Laporan dari Kuala Lumpur

Curhat pengusaha Indonesia di Malaysia, bertahan di tengah pandemi

Curhat pengusaha Indonesia di Malaysia, bertahan di tengah pandemi

Pengurus ITA Malaysia dari kiri ke kanan Ong Wan Bing (Direktur Panalux Sdn Bhd dan Penasehat Ke II ITA), Frankie Ridzal (Direktur Indadi Utama (M) Sdn Bhd dan Wakil Presiden II ITA), Kandi Rahayu (Direktur Eksekutif PT. Sari Sihat (M) Sdn Bhd dan Wakil Presiden III ITA), Hotman Wangi (Direktur Premium Distributor & Logistic Sdn Bhd dan Presiden ITA) dan Susanto Lee (Direktur Kara Marketing (M) Sdn Bhd dan Wakil Presiden I ITA). ANTARA Foto/dok (1)

Penurunan terjadi karena pendapatan dan ekonomi masyarakat belum stabil sehingga terjadi penurunan daya beli. Mereka selektif dalam membeli barang
Kuala Lumpur (ANTARA) - Sejumlah pengusaha Indonesia di Malaysia melakukan sejumlah strategi dan terobosan baru dalam mengatasi dampak pandemi COVID-19.

Direktur Eksekutif PT Sari Sihat (M) Sdn Bhd Kandi Rahayu di Kuala Lumpur, Senin, mengatakan pihaknya kini masuk ke digital market atau platform online untuk meminimalkan kontak pribadi.

Kemudian memberikan diskon kepada grosir atau wholesale dengan jumlah pembelian tertentu.

Sari Sihat merupakan pemegang prinsipal distribusi produk Jamu Air Mancur dan PT Sari Sehat Indonesia di seluruh Malaysia.

Wakil Presiden III Indonesia Trade Association (ITA) Malaysia ini mengatakan selama pandemik COVID-19 terjadi penurunan penjualan sebanyak 30 persen.

"Penurunan terjadi karena pendapatan dan ekonomi masyarakat belum stabil sehingga terjadi penurunan daya beli. Mereka selektif dalam membeli barang. Pembelian masyarakat dari agen kami berkurang. Otomatis pembelian agen ke kami menurun," katanya.

Baca juga: Pengusaha Indonesia kehilangan Rp4 miliar di Malaysia

Kandi mengatakan saat lockdown (Perintah Kawalan Pergerakan/PKP) selama tiga bulan di Malaysia banyak perusahaan mengurangi tenaga kerja.

"Produk kami bukan kebutuhan sehari-hari, tetapi masih dilihat sebagai herbal asupan suplemen yang diperlukan," katanya.

Dampak yang kedua, ujar dia, adalah pada pengiriman barang, karena pengemudi dan logistik belum leluasa bergerak karena adanya area-area yang masuk klaster COVID-19.

"Saat Negara Bagian Kedah ada pembatasan pergerakan suplai bisa tetapi frekuensi tidak sama. Driver takut mau ke sana. Sedang saat PKP tiga bulan semua area tertutup," katanya.

Dampak berikutnya, ujar Kandi, adalah pembayaran yang masuk lebih panjang dari biasanya.

Baca juga: Dubes minta pengusaha tingkatkan bisnis dengan Malaysia

"Pembayaran semestinya 2-3 tiga bulan lebih molor lagi. Kemudian toko-toko milik outlet kami belum buka sepenuhnya. COVID juga berdampak ke menengah ke atas karena mereka masih takut pergi ke pasar umum. Lebih senang di rumah," katanya.

Kemudian suplai barang dari Indonesia lebih lambat frekuensinya serta perjalanan bisnis dan dinas terganggu

Kandi mengatakan pihaknya tiga tahun lalu sudah masuk platform online cuma belum maksimal karena produknya tidak seperti kecap yang jelas kegunaannya.

"Harus datang ke kedai dan dijelaskan. Sekarang penjualan via shopee dan lazada melalui outlet wholesale yang bergerak di online dan video conference," katanya.

Baca juga: Gubernur Zulkieflimansyah undang pengusaha Malaysia investasi di NTB

Sedangkan Pemilik dan Direktur Eksekutif Cemara Ayu, Gusti Ayu Made Mudiasih, mengatakan WNI di seluruh dunia terkena dampak pandemi termasuk pelaku bisnis di Malaysia.

"Spa saya di Hotel Sri Pacific saya buka bulan Juli kemarin, tetapi karena beberapa hal, saya tutup akhir bulan Agustus. Sekarang saya sudah nggak ada outlet spa lagi, kami konsentrasi di hotel dan suplai produk spa," katanya.

Cemara Ayu merupakan pemasok produk spa dan asesoris untuk hotel, resort serta spa. Perusahaan ini juga melayani produk kecantikan dan kesehatan.

Sementara itu pengusaha Malaysia pemilik Busana Timoer Omar Arif mengatakan suplai produknya dari Indonesia tidak terlalu mengalami masalah namun dirinya tidak bisa pergi ke Indonesia.

Baca juga: Pengusaha Malaysia survei pasar di Singkawang

"Suplainya lumayan cuma saya tidak bisa melakukan quality control karena nggak boleh masuk ke Indonesia," katanya.

Dia mengatakan kalau tidak dilakukan kontrol kualitas sendiri kualitas produknya tidak terjamin. "Para penjahit juga banyak yang diberhentikan kerja makanya produksi juga agak terbatas," katanya.

Omar biasa mengambil baju muslim dan hijab dari Jakarta dan Bogor sedangkan batik diambil dari Solo dan Yogyakarta.

"Untuk waktu sekarang ini butik saya sudah tutup begitu juga beberapa outlet kecil. Jualan baju hanya ready made online saja. Saya beralih ke jualan bahan makanan halal di Penang. Lagi usaha juga untuk mendapatkan suplai dari Indonesia," katanya.

Baca juga: Pengusaha Malaysia Lirik WNI Agar Beli Properti di Penang


 

Pewarta: Agus Setiawan
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Waketum Kadin: UU Cipta Kerja jamin investasi di Indonesia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar