Telaah

COVID-19 di Gaza, berjuang hadapi dua gempuran

Oleh Andi Jauhary

COVID-19 di Gaza, berjuang hadapi dua gempuran

Tenda darurat untuk tempat isolasi warga yang terinfeksi positif COVID-19 didirikan di depan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina sejak Agustus 2020 karena keterbatasan tempat  isolasi di Gaza. (FOTO ANTARA/HO-MER-C Indonesia)

Kondisi ini, mewajibkan negara-negara dunia dan yayasan kemanusian internasional --termasuk Indonesia-- untuk menjawab panggilan darurat dari Gaza, melalui bantuan cepat berupa makanan, air bersih dan bahan sterilisasi serta bantuan lainnya
Jakarta (ANTARA) - "Alhamdulillah sukarelawan kita yang masih bertahan untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza, Palestina tidak ada yang terinfeksi COVID-19".

Informasi itu dikabarkan Site Manager pembangunan tahap II Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Jalur Gaza Ir Edi Wahyudi melalui Ketua Presidium Organisasi Kegawatdaruratan Kesehatan "Medical Emergency Rescue Committee" (MER-C) Indonesia dr Sarbini Abdul Murad terkait perkembangan terakhir kasus COVID-19 di wilayah itu.

Hingga sebelum COVID-19 ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai pandemi, Jalur Gaza, wilayah kantong yang hingga kini masih diblokade oleh zionis Israel sudah mengalami krisis kesehatan, kemanusiaan, dan ekonomi.

Akibatnya, kini, dengan adanya penularan COVID-19 yang juga melanda Gaza, ada tambahan "gempuran" lagi, karena sebelumnya -- an bahkan sampai saat ini-- gempuran serangan dari tentara zionis Israel pun menjadi ancaman setiap saat.

Derita warga Gaza pun masih belum berkesudahan, terlebih dengan pandemi yang kini juga melanda kawasan yang juga berbatasan dengan Mesir itu.

Peningkatan positif COVID-19 di Gaza kini terus bertambah.

Pejabat kesehatan di Gaza pada Rabu (26/8) mengatakan 26 orang di beberapa lokasi dinyatakan positif COVID-19 dan dua pasien meninggal.

Ketua Presidium MER-C Sarbini Abdul Murad mengonfirmasi beberapa dokter dan perawat yang bekerja di RSI di Gaza terinfeksi positif COVID-19.

Mereka adalah dr Abdullah Hasumi (ahli jantung), dr Hisyam Abu Jahlum (ahli penyakit dalam), Hakim Haitsam (perawat), Aslam Ghaban (tenaga kebersian/qismul iyanah).

Akibatnya, sukarelawan MER-C yang sebagian besar dari divisi konstruksi untuk sementara tidak melakukan pekerjaan lanjutan guna mencegah penularan.

Atas kondisi tersebut, 22 sukarelawan asal Indonesia di RSI diisolasi dan dikarantina mandiri di Wisma Dr Joserizal Joernalis di Gaza Palestina lantai 3 gedung RSI yang belum selesai pengerjaannya.

Baca juga: Infeksi COVID-19 menyebar, karantina wilayah di Gaza diperpanjang

Tenda isolasi

Lantai 3 RSI akhirnya dijadikan tempat isolasi para tenaga kesehatan yang terinfeksi.

Dalam waktu kurang dari 24 jam sudah dalam pantuan 22 orang dan di RSI empat orang positif COVID-19 dan dua orang di RS Rantisi.

Pekerjaan proyek RSI tahap II dihentikan sejak ditemukan satu keluarga di luar karantina terinfeksi COVID-19 pada Selasa, 25 Agustus 2020.

Petugas kesehatan di RSI bekerja keras terus menerus siang dan malam selama 24 jam menerima dan memeriksa orang-orang yang berinteraksi dengan korban COVID-19 di luar karantina.

Sudah empat orang yang positif dirawat dan satu meninggal di RS Indonesia sehingga pemeriksaan intensif dilakukan di RSI, di mana petugas pengamanan dan kru ambulans juga dilengkapi pakaian khusus dari kepala hingga telapak kaki terbungkus.

Hingga saat ini, menurut Sarbini Abdul Murad, pemeriksaan intensif 24 jam masih terus berlangsung.

Bahkan, di depan RSI juga didirikan tenda darurat untuk tempat isolasi karena keterbatasan tempat isolasi di Gaza.

Dalam perkembangan terbaru hampir seluruh lantai 3 sudah diminta pihak RSI untuk menempatkan tenaga medis yang tidak pulang selama bertugas.

Pihak RSI terpaksa meminta menyediakan dua ruangan untuk dokter jaga menginap di lantai 3 yang sudah siap fisik dan airnya meski belum ada sama sekali peralatan furnitur yang tersedia.

Kondisi tidak memadainya layanan kesehatan di Gaza --bahkan sebelum pandemi COVID-19 pun-- adalah fakta.

Kepala Subdelegasi Gaza dari Komite Internasional Palang Merah Ignacio Casares Garcia seperti dikutip Reuters, mengonfirmasi kondisi itu, dengan menyebut rumah sakit dan pusat kesehatan di wilayah tersebut tidak memiliki peralatan medis dan obat yang memadai untuk perawatan pasien COVID-19.

Seraya menyerukan lebih banyak bantuan internasional, ia menambahkan sistem perawatan kesehatan Gaza disebutnya "tidak akan dapat menangani lebih dari beberapa lusin pasien virus corona".

Baca juga: Gaza "lockdown" usai kasus COVID-19 pertama di luar pusat karantina

Butuh uluran tangan

Sukarelawan Indonesia yang menetap di Jalur Gaza Abdillah Onim saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Ahad (13/9) --dengan merujuk keterangan yang dikeluarkan oleh badan resmi pemerintahan di Gaza-- menjelaskan COVID-19 di salah satu wilayah Palestina tersebut saat ini berstatus "awas".

Total korban sejak awal pandemi yang telah mencapai 1.151 orang, maka angka itu terhitung tinggi jika dibandingkan dengan total warga Gaza yang hanya berjumlah dua juta orang.

Dari jumlah itu, 89 orang di antaranya berhasil sembuh dan delapan orang meninggal dunia.

Di antara total korban, 843 di antaranya sedang dirawat di sejumlah rumah sakit, yakni Rumah Sakit European Gaza, Rumah sakit Ash-Shadaqah Turki, dan RS Indonesia, sedangkan 369 lainnya ditempatkan di 14 pusat karantina, terdiri atas tempat karantina khusus, hotel, gedung sekolah, dan berbagai tempat lainnya yang dijadikan tempat penampungan korban.

Di sisi lain, kebijakan "lockdown" yang terpaksa diambil oleh pemerintah sejak 24 Agustus membuat angka kemiskinan di Gaza bertambah parah.

Sebagian besar warga Gaza adalah buruh kasar dengan pendapatan kecil, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga satu hari.

Kondisi ini, mewajibkan negara-negara dunia dan yayasan kemanusian internasional --termasuk Indonesia-- untuk menjawab panggilan darurat dari Gaza, melalui bantuan cepat berupa makanan, air bersih dan bahan sterilisasi serta bantuan lainnya.

Di samping itu, yang mendasar adalah bantuan kesehatan seperti obat-obatan, peralatan medis, dan perlengkapan laboratorium.
Anak-anak di Jalur Gaza, Palestina di saat pandemi COVID-19 tetap belajar di tengah krisis listrik yang terjadi di kawasan tersebut dengan menggunakan lilin. (FOTO ANTARA/HO-Abdillah Onim)


Situasi itu kian diperparah dengan krisis air minum, krisis listrik, krisis obat-obatan, krisis alat perlindungan diri (APD), dan tes cepat, sehingga mayoritas warga dari keluarga miskin itu kini harus tetap di rumah tanpa persediaan makanan.

Untuk itu, sejak "lockdown" total atas wilayah Gaza, hingga kini rakyat Indonesia melalui Lembaga Kemanusiaan Nusantara Palestina Center (NPC) yang dibentuk oleh Abdillah Onim telah dan sedang menyalurkan bantuan makanan bagi pasien dan tim dokter di beberapa rumah sakit di Gaza.
Donasi dari rakyat Indonesia melalui Lembaga Kemanusiaan Nusantara Palestina Center (NPC) yang dibentuk oleh Abdillah Onim telah dan sedang menyalurkan bantuan makanan bagi pasien dan tim dokter di beberapa rumah sakit di Gaza, Palestina yang menangani pasien COVID-19. (FOTO ANTARA/HO-Abdillah Onim)


Di antaranya RS Syifa Gaza City, RS Bait Hanoun dan RSI di Gaza Utara, di mana proses penyaluran bantuan oleh NPC itu dilakukan berkoordinasi dengan pihak Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza.

Melalui donasi dari rakyat Indonesia, NPC juga menyalurkan 500 ribu liter air minum dan distribusi makanan senilai Rp300 juta dan sembako senilai Rp200 juta.

Onim juga tetap mengharapkan agar rakyat dan Muslim di Indonesia tetap bersemangat mengulurkan tangan membantu Palestina, terutama dalam situasi kini di mana puncak terpuruknya warga Gaza akibat pandemi.

"Gempuran" ganda yang kini dirasakan warga Gaza, Palestina itu, khususnya di saat pandemi, butuh uluran tangan siapapun untuk bantuan kemanusiaan universal.

Siapapun bisa memberikan iuran bagi kemanusiaan itu melalui donasi, baik melalui MER-C Indonesia melalui Program Amanah Pembangunan Tahap 2 RS Indonesia di Gaza, Palestina pada sejumlah rekening, yakni Bank Central Asia (BCA) nomor 686.0153678, Bank Mandiri nomor 124.000.8111.925, Bank Syariah Mandiri (BSM) nomor 700.1352.061, Bank Negara Indonesia Syariah (BNI Syariah) nomor 081.119.2973, Bank Muamalat Indonesia (BMI) nomor 358.000.1720 dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) nomor 033.501.0007.60308.

Kemudian, Program Amanah Kemanusiaan di Gaza, Palestina melalui Bank Central Asia (BCA) nomor 686.033.5555, Bank Mandiri nomor 124.000.3753.754 dan Bank Syariah Mandiri (BSM) nomor 700.290.5803.

Sedangkan untuk Nusantara Palestina Center (NPC) bisa melalui BNI Syariah Cabang Jakarta Timur dengan nomor rekening 690000 9097, BNI Cabang Kramat dengan nomor 69000 90089 atas nama Yayasan Nusantara Palestina Center, dan BNI CabangKramat 69000 90001 atas nama Abdillah Onim.

Baca juga: Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza tetap berlanjut saat pandemi
Baca juga: Di tengah COVID-19, Dubes RI sapa WNI aktivis kemanusiaan di Gaza

Oleh Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Seorang Palestina memelihara dua anak singa di atap rumahnya

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar