Perempuan pengusaha Yogyakarta ciptakan sabun dari minyak jelantah

Perempuan pengusaha Yogyakarta ciptakan sabun dari minyak jelantah

Yomi Windri Asni, pemilik UMKM Sabun Langis yang memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan bakunya dalam konferensi pers virtual, Selasa. (ANTARA/Lia Wanadriani Santosa)

Pada November 2018 mulai kami mengolah minyak jelantah, karena memang limbah minyak jelantah ini banyak
Jakarta (ANTARA) - Jika biasanya minyak jelantah (bekas pakai) dibuang begitu saja, di tangan Yomi Windri Asni bersama komunitas bank sampah di Yogyakarta, salah satu limbah rumah tangga itu diubah menjadi sabun.

Bukan sembarang sabun, melainkan sabun yang diklaim mampu membersihkan noda membandel di pakaian dan bisa digunakan untuk mencuci kain batik dengan pewarna alami dan tak akan memudarkan warnanya.

"Sangat cepat membersihkan noda, terutama noda yang membandel. Kemudian, karena tidak menggunakan deterjen, jadi aman untuk ibu yang sensitif terhadap deterjen, biasanya timbul rasa panas," ujar Yomi dalam konferensi pers virtual Program Pemberdayaan UMKM - Perempuan Wirausaha Tangguh dan Kreatif, Selasa.

Baca juga: Kominfo siapkan tiga program dukung UMKM selama pandemi

Baca juga: Bukalapak bahas teknologi program UMKM dengan Menkominfo


Yomi mengatakan, sabun kreasinya yang bernaung di bawah label Sabun Langis itu juga tidak menggunakan pemutih dalam pembuatannya sehingga lebih aman untuk lingkungan.

Kemudian, karena minyak jelantah mengandung cukup banyak asam lemak, Yomi yang berlatar belakang pendidikan ilmu kimia itu tidak menyarankan penggunaan sabun Langis untuk tubuh.

Yomi pun menceritakan mengenai awal mula ia menciptakan sabun dari minyak jelantah itu.

"Awalnya kami aktif dalam gerakan komunitas bank sampah. Pada November 2018 mulai kami mengolah minyak jelantah, karena memang limbah minyak jelantah ini banyak. Dalam satu bulan, di kegiatan bank sampah, kami bisa mengumpulkan sampai 40 liter minyak," tutur dia.

Lalu, dia memikirkan adakah upaya mengolah limbah ini agar tidak mencemari lingkungan namun memiliki nilai ekonomis. Perlahan dia mulai bereksperimen.

Dia membutuhkan waktu sekitar empat bulan untuk memformulasikan minyak jelantah menjadi sabun yang kini tersedia dalam bentuk batang dan cair.

"Upaya merisetnya butuh waktu empat bulan. Kemudian, kenapa sabun? Sebenarnya minyak jelantah sebagai bagian dari lemak yang menjadi bahan baku sabun. Proses produksi dua minggu hingga satu bulan," ujar Yomi.

Baca juga: Digitalisasi, solusi UMKM bertahan kala pandemi
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Bekerja dan belajar di rumah...adalah kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga. Mungkin selama ini yg jarang masak dan berkumpul bersama...akhirnya bisa membuat menu favorit dan terenak untuk disantap bersama keluarga. Bahkan ada yang rajin browsing, belajar dan mencoba berbagai menu dan resep baru..selain untuk mengisi kegiatan juga pasti lebih banyak manfaat yg diperoleh. Bahkan berbagai bisnis kuliner baru pun muncul mengisi kebutuhan di tengah pandemi. Kira kira minyak jelantah akan bertambah tidak? Menurut pengalaman pribadi saya sih iya???? bahkan bisa 3x lipat. Dalam minggu ini saja sya dikontak 2 pengusaha kuliner jajanan di kotagede untuk pengumpulan jelantah mereka. Yuk...bijak lingkungan...kumpulkan minyak jelantah mu. Sabun Cuci Baju Langis adalah produk sabun cuci yang ramah lingkungan hasil proses daur ulang dari minyak jelantah tersebut di atas "LANGIS" efektif bersihkan noda membandel tanpa tinggalkan rasa panas di tangan dan tetap merawat warna baju kesayangan Anda bahkan baju batik dengan pewarma alam sekalipun ???????????? Ingin tau lbh lanjut...ada di langis_soap http://wa.me/+6282225138411 http://bit.ly/Langissoap #sabun #sabuncair #sabunbatik #sabunramahlingkungan #sabunjelantah #zerowasteindonesia #banksampahindonesia #womanpreneurcommunity #buma #umkmjogja #umkmbantul

A post shared by langis sabun ramah lingkungan (@langis_soap) on



Berjualan online

Yomi termasuk salah satu pegiat UMKM yang terdampak pandemi COVID-19. Angka penjualan produknya turun signifikan hingga mencapai 50 persen.

Kemudian, beberapa waktu lalu dia berpartisipasi dalam Program Pemberdayaan UMKM - Perempuan Wirausaha Tangguh dan Kreatif hasil gagasan Tokopedia bersama Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) dan Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil-Mikro (ASPPUK).

Melalui program itu, dia diajak untuk mulai berjualan memanfaatkan e-commerce sebagai salah satu cara untuk bertahan di tengah pandemi COVID-19 dan meningkatkan pendapatannya.

"Dengan program, Alhamdulillah saya jadi mengenal platform digital, mulai ada penjualan, lalu kami ada pendampingan terus supaya volume penjualan bisa lebih optimal. Kami didampingi dari awal, membuat akun lalu memotret produk yang menarik, sampai menyelesaikan pesanan. Itu mudah sekali diikuti, jadi kami bisa langsung memanfaatkannya," tutur dia.

Baca juga: Ini yang harus dilakukan UMKM untuk bersaing dengan produk impor
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Tetap berupaya untuk menjual bersama2???????? Terima kasih Mami Irma Sustika atas support nya bergabung bersama di ZOOM. Semua bisa dilakukan dengan tetap stay di rumah. "LANGIS" Sabun Cuci Baju Langis sabun cuci baju yang terbuat dari proses daur ulang minyak jelantah. "LANGIS" sangat efektif bersihkan noda membandel, tanpa tinggalkan rasa panas di tangan dan tetap merawat warna baju kesayangan Anda bahkan untuk baju batik dengan pewarna alam sekalipun ???? Untuk pemesanan : http://wa.me/+6282225138411 http://bit.ly/Langissoap langis_soap #sabun #handmadesoap #minyakjelantah #sabuncair #sabunbatang #banksampah #ramahlingkungan #zerowaste #reducereuserecycle #pedulilingkungan #womanpreneurcommunity #buma

A post shared by langis sabun ramah lingkungan (@langis_soap) on


Deputy Director Asosiasi Perempuan Pengusaha Usaha Kecil (ASPPUK), Mohammad Firdaus, menyambut positif program tersebut karena bukan hanya memperkenalkan cara pemasaran daring pada para pelaku usaha, tetapi juga adanya pendampingan untuk mereka.

"Hampir di atas 50 persen, perempuan yang kami dampingi belum menggunakan media online sebagai sarana marketing. Program ini membuka, awal yang baik. Program ini memberi berkah saatnya pelaku usaha kecil mikro masuk dalam dunia pemasaran secara online," ujar dia.

Sabun Langis batang dibanderol Rp15 ribu per batangnya, sementara untuk sabun cair dia jual Rp25 ribu per botol dan sudah tersedia di salah satu e-commerce yang belakangan ini menjadikan grup idola K-pop Bangtan Sonyeondan (BTS) sebagai brand ambassador-nya itu.

Penjualan produknya kini justru paling banyak ke luar Yogyakarta seperti Jakarta dan Surabaya.

Dalam waktu dekat, Yomi berencana mengeluarkan produk sabun berbentuk bubuk karena menilai adanya pontensi pasar yang besar.

Baca juga: UMKM perempuan dan difabel digandeng ikut e-commerce, apa untungnya?

Baca juga: "Bangga Buatan Indonesia" diharapkan perkuat daya saing produk UMKM

Baca juga: Kominfo luncurkan situs basis data UMKM Indonesia

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar