Disdik Papua harap siswa tidak terjangkau internet tetap dapat bantuan

Disdik Papua harap siswa tidak terjangkau internet tetap dapat bantuan

Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Papua Christian Sohilait (ANTARA/Hendrina Dian Kandipi)

Jayapura (ANTARA) - Dinas Pendidikan, Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Papua mengharapkan siswa yang tidak terjangkau internet di wilayahnya harus tetap mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Papua Christian Sohilait di Jayapura, Jumat, mengatakan bantuan ini bagi para siswa yang terpaksa belajar secara luring (luar jaringan) dikarenakan sebagian besar pelajar tersebut berada di daerah yang belum memiliki jaringan telekomunikasi.

"Sebanyak 66 persen wilayah di Papua belum bisa mengakses jaringan internet, oleh karena itu kami berharap pemerintah pusat memberi perhatian khusus bagi daerah-daerah tersebut," katanya.

Menurut Christian, pihaknya benar-benar berharap jika memang anak-anak lainnya di bagian negara ini mendapatkan bantuan, maka anak-anak Papua di pedalaman yang tidak terjangkau internet, harus juga mendapatkan bantuan pendidikan.

Baca juga: Anggota DPR: Dampak pandemi, negara harus hadir atasi belajar daring

Baca juga: Belajar dari kasus pembunuhan, Palembang kurangi beban pelajaran


"Hal ini sangat diperlukan karena selama ini sudah ada kesenjangan kualitas pendidikan antara para pelajar di wilayah perkotaan dengan yang ada di pedalaman Papua," ujarnya.

Dia menjelaskan hal tersebut sudah disampaikan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di mana dengan data 66 persen wilayah Papua tidak terjangkau internet sehingga otomatis anak-anak di wilayah tersebut tidak dapat belajar seperti anak-anak di daerah lainnya, sehingga bila hal tersebut dibiarkan maka ketertinggalan pendidikan di Papua akan jauh sekali.

"Bila pemerintah pusat mengabulkan permintaan tersebut, ke depan dana yang diberikan akan lebih banyak diberikan kepada guru untuk menunjang operasionalnya," katanya lagi.

Dia menambahkan misalnya saja guru yang harus berjalan dari rumah ke rumah, pasti membutuhkan uang transpor untuk menyeberang sungai menggunakan perahu, ojek bahkan mobil.

"Selain itu, uang tersebut juga akan dibelikan perangkat penunjang aktifitas belajar mengajar," ujarnya lagi.*

Baca juga: Siswa madrasah di Garut kesulitan sekolah daring dibantu Kemensos

Baca juga: 38.000 siswa SMA Jabar diberi pinjaman tablet untuk belajar daring

Pewarta: Hendrina Dian Kandipi
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar