Apindo: Industri Batam sulit terapkan "local value chain"

Apindo: Industri Batam sulit terapkan "local value chain"

Ketua Apindo Batam Rafki Rasyid (Dok BI Kepri)

Kami mendukung 'local value chain,' tapi bahan baku lokal sulit memenuhi spek.
Batam (ANTARA) - Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam Rafki Rasyid menyatakan industri setempat sulit menerapkan "local value chain" sebagai langkah mempercepat pemulihan ekonomi akibat pandemi COVID-19.

"Kami mendukung 'local value chain,' tapi bahan baku lokal sulit memenuhi spek," kata Rafky di Batam, Kepulauan Riau, Kamis.

Ia mencontohkan, spek garam industri saja belum bisa dipenuhi dalam negeri.

Baca juga: BI dan Apindo optimistis ekonomi Kepri triwulan III-2020 membaik

Selain itu, biaya transportasi dari daerah lain di Indonesia ke Batam juga relatif lebih besar dibandingkan mengirim bahan baku dari Singapura, yang lokasinya lebih dekat ke kota industri itu.

"Permasalahan transportasi. Biaya pengiriman dari Singapura yang dekat, dibandingkan ketika kita memesan bahan baku dari Jawa yang jauh," kata dia.

Hal itu, lanjut Rafky, yang menjadi penghalang pembentukan "local value chain".

Baca juga: Pulihkan ekonomi, Apindo minta kendalikan dulu penyebaran COVID-19

Meski begitu, menurut dia, industri di Batam dan Kepri masih bisa menerapkannya dengan memanfaatkan produksi UMKM setempat, untuk menekan biaya.

Dalam kesempatan yang sama, BI Kepri mendorong penguatan 'local value chain' untuk mengurangi ketergantungan impor.

Hal itu disampaikan kata Kepala Perwakilan BI Kepri, Musni H K Atmaja terkait upaya memulihkan ekonomi Kepulauan Riau yang menurun akibat pandemi COVID-19.

"Dalam jangka panjang mengembangkan industri berbasis sumber daya alam lokal dan mendorong penguatan 'local value chain' untuk mengurangi ketergantungan impor," kata dia.
 

Pewarta: Yuniati Jannatun Naim
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar