Pengamat: Intelsus Rajawali bukan pasukan khusus

Pengamat: Intelsus Rajawali bukan pasukan khusus

Pengamat militer dan intelijen, Susaningtyas NH Kertopati. (ANTARA/Dok pribadi)

Intelsus Rajawali bukan pasukan khusus, namun taruna/taruni dan para agen lulusan STIN dan Seno (BIN) yang terpilih dididik untuk memiliki kemampuan Intelsus termasuk kemampuan intelijen tempur (Intelpur)
Jakarta (ANTARA) -
Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati berpendapat intelijen khusus (Intelsus) "Rajawali" yang dimiliki oleh Badan Intelijen Negara (BIN) bukan merupakan pasukan khusus, seperti video yang beredar di dunia maya.
 
"Intelsus Rajawali bukan pasukan khusus, namun taruna/taruni dan para agen lulusan STIN dan Seno (BIN) yang terpilih dididik untuk memiliki kemampuan Intelsus termasuk kemampuan intelijen tempur (Intelpur)," kata Susaningtyas, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Minggu.
 
Mereka, lanjut dia, nantinya dikirim ke tempat penugasan melaksanakan operasi intelijen penting memiliki kemampuan dalam menghadapi ancaman.

Baca juga: Legislator: Informasi BIN bentuk pasukan khusus tidak benar

Baca juga: Kepala BIN: STIN buka prodi baru hadapi tantangan pandemi
 
"Jangan sampai saat hadapi kelompok bersenjata tak paham mengatasinya. Contohnya di Papua yang memiliki titik wilayah gawat (red spot)," ucapnya.
 
Dengan pertimbangan ancaman dan medan tugas yang akan dihadapi di Papua tersebut, kata dia, mereka perlu dibekali kemampuan intelsus dan intelpur sehingga lebih siap pada saat bergabung dengan satgas TNI/Polri.
 
"Seharusnya masyarakat bangga siswa STIN memiliki soft skill yang hebat," ujar wanita yang biasa disapa Nuning ini.
 
Dikatakannya, dalam Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara yang menyebut Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) sebagai pemasok sumber daya manusia (SDM) utama untuk BIN.
 
Oleh karenanya, menurut Nuning, STIN terus mengembangkan pendidikan serta pelatihan untuk mencapai tujuan agar BIN dapat mencapai kemampuan intelijen berkelas dunia.
 
"Siswa STIN pantas dan harus memiliki keterampilan, seperti ahli bela diri, siber, dan keahlian forecasting, dan lain-lain. Nuning menyatakan, keahlian seperti itu diperlukan kelak ketika mereka terjun di lapangan. Hal ini menunjukkan intelijen kita tidak kalah dengan 11 badan Intelijen terbaik dunia, seperti MI6, CIA, GRU, DGSE, ISI, Mossad, CSIS, BND, ASIS, R&AW, dan MSS China yang hebat," papar Nuning.
 
Apalagi, tambah mantan anggota Komisi I DPR RI ini, akan ada kedeputian baru yang membidangi ASN. Kedeputian baru ini juga harus memiliki tenaga-tenaga ahli di bidang psikiatri dan psikologi forensik yang paham tentang ilmu perilaku atau profilling, sosiolog yang memahami perilaku sosial aparatur negara.
 
Nuning berharap pro dan kontra yang muncul terkait pasukan Rajawali bisa menjadikan BIN semakin kuat dan profesional.
 
"Negara tangguh bila Intelijen-nya kuat. Era kepemimpinan Jendral Pol (Purn) Prof Budi Gunawan banyak kemajuan dicapai terutama pengembangan SDM dan teknologinya," ujarnya.
 
Sebelumnya dalam video yang viral di media sosial, BIN menampilkan atraksi pasukan khusus bernama Rajawali. Pasukan khusus dengan senjata laras panjang tersebut beraksi saat Inaugurasi Peningkatan Statuta STIN di Plaza STIN, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (9/9).

Baca juga: Puan resmikan patung Bung Karno di STIN

Baca juga: Puan Maharani dukung intelijen Indonesia berkelas dunia

Pewarta: Syaiful Hakim
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pasukan khusus TNI tiba di Kota Palu, siap buru pelaku teror Sigi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar