Rupiah terkulai 33 poin, dipicu isu "burden sharing" dan Dewan Moneter

Rupiah terkulai 33 poin, dipicu isu "burden sharing" dan Dewan Moneter

Ilustrasi: Pekerja menunjukkan uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di sebuah tempat penukaran uang di Jakarta. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/wsj.

Pelaku pasar kecewa karena mengira burden sharing hanya kebijakan jangka pendek, sekali pukul, ad hoc, one off. Namun ternyata ada kemungkinan bertahan lama
Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis masih terkoreksi dipicu wacana perpanjangan kebijakan berbagi beban atau burden sharing antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) hingga 2022.

Rupiah ditutup melemah 33 poin atau 0,22 persen menjadi Rp14.778 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.745 per dolar AS.

"Pelaku pasar kecewa karena mengira burden sharing hanya kebijakan jangka pendek, sekali pukul, ad hoc, one off. Namun ternyata ada kemungkinan bertahan lama," kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Kamis.

Disamping itu pasar juga mencemaskan wacana amandemen Undang-undang (UU) Bank Indonesia. Salah satu opsi yang ada adalah kembalinya Dewan Moneter seperti masa Orde Baru.

Baca juga: Wacana bentuk Dewan Moneter muncul di revisi ke-3 UU BI, ini detailnya

Dewan Moneter memimpin, mengkoordinasikan, dan mengarahkan kebijakan moneter, sejalan dengan kebijakan umum pemerintah di bidang perekonomian. Nantinya Dewan Moneter terdiri Menteri Keuangan sebagai ketua, satu orang menteri di bidang perekonomian, Gubernur BI, dan Deputi Senior BI, serta Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Jika dipandang perlu, maka pemerintah dapat menambah beberapa orang menteri sebagai anggota penasihat Dewan Moneter.

"Informasi ini membuat bingung pelaku pasar sehingga wajar kalau asing menahan diri untuk masuk ke pasar keuangan. Malahan sebaliknya dana yang sudah parkir di pasar dalam negeri kembali keluar," kata Ibrahim.

Baca juga: Faisal Basri: Pembentukan Dewan Moneter bertentangan dengan UUD 1945

Dari eksternal, pemulihan ekonomi Amerika Serikat diprediksi akan berjalan lebih lambat ketimbang negara-negara lainnya, khususnya negara di Eropa, walaupun rilis data manufaktur AS yang melesat tinggi pada Agustus. Institute for Supply Management (ISM) Selasa lalu melaporkan Purchasing Mmanagers' Index (PMI) manufaktur melesat menjadi 56 dari Juli 54,2.

Sementara itu China mengatakan pada hari sebelumnya bahwa PMI jasa Caixin untuk Agustus adalah 54, sedikit turun dari pembacaan Juli di 54,1 tetapi masih menunjukkan pertumbuhan. Namun data tersebut belum bisa di jadikan alasan bahwa ekonomi akan pulih lebih cepat.

Baca juga: Rupiah Kamis pagi jatuh 10 poin

Baca juga: Dolar menguat, ditopang sejumlah data baru ekonomi AS


Apalagi kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve (Fed), membabat habis suku bunga acuannya menjadi 0,25, serta menerapkan kembali program pembelian aset atau yang dikenal dengan Quantitative Easing (QE) yang membuat perekonomian AS menjadi banjir likuiditas.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah di posisi Rp14.755 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.755 per dolar AS hingga Rp14.820 per dolar AS.

Sementara itu kurs tengah Bank Indonesia pada Kamis menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp14.818 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.804 per dolar AS.

Baca juga: IHSG ditutup jatuh, terseret aksi jual investor asing


 

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Budidaya kutu air bernilai jutaan rupiah

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar