ASEAN didorong untuk satu suara dalam hadapi tantangan

ASEAN didorong untuk satu suara dalam hadapi tantangan

Diskusi publik tentang hubungan China, ASEAN di masa depan yang dilaksanakan secara virtual di Jakarta, Jumat (4/9/2020). (ANTARA/Azis Kurmala)

Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Foundation for East Sea Studies Ha Anh Tuan menekankan pentingnya perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) memiliki satu suara dalam menghadapi berbagai tantangan regional maupun global yang dapat mengganggu stabilitas kawasan.

"ASEAN harus bersatu dalam menghadapi tantangan regional maupun global. Karena itu dalam menjalin suatu hubungan dengan negara di luar kawasan harus mempunyai aturan dalam hal kerja sama ekonomi, politik, maupun lainnya," ujar Ha Anh Tuan dalam diskusi mengenai "Hubungan China, ASEAN di masa depan" secara virtual di Jakarta, Jumat.

Dengan mempunyai sikap yang sama atau satu kesatuan suara, menurut dia, ASEAN memiliki kekuatan untuk mengatasi berbagai tantangan regional maupun global.

"Dengan sentralitas ASEAN, kita dapat membangun kesatuan ASEAN," kata dia.

Ia mengatakan masih ada perbedaan sikap dan posisi diantara negara-negara anggota ASEAN dalam beberapa isu tertentu, misalnya dalam menilai masalah Laut China Selatan.

"Karena itu tiap negara anggota ASEAN harus menyeimbangkan kepentingan nasional dengan kepentingan kelompok atau ASEAN. Kita tidak seharusnya membenturkan kepentingan nasional dengan kepentingan ASEAN sebagai sebuah organisasi di kawasan," kata dia.

Selain itu, ia mengatakan China dan ASEAN saat ini adalah mitra global yang sedang sama-sama tumbuh.

"Hubungan China dan ASEAN itu penting dan seperti hubungan kakak dan adik, di mana terkadang mempunyai masalah. Jadi hubungan kakak dan adik ini harus paham bagaimana menemukan kepentingan bersama dalam mengatasi sebuah tantangan," kata dia.

Baca juga: Peneliti sebut China rekan penting ASEAN di bidang ekonomi

Sementara itu, Direktur Jenderal Institut Hubungan Internasional Kamboja (International Relations Institute of Cambodia/IRIC) Kin Phea mengatakan kesatuan ASEAN dibutuhkan agar posisi perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara itu lebih kuat dalam menghadapi persaingan dua kekuatan besar seperti AS dan China.

"Dalam menghadapi dua kekuatan besar seperti AS dan China, ASEAN tidak boleh memihak ke AS atau China di tengah persaingan kedua negara adidaya itu," ujar Kin Phea.

"Terkait hubungan China dan ASEAN, dalam situasi ini kita harus seimbang dalam membicarakan isu-isu sensitif meskipun hal itu sulit untuk mencapai kesepakatan, tetapi kita harus bernegosiasi dalam membicarakan isu-isu sensitif," lanjutnya.

Baca juga: Utusan AS sebut aksi Beijing di Laut China Selatan bagai 'penaklukan'

Baca juga: Armada Ketujuh AS dukung patroli Laut China Selatan ASEAN

Baca juga: Pertemuan ASEAN dengan China-Amerika tegaskan pentingnya perdamaian

Pewarta: Azis Kurmala
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Menelaah manfaat Perjanjian Dagang RCEP bagi Indonesia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar