Perusahaan sawit konservasi burung pemangsa di Kalimantan

Perusahaan sawit konservasi burung pemangsa di Kalimantan

Salah satu spesies burung pemangsa yang ada di kawasan high conservation value (HCV/ konservasi bernilai tinggi) di area perkebunan sawit PT Mentaya Sawit Mas di Kalimantan Tengah. (Antara/HO- PT MSM)

Penilaian area-area NKT terdiri dari area-area yang mempunyai nilai, seperti fungsi habitat, fungsi jasa ekosistem, ekosistem langka...
Jakarta (ANTARA) - PT Mentaya Sawit Mas (PT MSM) melakukan upaya konservasi burung pemangsa (raptor) di kawasan High Conservation Value (HCV/ konservasi bernilai tinggi) yang berada di area perkebunan tersebut di Kalimantan Tengah.

Kawasan tersebut saat ini menjadi rumah bagi 16 spesies burung pemangsa atau 55 persen dari total jumlah spesies tersebut di Pulau Kalimantan, termasuk Brunei Darussalam dan Malaysia.

Senior Assistant Conservation Indonesia Wilmar International (induk PT MSM) Surya Purnama di Jakarta, Kamis, mengatakan area konservasi seluas sekitar 4.000 hektare tersebut telah diidentifikasi melalui penilaian area bernilai konservasi tinggi (NKT) yang dilakukan sebelum pembukaan kebun.

Baca juga: TNBB siap melepasliarkan burung jalak bali hasil penangkaran

Dari hasil penilaian para ahli, tambahnya, perusahaan memperoleh rekomendasi untuk melakukan konservasi pada area yang diidentifikasi serta rekomendasi untuk pengelolaan dan monitoring.

"Penilaian area-area NKT terdiri dari area-area yang mempunyai nilai, seperti fungsi habitat, fungsi jasa ekosistem, ekosistem langka, hingga area dengan fungsi sosial budaya masyarakat setempat," kata Surya melalui keterangan resmi.

Dia menjelaskan burung pemangsa umum ditemukan di perkebunan kelapa sawit karena banyak tersedia mangsa, seperti tikus dan ular, yang merupakan mangsa bagi Elang tikus (Elanus Caeruleus) dan Elang-ular Bido (Spilornis Cheela).

Baca juga: Pakar: Ekowisata penting bagi konservasi burung air di lahan gambut

Dalam catatan tim konservasi, pernah dijumpai 14 ekor Elang Tikus dalam satu lokasi, tambahnya. Biasanya Elang Tikus hanya berkumpul antara 4 – 6 ekor dalam satu tempat.

Keberadaan burung pemangsa juga dapat dimanfaatkan sebagai predator alami bagi hama perkebunan sawit, contohnya Elang Tikus dan Elang-Ular Bido dapat memangsa tikus, sedangkan Alap-Alap Capung (Microcierax Fringillarius) memangsa dan mengontrol serangga.

Baca juga: Ancol siapkan Rp30 miliar untuk bangun wahana konservasi burung

Species burung pemangsa yang ditemukan di HCV PT MSM yakni Elang-rawa kelabu, Baza jerdon, Sikep-madu Asia,Elang tikus,Elang bondol,Elang perut-karat,Elang-ikan kecil, Elang-ikan kepala-kelabu, Elang-alap jambul, Elang-ular bido,Elang-alap nipon, serak jawa, Elang brontok, Alap-alap capung, Elang kelelawar, Alap-alap kawah.

Surya menjelaskan area perkebunan ini menjadi salah satu lintasan jalur migrasi burung pemangsa dari belahan bumi utara menuju belahan bumi selatan yaitu East Asian Australasia Flyway.

Baca juga: Kalbar jadi pusat konservasi burung enggang
 

Pewarta: Subagyo
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Myzomela Prawiradilagae, spesies burung baru asal Alor

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar