Kelangkaan BBM di Suriah disebabkan oleh sanksi ekonomi AS

Kelangkaan BBM di Suriah disebabkan oleh sanksi ekonomi AS

AS telah memulai pembangunan pangkalan militer baru di Gubernur Deir Ez-Zor, yang kaya akan minyak di Suriah (Anadolu Agency)

Kerasnya pembatasan oleh AS dan hambatannya terhadap arus impor memaksa kita untuk mengurangi distribusi minyak sampai 35 persen
Amman (ANTARA) - Pemerintah Suriah menyebut kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) disebabkan oleh sanksi ekonomi Amerika Serikat yang mengganggu masuknya barang impor ke negara tersebut, kata menteri perminyakan Suriah, Rabu (16/9).

Kelangkaan BBM jadi krisis paling baru yang membuat perekonomian di Suriah kian terpuruk.

Undang-Undang Caesar, yang mengatur sanksi ekonomi terkeras terhadap Suriah, berlaku sejak Juni 2020. Beleid itu melarang perusahaan asing menjalin hubungan dagang dengan Damaskus. Sanksi ekonomi itu mengganggu sejumlah pengiriman barang impor dari sejumlah pemasok, kata Menteri Perminyakan Suriah, Bassam Touma saat diwawancarai oleh kantor berita resmi pemerintah.

“Kerasnya pembatasan oleh AS dan hambatannya terhadap arus impor memaksa kita untuk mengurangi distribusi minyak sampai 35 persen,” kata Touma.

Warga Suriah mengatakan mereka mengalami kelangkaan BBM di ibu kota Suriah, Damaskus dan kota-kota besar lainnya. Sejak minggu lalu, antrian panjang terlihat di depan pom bensin.

Baca juga: AS buat pangkalan militer baru di daerah penghasil minyak di Suriah
Baca juga: Rusia: Kehadiran AS di Suriah ilegal, lindungi penyelundup minyak


Kelangkaan BBM itu terjadi saat Suriah juga mengalami krisis ekonomi, mengingat jatuhnya nilai tukar mata uang dan tingginya inflasi. Krisis itu pun menambah beban masyarakat yang telah lama jadi korban perang.

Pemerintah Suriah membatasi jumlah pembelian bensin dan kendaraan pribadi hanya boleh mengisi 30 liter BBM tiap empat hari. Ratusan pengendara motor menunggu pom bensin buka selama beberapa jam.

Produksi minyak di Suriah tutup setelah Damaskus kehilangan sebagian besar kilang minyaknya di Sungai Eufrat di Deir al-Zor.

Kilang minyak itu saat ini dikuasai oleh warga etnis Kurdi yang didukung AS. Kelompok itu masih menjual minyak ke Damaskus.

Suriah sebelumnya bergantung dengan kiriman minyak dari Iran, tetapi adanya sanksi ke negara tersebut membuat persediaan kian berkurang sejak tahun lalu.

Kelangkaan itu juga diperparah oleh perbaikan besar-besaran kilang minyak Baniyas, sarana pengolahan minyak terbesar di Suriah. Kilang itu memenuhi dua pertiga kebutuhan minyak nasional di Suriah, kata Touma.

Touma mengatakan setelah selesai diperbaiki dalam waktu 10 hari ke depan, kapasitas kilang minyak Baniyas naik sampai 25 persen. Sebelum perbaikan, kilang minyak itu dapat memproduksi 130.000 barel minyak per hari.

Ia menambahkan impor minyak dari pihak lain juga membantu Suriah bertahan di tengah krisis.

Sejumlah distributor mengatakan pengiriman minyak melalui pelabuhan di Beirut, tempat transit utama, juga terhambat, setelah adanya ledakan bulan lalu.

AS kerap menuduh Suriah menyelundupkan minyak lewat Lebanon lewat wilayah perbatasan. Kurangnya cadangan devisa negara juga memaksa Suriah untuk memangkas jumlah minyak impor dalam dua bulan terakhir sehingga berdampak pada kelangkaan, kata dua narasumber yang berprofesi sebagai penjual/distributor minyak di Suriah.

Sumber: Reuters

Baca juga: Suriah setujui kontrak eksplorasi minyak pada dua perusahaan Rusia
Baca juga: Peneliti Rusia tuding AS langgar hukum internasional di Suriah


Penerjemah: Genta Tenri Mawangi
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar