Batasi pergerakan selama pandemi, warga Yangon pasang barikade

Batasi pergerakan selama pandemi, warga Yangon pasang barikade

Pendeta Burma-Kanada, David Lah, yang dituduh menggelar misa keagamaan di tengah larangan pemerintah Myanmar yang memberlakukan pembatan sosial dan penutupan tempat ibadah salama wabah virus corona (COVID-19), tiba di pengadilan di Yangon, Myanmar (3/6/2020). ANTARA/REUTERS/Shoon Lei Win Naing/aa.

Yangon (ANTARA) - Sejumlah kelompok masyarakat di Kota Yangon, Myanmar, pada Jumat malam (11/9) memasang barikade dari batang kayu dan lembaran seng demi membatasi aktivitas di sekitar permukiman setelah kasus positif COVID-19 kembali bertambah.

Pemerintah Myanmar melaporkan 2.625 orang positif tertular COVID-19 dan 15 di antaranya meninggal dunia.

Jumlah pasien COVID-19 di Myanmar naik empat kali lipat virus corona kembali mewabah di Negara Bagian Rakhine pada pertengahan Agustus.

Wabah itu mengakhiri status bebas penularan lokal di Myanmar yang sempat berlangsung selama beberapa minggu.

Banyak kasus COVID-19 baru di Myanmar ditemukan di Yangon, kota terbesar yang menjadi pusat dagang.

Warga di beberapa kompleks permukiman pun memasang barikade untuk mencegah orang bebas keluar masuk daerah tempat tinggal mereka.

Otoritas di Yangon minggu lalu menyiarkan surat edaran yang meminta warga tetap berada di rumah. Layanan penerbangan dan bis di Yangon juga diberhentikan sementara.

Kepala Distrik di Kyimyidaing, Aung Zaw Min, yang menjaga barikade itu, mengatakan banyak penduduk tidak memperhatikan pentingnya mencegah penyebaran COVID-19 mengingat jumlah pasien positif di Myanmar sempat rendah.

“Saat ini kita harus menyadari bahwa wabah di Sittwe tidak boleh dianggap ringan,” kata dia. Sittwe merupakan ibu kota Rakhine, pusat penyebaran kasus COVID-19 baru di Myanmar.

Barikade tersebut dipasang secara mandiri oleh masyarakat, tanpa izin dari otoritas setempat. Pemerintah pun memerintahkan barikade-barikade berukuran besar segera disingkirkan, meskipun pada Sabtu (12/9) masih ada beberapa yang tersisa.

Sejumlah pengguna media sosial mengejek pemasangan barikade dan menyebut penghalang itu membuat kawasan pemukiman seperti “negara kecil”.

“Barikade itu seperti pagar pembatas antara Korea Selatan dan Korea Utara,” kata Lu Zaw Oo, yang ditemui di jalanan permukiman warga yang telah ditutup, Sabtu.

“Barikade ini tidak seharusnya dipasang,” kata dia.

Kementerian Kesehatan menyebut 124 dari total 180 pasien positif baru berada di Kota Yangon.

Sumber: Reuters

Baca juga: Myanmar tutup ibu kota di tengah gelombang virus

Baca juga: Infeksi COVID-19 di Myanmar meningkat, Thailand perketat perbatasan

Baca juga: Myanmar kembali terapkan 'lockdown', oposisi seru penundaan pemilu


 

Indonesia desak Myanmar selesaikan akar masalah pengungsi Rohingya

 

Penerjemah: Genta Tenri Mawangi
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar