Stabilitas sistem keuangan daerah Sumbar pada triwulan II terjaga

Stabilitas sistem keuangan daerah Sumbar pada triwulan II terjaga

Kepala BI perwakilan Sumbar Wahyu Purnama. (Antara/Ikhwan Wahyudi)

Aset perbankan di Sumatera Barat pada triwulan II 2020 mengalami penurunan sebesar minus 0,08 persen atau tercatat sebesar Rp68,59 triliun, atau turun dibandingkan triwulan I 2020 yang tumbuh sebesar 0,53 persen.
Padang (ANTARA) - Bank Indonesia mencatat stabilitas sistem keuangan daerah di Sumatera Barat pada triwulan II 2020 masih terjaga kendati di tengah pandemi Corona Virus Disease (COVID-19).

"Aset perbankan di Sumatera Barat pada triwulan II 2020 mengalami penurunan sebesar minus 0,08 persen atau tercatat sebesar Rp68,59 triliun, atau turun dibandingkan triwulan I 2020 yang tumbuh sebesar 0,53 persen," kata Kepala BI perwakilan Sumbar Wahyu Purnama di Padang, Senin.

Ia menyebutkan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan di Sumatera Barat pada triwulan II 2020 tumbuh 5,27 persen dengan nilai Rp44,76 triliun.

"Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan I 2020 sebesar 3,88 persen," ujarnya.

Baca juga: Jakarta PSBB lagi, DPR ingatkan tetap jaga stabilitas sistem keuangan

Sementara itu pertumbuhan kredit atau pembiayaan di Sumatera Barat pada triwulan II 2020 mengalami perlambatan.

Kredit di Sumatera Barat pada triwulan II 2020 tercatat tumbuh 2,85 persen atau senilai Rp57,92 triliun, lebih rendah dibandingkan triwulan I 2020 yang tercatat tumbuh 4,97 persen atau senilai Rp58,41 triliun.

Sejalan dengan peningkatan DPK dan perlambatan kredit, angka Loan to Deposit Ratio (LDR) pada triwulan II 2020 mengalami penurunan ke level 129,42 persen , dari 138,12 persen pada triwulan I 2020.

Baca juga: Pemerintah kaji penguatan stabilitas sistem keuangan

Perlambatan pertumbuhan total kredit disertai dengan penurunan risiko yang terindikasi dari menurunnya rasio Non Performing Loan (NPL) Sumatera Barat pada angka 2,84 persen, dibandingkan triwulan I 2020 yang sebesar 3,03 persen.

Transaksi nontunai di Sumatera Barat pada triwulan II 2020 mengalami perlambatan sebagai dampak pandemi COVID-19 yang membatasi transaksi masyarakat.

Transaksi nontunai di Sumatera Barat melalui Real Time Gross Settlement (RTGS), kliring, maupun Layanan Keuangan Digital (LKD) mengalami penurunan dibandingkan triwulan I 2020.

Hanya transaksi uang elektronik (UE) yang menunjukkan peningkatan seiring adanya perluasan program Sembako dan Program Keluarga Harapan (PKH) untuk tetap menjaga daya beli masyarakat, ujarnya.

Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Sumatera Barat pada triwulan IV 2020 meningkat dibandingkan dengan perkiraan triwulan III 2020.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga masih akan menopang perekonomian. Peningkatan konsumsi RT sejalan dengan normalisasi permintaan pasca berkurangnya kebijakan pembatasan sosial serta beradaptasinya perilaku ekonomi masyarakat dalam melakukan kegiatan ekonomi di tengah pandemi.

"Hari Natal dan tahun baru disertai dengan libur panjang pengganti lebaran juga diperkirakan akan mendorong permintaan," ujarnya.

Selain itu kondisi investasi diperkirakan meningkat seiring dengan berjalannya proyek Jalan Tol Padang-Sicincin serta normalisasi pemenuhan target eksekusi untuk proyek lainnya.

Net ekspor diprakirakan meningkat sejalan dengan normalisasi perdagangan yang dipengaruhi oleh pembukaan kembali pelabuhan utama atau jalur distribusi lainnya yang akan mendorong kinerja ekspor, ujarnya.

Ia menambahkan secara keseluruhan, perekonomian Sumatera Barat diperkirakan melambat di 2020 sejalan dengan penurunan permintaan akibat pandemi COVID-19.

***1***
 

Pewarta: Ikhwan Wahyudi
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar