Penjualan kian merosot, produsen gudeg Yogya optimalkan jualan online

Penjualan kian merosot, produsen gudeg Yogya optimalkan jualan online

Ilustrasi: Penjual gudeg Sudarmi mengenakan pelindung wajah melayani pembeli di kawasan Demangan, DI Yogyakarta, Jumat (29/5/2020). ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/pras.

Gudeg ini 75 persen peminatnya adalah wisatawan. Kalau pariwisata turun ya penjualan kami juga ikut turun
Yogyakarta (ANTARA) - Para produsen gudeg di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memaksimalkan penjualan kuliner khas Yogyakarta itu secara daring untuk bertahan di masa pandemi.

"Hampir semua produsen gudeg di Yogyakarta mulai menjual secara daring," kata Wakil Ketua Asosiasi Penjual Gudeg (Aspeg) DIY Chandra Setiawan Kusuma di Yogyakarta, Kamis.

Menurut Chandra, penjualan secara daring mau tidak mau harus dipilih sebagian besar produsen gudeg di DIY karena pembelian secara konvensional di rumah makan atau warung mengalami penurunan drastis sejak awal pandemi.

"Gudeg ini 75 persen peminatnya adalah wisatawan. Kalau pariwisata turun ya penjualan kami juga ikut turun," kata Pemilik Warung Gudeg Bu Lis ini.

Baca juga: Penjual gudeg di Yogyakarta bertekad "go international"

Untuk menjual secara daring sebagian produsen mulai mengemas kuliner berbahan dasar gori atau nangka ini dalam bentuk kaleng sehingga bisa bertahan lebih lama hingga satu tahun.

"Kalau pembelian dengan jasa pesan antar di area Yogyakarta masih bisa dalam bentuk kendil atau besek lengkap dengan nasi," kata dia.

Menurut dia, 25 persen dari anggota Aspeg DIY yang berjumlah 40 produsen telah mengalengkan gudeg dengan aneka olahan yang bervariasi. Mulai dari gudeg nangka, gudeg manggar, hingga gudeg kepala dan ceker ayam.

"Untuk pemesanan kebanyakan justru dari luar kota, bahkan Jakarta," kata dia.

Pemilik Warung Gudeg Yu Djum di Jalan Wijilan, Kota Yogyakarta, Eni Hartono mengaku terbantu dengan penjualan secara daring dalam bentuk kemasan kaleng. Meski begitu, kata dia, belum signifikan mendongkrak bisnis kulinernya.

Baca juga: UGM kembangkan teknologi pengawetan gudeg

Kendati dijual dalam bentuk kemasan kaleng, Eni mengaku harus tetap mempertahankan cita rasa olahan gudegnya dengan standar mutu bahan baku yang telah digunakan secara turun temurun.

"Tapi ini cukup membantu karena yang datang langsung (di rumah makan) kadang ada, kadang sepi. Apalagi DKI Jakarta mulai PSBB lagi," kata dia yang menjual gudeg kemasan kaleng mulai Rp40 ribu hingga Rp45 ribu ini.

Kepala Bidang Layanan Kewirausahaan, Dinas Koperasi dan UKM DIY Wisnu Hermawan mengaku telah mengintensifkan pelatihan penjualan berbasis digital bagi para pelaku UMKM di DIY.

Untuk mendorong transaksi penjualan pelaku UMKM secara daring, menurut dia, Dinas Koperasi dan UKM DIY sebelumnya juga telah memfasilitasi gratis ongkos kirim.

Menurut dia, hingga Juli 2020 pihaknya telah mengucurkan dana hingga Rp100 juta untuk fasilitas itu.

Baca juga: Mengenal gudeg, kuliner yang usianya setua Yogyakarta

 

Pewarta: Luqman Hakim
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Telah hadir masakan tradisional dalam kaleng yang tahan satu tahun

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar