Yordania akan penjarakan penyelenggara acara lebih dari 20 orang

Yordania akan penjarakan penyelenggara acara lebih dari 20 orang

Issa Kanaan, ayah delapan putra dan memiliki 22 cucu, membagikan manisan kepada cucu-cucunya setelah menyelesaikan shalat Idul Fitri bersama di rumah mereka setelah pemerintah memberlakukan penguncian penuh pada hari pertama Idul Fitri, di tengah penyebaran penyakit virus corona (COVID-19), di Amman, Yordania, Minggu (24/5/2020). (ANTARA/REUTERS/MUHAMMAD HAMED/tm)

Amman (ANTARA) - Pemerintah Yordania pada Kamis (17/9) mengumumkan pihaknya akan memenjarakan warga sampai lebih dari satu tahun jika mereka menggelar acara sosial skala besar yang menghadirkan tamu sampai lebih dari 20 orang.

Ketentuan itu dibuat untuk menekan penyebaran COVID-19, yang kasusnya kembali tinggi di Yordania. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tidak menggelar acara sosial seperti resepsi pernikahan, upacara pemakaman, dan pesta.

Juru bicara pemerintah, Amjar Adailah, mengatakan kebijakan itu dibuat sesuai Undang-Undang Kedaruratan yang diberlakukan oleh kerajaan sejak April 2020. Adailah mengatakan aturan pembatasan akan berlaku ketat.

“Kebijakan ini dibuat demi mencegah warga melanggar aturan yang menyebabkan virus kembali menyebar sehingga jumlah pasien positif bertambah,” Adailah menerangkan.

Ia menambahkan bahwa warga yang menghadiri acara pertemuan juga akan diwajibkan membayar denda.

Tingginya kasus positif, menurut Menteri Kesehatan Saad Jaber, disebabkan oleh sikap “tidak bertanggung jawab” warga saat menghadiri resepsi pernikahan dan berbagai acara pertemuan sosial lainnya, tanpa mengenakan masker dan tidak menjaga jarak saat berbincang-bincang di acara resepsi. 

Otoritas di Yordania melaporkan 279 kasus baru dalam waktu 24 jam, Kamis (17/9). Kasus harian itu jadi yang tertinggi di Yordania sejak Maret 2020. Dengan demikian, total pasien bertambah jadi 4.131 orang dan 26 di antaranya meninggal dunia.

Pemerintah Yordania juga kembali meliburkan sekolah selama dua minggu mulai Kamis setelah puluhan kasus positif ditemukan di kalangan pelajar dan guru yang awal September telah melakukan pembelajaran tatap muka.

Kabinet menteri Yordania awal minggu ini juga menutup restoran dan tempat ibadah, seperti masjid dan gereja, selama dua minggu mulai Kamis. Sebagian besar pegawai di lembaga pemerintah juga bekerja dari rumah dan hanya sedikit dari mereka yang bekerja di kantor.

Pemerintah Yordania tidak memberlakukan karantina penuh sebagaimana telah dilakukan pada musim semi lalu karena khawatir perekonomian akan terpuruk.

Menteri Transportasi Khaled Seif pada Kamis mengatakan pemerintah mengganti aturan karantina dua minggu untuk pendatang jadi karantina mandiri selama satu pekan.

Pemerintah berharap aturan karantina yang telah dipermudah itu dapat meningkatkan jumlah kunjungan warga asing ke Yordania, negara yang pendapatannya bergantung pada industri kesehatan dan pariwisata.

Sumber: Reuters

Baca juga: Yordania tutup sekolah usai kasus COVID-19 melonjak

Baca juga: PBB tingkatkan langkah COVID-19 di kamp pengungsi Suriah di Yordania

Baca juga: Yordania undur pemilu parlemen ke November, di tengah sejumlah isu


 

Mendagri Izinkan sanksi sosial bagi paslon pelanggar protokol kesehatan

 

Penerjemah: Genta Tenri Mawangi
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar