Makin berumur ada risiko tak sanggup lagi makan pedas

Makin berumur ada risiko tak sanggup lagi makan pedas

Ilustrasi (Pixabay)

Beberapa efek samping dari obat-obatan ini juga dapat mengiritasi saluran pencernaan dan membuat pasien lebih sensitif terhadap efek makanan pedas
Jakarta (ANTARA) - Belum lama berselang ketika menyeruput mie pedas setiap minggu atau menyantap penganan dengan level pedas tingkat tinggi bahkan tidak mengganggu Anda--atau sistem pencernaan sedikit pun.

Namun, seiring bertambahnya usia, Anda bahkan mungkin harus mempertimbangkan kembali menyantap hidangan pedas jika tidak ingin langsung ke kamar mandi setelahnya.

Ini bukan semata perkara bibir, lidah, dan mulut yang merasa "tertendang" saat Anda makan sajian pedas.

Tetapi juga ada reseptor di seluruh saluran gastrointestinal (GI) yang dapat mendeteksi capsaicin, bahan kimia dalam cabai, paprika, dan berbagai bahan pedas, menciptakan sensasi terbakar, kata Dr. Andrew Ong, konsultan di Departemen Gastroenterologi & Hepatologi di Singapore General Hospital.

Baca juga: Cara "dinginkan" lidah setelah makan makanan pedas

Inilah alasan Anda mungkin merasakan sakit perut, diare, dan sensasi panas di perut dan bahkan rasa seperti terbakar di anus sehari setelah makan malam dengan hidangan pedas.

Diare terjadi karena reseptor pendeteksi capsaicin juga ditemukan di usus kecil serta usus besar dan reseptor ini juga dapat merasakan sensasi seperti terbakar.

Sebagai mekanisme pertahanan, reseptor bekerja keras untuk mengeluarkan makanan pedas dari Anda dengan cepat.

Tetapi karena material limbah bergerak sangat cepat melalui usus besar, maka usus tidak ada cukup waktu untuk melakukan tugasnya yakni menyerap air dari limbah. Hasilnya, feses encer yang dikenal sebagai diare.

Baca juga: Diare usai lebaran? Pastikan cairan tubuh terjaga

Alasan diare usai makan pedas

Orang berusia menengah lebih cenderung memulai pengobatan untuk penyakit kronis seperti kolesterol dan tekanan darah tinggi.

“Beberapa efek samping dari obat-obatan ini juga dapat mengiritasi saluran pencernaan dan membuat pasien lebih sensitif terhadap efek makanan pedas," kata Ong seperti dilansir Channel News Asia.

Kedua, jika Anda bagian dari Generasi Sandwich, Anda mungkin berada dalam tekanan. Ini bisa menjadi alasan Anda lebih mungkin sakit perut bahkan dengan sedikit sambal.

“Penelitian menunjukkan, stres menurunkan ambang nyeri pada saluran pencernaan. Jadi, pasien yang mengalami situasi stres lebih cenderung merasakan gejala,” tutur Ong.

Kemungkinan lainnya, bisa jadi kurang terpapar makanan pedas bertahun-tahun dan karena itu memiliki toleransi yang lebih rendah saat mengonsumsinya.

Baca juga: Pentingnya pilih sambal dengan tingkat pedas yang pas

Apa solusinya?

Pengobatan terbaik konsumsi makanan pedas secukupnya, terutama jika Anda mengalami gejala parah usai menyantapnya.

Jika ketidakmampuan Anda mentolerir cabai karena tak terbiasa, berikan tubuh Anda waktu untuk beradaptasi lagi.

“Anda mungkin bisa menurunkan kepekaan diri dengan mengonsumsi makanan pedas secara teratur selama beberapa waktu; ini, bagaimanapun, tergantung pada toleransi Anda terhadap gejala yang muncul," saran Ong.

Perlukah antasida untuk mengatasi luka bakar di usus? Beberapa penelitian menunjukkan, capsaicin dapat mendorong produksi asam di perut dan hanya ada sedikit bukti antasida membantu.

Meskipun efek menenangkan dari antasida dapat membantu mengurangi beberapa ketidaknyamanan.

Anda mungkin lebih baik minum obat seperti omeprazole untuk mengurangi produksi asam. Tapi obat ini bekerja paling baik hanya jika diminum setengah jam sebelum makan, kata Ong.

Baca juga: Usai sakit lambung boleh makan pedas lagi? ini kata dokter

Baca juga: Benarkah makan pedas sebabkan maag?

Baca juga: Menyantap makanan pedas saat menyusui, anak tidak pilih-pilih makan

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar