Artikel

Budaya dan syiar pada pendaftaran Pilkada Sumenep

Oleh Abd Aziz

Budaya dan syiar pada pendaftaran Pilkada Sumenep

Dokumentasi - Pendaftaran peserta Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sumenep 2020. ANTARA/Abd Aziz

Pamekasan (ANTARA) - Pendaftaran peserta pilkada serentak sudah dilaksanakan pada tanggal 4—6 September 2020, tak terkecuali di Kabupaten Sumenep yang termasuk satu di antara 224 kabupaten yang gelar pilkada, 9 Desember mendatang.

Bahkan, pendaftaran bakal pasangan calon bupati dan wakil bupati di kabupaten paling timur di Pulau Madura ini hanya dalam 2 hari, 4—5 September, sedangkan pada hari terakhir, 6 September, tanpa pendaftar.

Bakal Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Sumenep Achmad Fauzi dan Dewi Khalifah merupakan bakal pasangan calon yang mendaftar pertama, Jumat (4/9), ke KPU di Kota Keris ini.

Pasangan yang diusung oleh PDIP dengan jumlah perwakilan di DPRD sebanyak 5 kursi, Partai Gerindra 6 kursi, Partai Amanat Nasional (PAN) 6 kursi, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 2 kursi, dan Partai Bulan Bintang (PBB) 1 kursi tiba di Kantor KPU Kabupaten Sumenep sekitar pukul 14.40 WIB.

Pada hari kedua, Sabtu (5/9), pasangan Fattah Jasin dan K.H. Ali Fikri mendaftar sebagai peserta pilkada ke KPU setempat.

Mereka diusung oleh lima partai politik dengan total perolehan kursi di DPRD sebanyak 30 kursi, yakni Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 10 kursi, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 7 kursi, Partai Demokrat 7 kursi, Partai Hanura 3 kursi, dan Partai Nasional Demokrat (NasDem) 3 kursi tiba di Kantor KPU Kabupaten Sumenep sekitar pukul 10.02 WIB.

Baca juga: Dua tokoh pesantren berebut dukungan massa di Pilkada Sumenep

Meski kedua bakal pasangan calon ini mendaftar pada hari yang berbeda, ada kesamaan dari sisi jenis kegiatan mereka.

Pertama, bakal pasangan calon ini sama-sama berangkat dari masjid jamik Sumenep, yang merupakan masjid bersejarah dan pada masa Kerajaan Sumenep.

Kedua, mereka melakukan ziarah kubur, dan istigasah di Makam Asta Tinggi yang merupakan makan raja-raja Sumenep sebelum mendaftar ke KPU setempat.

Ketiga, gema takbir dan pembacaan selawat nabi sama-sama mewarnai momen pendaftaran masing-masing bakal pasangan calon.

Tak banyak yang disampaikan bakal pasangan calon maupun tim pengusung terkait dengan rangkaian kegiatan saat pendaftaran berlangsung, selain ungkapan rasa percaya diri bahwa mereka akan meraih dukungan dari mayoritas calon pemilih di Kabupaten Sumenep pada hari-H pemungutan suara, 9 Desember mendatang.

Selain itu, dukungan dari banyak tokoh berpengaruh, ulama pondok pesantren, dan elemen organisasi keagamaan dan kemasyarakatan menjadi dasar bagi keduanya bisa menjadi pemenang pada pesta demokrasi 5 tahunan tersebut.

Baca juga: KPU sebut tahapan pilkada Sumenep tak terganggu Corona

Membentuk Makna

Meski rangkaian kegiatan mereka mewarnai pendaftaran tidak dijelaskan secara detail, interaksi simbolik yang terwujud dari kegiatan itu telah membentuk makna.

Akademisi dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura Hannan menilai serangkaian kegiatan dari masing-masing calon peserta pilkada saat mendaftar ke KPU tersebut secara sosiologis memiliki dua makna penting yang mencerminkan strategi pemasaran politik mereka.

Pertama, sama-sama hendak menunjukkan bahwa mereka adalah pasangan bakal calon yang merepresentasikan jati diri masyarakat Sumenep yang selama ini kental dengan keagamaan.

Kesan yang ingin disampaikan kepada para calon pemilih (voters) bahwa mereka merupakan pasangan ideal yang lahir dari kultur keagamaan dan memiliki semangat politik pembangunan yang akan memperhatikan nilai-nilai keagamaan lokal.

Kedua, selain pada simbol keagamaan, hal lain yang ingin ditunjukkan oleh mereka adalah pada penggunaan tradisi atau kebudayaan yang sifatnya lokal.

Dari empat kabupaten di Pulau Madura, kata dosen Sosiologi Politik ini, Sumenep memang dikenal sebagai daerah dengan aneka budaya, tradisi, dan ritual keagamaan yang paling beragam.

"Fakta ini sepertinya juga telah masuk dalam pertimbangan politik mereka. Lagi-lagi, kedua bakal paslon ini sama-sama hendak menegaskan jika mereka adalah cerminan ideal masyarakat Sumenep," kata Hannan.

Baca juga: Di Sumenep partisipasi pemilih diperkirakan hanya 60 persen

Dalam konteks ini, Hannan berupaya menggambarkan maksud terpendam dari dua jenis perilaku yang sama dari komunitas yang berbeda tersebut, yakni bakal pasangan calon Fauzi-Eva dan Fattah-KH Ali Fikri, akan pentingnya makna bagi prilaku manusia.

Konsep yang digali dari teori komunikasi interaksi simbolik adalah berpijak pada kaidah dasar bahwa individu membentuk makna melalui proses komunikasi.

Dalam pandangan teori yang digagas oleh Herbert Blummer ini, salah satu asumsinya menyebutkan bahwa manusia bertindak terhadap manusia lain, berdasarkan makna yang diberikan orang kepada mereka.

Sementara itu, masyarakat Sumenep dan Madura pada umumnya telah memberikan makna kepada dua tokoh pesantren yang sama-sama akan bersaing pada pilkada, yakni K.H. Ali Fikri yang menjadi bacawabup Fattah Jasin dan Hj. Dewi Khalifah yang menjadi bacawabup Achmad Fauzi sebagai sosok agamis, merupakan pengasuh pondok pesantren dan berlatar belakang ormas keagamaan yang menganut paham Aswaja (Ahlus Sunnah Wal-Jamaah).

Namun, terlepas dari rentetan kegiatan politik yang mereka lakukan saat mendaftar, Hannan berharap mereka berkompetisi dalam panggung yang lebih populis dan elegan, seperti tentang kesejahteraan, pengenalan kemiskinan, dan pemberdayaan sumber daya alam (SDA).

"Sumenep dikenal sebagai daerah dengan SDA melimpah. Kita berharap mereka akan lebih banyak melakukan perang gagasan dan program di sektor ini," katanya.

Baca juga: KPU Sumenep usulkan anggaran Pilkada 2020 Rp66 miliar

Paradigma Kebudayaan

Budayawan Sumenep Ibnu Hajar menilai rangkaian kegiatan politik kedua bakal pasangan calon saat mendaftar ke KPU Kabupaten Sumenep menunjukkan bahwa kedua memiliki kepedulian tentang fondasi atau akar kebudayaan Madura.

"Mereka sama. Stigma mereka di antara kedua bakal pasangan calon itu sama. Mereka berangkatnya sama, yakni berangkat dari masjid. Masjid itu dibangun pada masa Penembahan Somala, kemudian ziarah ke Asta Tinggi," katanya.

Dalam paradigma kebudayaan, menurut Ibnu, keduanya menunjukkan komitmen bahwa mereka ingin membangun sebuah dinamika kebudayaan baru dalam dinamika politik, lebih-lebih bagi warga Sumenep.

"Saya justru lebih berpikir mereka ingin menarik simpati dari sebuah paradigma kebudayaan yang dimiliki masyarakat Sumenep, terutama masyarakat Madura, karena berangkat dari akar religiositas yang kuat," katanya.

Baca juga: Partisipasi pemilih Pamekasan lebih tinggi dari Bangkalan-Sumenep

Asumsi ini misalnya dapat dilihat dari serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh kedua bakal pasangan calon, baik pasangan Achmad Fauzi-Dewi Khalifah maupun pasangan Fattah Jasin-K.H. Ali Fikri.

Pertama, startnya dari masjid jamik; Kedua, mereka memiliki keyakinan bahwa ziarah kubur atau ziarah ke makam raja-raja adalah bagian dari upaya yang harus dilakukan demi untuk mencapai keinginan atau cita-cita luhur yang diinginkan.

"Saya tidak menganggap ini sesuatu yang aneh. Akan tetapi, memang seperti inilah dinamika kebudayaan yang harus mereka bangun," kata Ibnu.

Oleh karena itu, setiap pergantian kepemimpinan, entah itu kepala daerah atau kepala desa, banyak di antara warga Sumenep yang berharap dapat berkah dari orang-orang saleh atau yang dikenal dengan istilah "ngalap berkah".

Lebih-lebih di Asta Tinggi itu memang ada kuburan Sultan Abdurrahman, yakni Raja Sumenep yang dikenal cerdas secara intelektual dan spritual oleh warga Sumenep dan Madura pada umumnya. Apalagi, Sultan Abdurrahman dikenal sebagai kontributor ketiga Gubernur Jenderal Raffles menulis buku berjudul "History of Java".

Baca juga: KPU Sumenep investigasi laporan penganiayaan terhadap Pengawas Pemilu

Berbeda dengan pandangan akademisi IAIN Madura Hannan Ibnu Hajar. Dia beranggapan bahwa gema takbir dan selawat yang mengiringi pendaftaran mereka sebagai peserta pilkada itu sebagai upaya membangun paradigma baru dalam dinamika kebudayaan berpolitik, bukan tradisi keagamaan.

"Ini adalah bagian dari cara menarik simpati calon pemilih. Mungkin selama ini kampanye dengan pemaparan program dan janji-janji politik sudah dinilai kurang begitu laku di pasaran," kata Ketua Tim Pembuat Maskor dan Jargon KPU Sumenep ini.

Terkait dengan penggunaan pakaian adat Madura, yakni baju Pesak yang digunakan oleh semua anggota KPU Kabupaten Sumenep saat menerima pendaftaran bakal pasangan calon, Ibnu Hajar menilai sebagai bentuk penghargaan sekaligus melestarikan budaya Madura.

Ibnu Hajar juga berharap momentum pemilihan kepala daerah di Sumenep ini akan menjadi momen penting dalam banyak hal. Tidak hanya pada kegiatan politik semata, tetapi juga pada upaya melestarikan seni dan budaya Madura.

Keinginan dari masing-masing bakal pasangan calon untuk membangun paradigma kebudayaan baru dalam berpolitik dengan memperhatikan kultur dan tradisi baik yang berkembang di Madura, khususnya di Kabupaten Sumenep, patut diapresiasi.

Baca juga: KPU Sumenep doa bersama untuk pilkada damai

Selain itu, kata anggota KPU Sumenep Rafiqi, bersaing untuk memperebutkan dukungan masyarakat secara sehat, medidik, dan mencerahkan.

Hal ini tentu menjadi harapan semua elemen masyarakat bahwa pilkada di Sumenep berkualitas, kondusif, dan akuntabel.

Oleh Abd Aziz
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar