P2TP2A Lebak kecam pembunuhan anak dilakukan ibu kandung

P2TP2A Lebak kecam pembunuhan anak dilakukan ibu kandung

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Lebak mengecam keras pembunuhan anak dilakukan ibu kandung sendiri dengan cara menguburkan jasadnya di tempat pemakaman umum (TPU) Desa Cipalabuh Kecamatan Cijaku, Lebak.

Lebak (ANTARA) - Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Lebak, Banten, mengecam keras pembunuhan anak dilakukan ibu kandung dengan cara menguburkan jasadnya di tempat pemakaman umum (TPU) Desa Cipalabuh Kecamatan Cijaku.

"Kami mengecam kasus pembunuhan yang dilakukan ibu kandung terhadap anaknya sendiri itu," kata Anggota P2TP2A Kabupaten Lebak Siti Nurasiah di Lebak, Senin.

Pembunuhan anak kandung itu tentu cukup memprihatinkan, karena pelakunya tidak lain ibu kandung sendiri dan dibantu suaminya untuk menguburkan jasadnya.

Baca juga: Polres Lebak tangkap pembunuh anak

Meskipun kedua pelaku itu warga Jakarta, tetapi begitu sadis perilaku mereka yang tega menghabisi nyawa buah kesayangannya sendiri.

Karena itu, pihaknya mengoptimalkan kegiatan sosialiasi pencegahan kekerasan terhadap anak maupun perempuan.

Dia mengungkapkan, kekerasan anak di Kabupaten Lebak juga cenderung meningkat hingga mencapai 50 kasus per tahun dan kebanyakan kekerasan pelecehan seksual.

"Kami terus melakukan sosialisasi dan mendampingi secara hukum maupun konseling kepada anak-anak yang mengalami korban kekerasan," katanya.

Menurut dia, fenomena kekerasan yang dilakukan terhadap anak dilatarbelakangi berbagai faktor di antaranya himpitan ekonomi keluarga, terlebih saat ini penyebaran pandemi COVID-19.

Baca juga: Tersangka pembunuh anak kandung mengaku menyesali perbuatannya

Dimana pandemi COVID-19 itu kini tingkat pendapatan ekonomi warga semakin berkurang, bahkan terjadi pemutusan hubungan kerja.

Faktor pernikahan dini juga masih banyak ditemukan di masyarakat dan mereka belum siap secara mental untuk menghadapi bahtera rumah tangga sehingga menimbulkan kasus perceraian meningkat.

Begitu juga faktor lainnya, katanya, rendahnya pendidikan agama juga dapat memicu tindakan kekerasan dalam rumah tangga.

Untuk mencegah kekerasan itu, kata Siti, Kementerian Agama harus lebih optimal untuk memberikan pembekalan kepada calon pengantin.

Pembekalan itu mulai bidang kesehatan, pendidikan, hukum, agama dan lainya agar pasangan pengantin lebih matang cara berpikir, bersikap sabar dalam membina bahtera rumah tangga.

Disamping itu juga pemerintah daerah mengalokasikan anggaran untuk pencegahan kekerasan dalam rumah tangga juga pemberdayaan ekonomi ditingkatkan melalui berbagai kerajinan.

"Kami yakin jika ekonomi keluarga membaik dipastikan tidak akan terjadi kekerasan terhadap anak sendiri," katanya.

Baca juga: Alami tekanan batin, Ibu cekoki anak hingga tewas di Kebon Jeruk

Pewarta: Mansyur suryana
Editor: Joko Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pandeglang & Lebak berpotensi paling terdampak La Nina di Banten

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar