Menristek: Lindungi kekayaan terumbu karang Indonesia

Menristek: Lindungi kekayaan terumbu karang Indonesia

Ilustrasi - Penyelam mengamati terumbu karang hasil transplantasi nelayan di Pantai Bangsring, Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (17/11/2018). ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/kye/aa.

Jika tidak, bumi akan kehilangan harta karun berupa karang
Jakarta (ANTARA) - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan kekayaan terumbu karang Indonesia harus tetap dijaga dan dilindungi untuk keberlanjutan lingkungan hidup dan kesejahteraan masyarakat.

"Kekayaan terumbu karang Indonesia perlu dijaga agar tetap lestari. Jika tidak, bumi akan kehilangan harta karun berupa karang," kata Menristek Bambang dalam International Symposium on Coastal and Marine Biodiversity (ISCOMBIO) 2020 secara virtual, Jakarta, Kamis.

Menristek menuturkan harta karun itu antara lain lamun. Namun data terbaru, di Indonesia hanya lima persen yang dikategorikan sangat baik, sedangkan lainnya terancam dari segi kualitas dan kuantitas. Lamun termasuk komoditas paling ekonomis dari laut.

Baca juga: Menteri: Riset dan inovasi tingkatkan nilai tambah biodiversitas laut

"Indonesia dikenal sebagai hotspot keanekaragaman hayati pesisir dan laut di dunia, namun sumber daya dan ekosistem laut kita terancam," tuturnya.

Dia menuturkan perlu untuk melindungi keanekaragaman hayati laut bahkan mulai dari sekarang untuk mencegah dampak buruk di masa depan.

Ekosistem laut mendapatkan tekanan lingkungan yang bisa diakibatkan bencana alam dan aktivitas manusia seperti membuang sampah plastik ke laut dan menangkap ikan secara ilegal dan dengan cara yang merusak.

Baca juga: Indonesia terbuka untuk kerja sama riset internasional kehati laut

Jika tidak melakukan upaya konservasi dan pemanfaatan secara berkelanjutan, maka lambat laun ekosistem laut akan rusak dan sebagian bisa menghilang seperti berkurangnya kualitas dan kuantitas padang lamun.

Untuk itu, perlu ditingkatkan upaya untuk pelindungan, konservasi, pengembangan dan pemanfaatan secara berkelanjutan.

"Jika kita tidak melindungi laut dan lingkungan kita secara umum maka kelaparan akan kembali. Anda tahu betul jika ada kelaparan akan ada amarah, orang akan marah karena tidak bisa mendapatkan kebutuhan pokoknya dari makanan dan sebagian sumber makanannya berasal dari laut," tuturnya.

Sebagai salah satu negara maritim terbesar di dunia yang sebagian besar wilayahnya terletak di kawasan segitiga terumbu karang atau Coral Triangle Area, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati pesisir dan laut yang kaya.

Baca juga: Menristek sebut korelasi ekonomi dan kepekaan masyarakat pada kehati

Sebagai negara kepulauan, perairan laut Indonesia meliputi 20 persen total ekosistem terumbu karang dunia, lima persen ekosistem padang lamun, dan 20 persen ekosistem hutan bakau serta dikelilingi oleh berbagai ekosistem laut tropis termasuk laguna, teluk, selat, laut terbuka, laut dalam, bahkan diapit dua samudera besar yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Ekosistem laut dan pesisir Indonesia merupakan yang terbesar di dunia dan merupakan habitat bagi 75 persen spesies terumbu karang dan 37 persen spesies ikan dunia.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko mengatakan perhatian besar dinilai perlu diarahkan pada masalah peningkatan tekanan lingkungan baik oleh aktivitas bencana alam maupun oleh ulah manusia yang secara eksponensial mengancam kelestarian ekosistem pesisir dan laut Indonesia, serta mengancam keberlangsungan hidup berbagai biota laut yang menghuni ekosistem tersebut.

Pemanasan global yang disebabkan oleh karbon, pengasaman laut, sampah laut, dan penangkapan ikan ilegal (illegal, unreported and unregulated fishing) menjadi ancaman dan perusak bagi keberlangsungan biota laut.

Baca juga: Menristek: Ungkap lebih banyak kekayaan biodiversitas Indonesia

 

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar