak-anak terlantar di Timur Tengah stres karena COVID-19

Anak-anak terlantar di Timur Tengah stres karena COVID-19

Ilustrasi anak mengalami stres (Pixabay)

Anak-anak yang terlantar di Yaman memperlihatkan  angka kenaikan tertinggi dalam level stres dibanding level sebelum pandemi, dengan kenaikan 65 persen
Ankara (ANTARA) - Selain memiliki efek fisiologis, pandemi virus corona juga meningkatkan level stres di kalangan anak-anak pengungsi yang terlantar di Timur Tengah, menurut lembaga swadaya masyarakat  Norwegia pada Selasa.

Menurut laporan yang dipublikasi oleh Dewan Pengungsi Norwegia, anak-anak terlantar di kawasan tersebut menjadi 45 persen lebih stres sejak pandemi COVID-19 mewabah. Sementara 88 persen dari anak-anak pengungsi dan terlantar di Suriah, Yaman, Irak dan Yordania dilaporkan sedang mengalami stres karena COVID-19, dan 75 persen mengaku bahwa mereka takut terinfeksi penyakit tersebut.

"Anak-anak yang terlantar di Yaman memperlihatkan  angka kenaikan tertinggi dalam level stres dibanding level sebelum pandemi, dengan kenaikan 65 persen," kata NRC.

Baca juga: Psikiater: Redakan stres saat pandemi agar tak terjerumus narkoba
Baca juga: Stres saat pandemi, bukan alasan untuk lakukan kekerasan pada anak


"Pandemi juga memaksa kebanyakan anak-anak untuk merawat adiknya, mengambil tanggung jawab orang dewasa yang meniadakan mereka dari masa kanak-kanak mereka. Ketika ditanya bagaimana mereka menghabiskan waktunya, jumlah tertinggi anak-anak, yakni 42 persen, menjawab mereka menjaga saudara laki-laki dan perempuannya," tambahnya.

"Anak-anak yang sebelumnya mengalami peristiwa traumatik lebih rentan terhadap stres baru. Situasi COVID yang baru mampu menyerupai pengalaman traumatik terdahulu. Itu adalah perasaan yang mengancam kehidupan, kemungkinan masalah kesehatan yang parah dan kematian serta kehancuran," kata Jon-Hakon Schultz, psikolog pendidikan di Universitas Arktik Norwegia.

"Dan perasaan ini mirip dengan yang mereka rasakan selama pemboman, selama melarikan diri, selama masa perang. Jika kita tidak dapat melihat anak-anak kembali ke sekolah, maka mereka akan menderita selama sisa hidupnya," pungkasnya.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Metode EFT efektif atasi stres saat pandemi COVID-19, kata akademisi
Baca juga: Psikolog ajak tenaga kesehatan kelola stres selama pandemi COVID-19

Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kolaborasi Dekranasda Pekalongan-Tulungagung majukan industrI batik

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar