Omset usaha sambal pecel di Kediri naik saat pandemi COVID-19

Omset usaha sambal pecel di Kediri naik saat pandemi COVID-19

Pekerja mengemasi sambel pecel merek Mbak Ti, milik Budi Handayani, warga Kelurahan Betet, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Jawa Timur. Omzet sambel pecel naik drastis saat pandemi COVID-19. ANTARA Jatim/ Ach

Alhamdulillah mulai Maret ada omzet 75 persen kenaikan dari rata-rata bulanan. Saya kaget, alhamdulillah naik.
Kediri (ANTARA) - Omset usaha sambal pecel merek "Mbak Ti", milik Budi Handayani, warga Kelurahan Betet, Kota Kediri, Jawa Timur, naik drastis saat pandemi COVID-19.

"Alhamdulillah mulai Maret ada omzet 75 persen kenaikan dari rata-rata bulanan. Saya kaget, alhamdulillah naik," kata Budi Handayani di Kediri, Senin.

Ia mengatakan usaha sambal pecel ini sudah ditekuni sejak 2011. Awalnya, dulu ibundanya sekitar 1980 yang berjualan sambal pecel dan laku keras. Namun, sempat vakum hingga akhirnya dirinya kembali menekuni usaha ibundanya berjualan sambal pecel dengan lebih modern.

Baca juga: Kemenparekraf berharap pelaku UMKM tak kesulitan akses PEN

Ia menambahkan, bahan baku pembuatan sambal pecel juga melimpah. Cabai juga relatif mudah didapat di pasar. Selain itu, gula jawa sebagai salah satu bahan juga melimpah.

"Ide awal membuat sambal pecel ini karena bahan tidak telat. Karyawan saya rata-rata pensiunan, jadi kami berdayakan mereka," ujar Budi yang merupakan warga Kelurahan Betet, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri ini.

Ia mengakui, permintaan sambal pecel juga terus naik. Dalam sehari, setidaknya bisa membuat sambel hingga 1 kuintal banyaknya. Ada 10 pekerja yang dilibatkan, yang terdiri dari delapan orang tenaga kerja perempuan dan sisanya laki-laki.

Baca juga: Kemenperin pacu produktivitas IKM dengan sejumlah terobosan

Budi mengakui tidak terlalu kelabakan dengan semakin tingginya permintaan. Justru hal itu membuat lebih bersemangat para pekerja untuk membuat sambal, karena pendapatan juga bisa bertambah.

Untuk membuat sambal, bahan baku dipilih yang segar-segar terutama cabai. Ada cabai rawit dan cabai keriting. Semuanya dibersihkan. Bumbu lainnya yakni kacang tanah, gula merah, bawang putih, garam, daun jeruk purut, serta asam jawa. Bumbu sambal pecel jualannya tidak menggunakan kencur dan dominan daun jeruk purut, sehingga rasanya lebih segar.

Untuk kacang tanah, ia menyebut dimasak dengan cara dioven. Hal itu membuat sambel bertahan lama, hingga satu tahun. Selain itu, warna dari sambal juga lebih bagus saat kacang dioven.

"Untuk bahan baku kacang kami oven, sehingga tekstur lebih cerah, cantik daripada metode lainnya. Saya pernah coba (motode lain) tapi satu pekan sudah gelap, hitam begitu jadinya," ujar dia.

Ia mengatakan, sambal pecel jualannya dikemas dengan berbagai model, sesuai dengan kebutuhan pasar. Yang paling besar dikemas ukuran 200 gram yang dikemas untuk pasar oleh-oleh. Namun, untuk harga jualnya adalah Rp40 ribu per kilogram.

Budi juga mengatakan, pasar dari produknya juga dari berbagai daerah, termasuk dari Jawa Timur, hingga sejumlah kota di luar Pulau Jawa. Bahkan, produk jualannya juga dikemas untuk pasar ekspor.

Untuk penjualan ke luar negeri, selama ini ke Hong Kong dan Dubai. Untuk pasar Hong Kong, awalnya ada TKI yang meminta kiriman sambal dan ternyata rasanya cocok, sehingga terus minta kiriman untuk dijual lagi. Sedangkan, untuk Dubai, awalnya ada keluar dari TKI yang bekerja di bidang perminyakan meminta dikirimi sambal pecel. Dan, dari TKI di Dubai tersebut cocok, sehingga terus minta kiriman sambel pecel.

"Untuk pengiriman Keresidenan Kediri, Jabodetabek. Untuk luar Pulau Jawa ke Kalimantan. Dulu rata-rata 50 kilogram, setelah di bulan Maret 2020 ini 1 kuintal bahkan lebih. Itu wilayah keresidenan Kediri, belum terhitung dari luar Pulau Jawa. Di Kalimantan bahkan 300 persen kenaikannya," ujar dia.

Ia mengaku senang usahanya ini bisa berkembang. Selain bisa memberdayakan para tetangga, dengan usaha ini membuat ekonomi keluarganya juga membaik. Ia berharap, usaha yang dikelolanya ini juga terus maju.

Pemkot Kediri juga terus mendukung pemilik UMKM di Kota Kediri untuk terus berkembang, terlebih lagi di masa pandemi COVID-19. Dengan terus produktif, roda perekonomian juga terus berjalan.

Selama masa pandemi COVID-19 dan era normal baru, Pemerintah Kota Kediri berupaya keras menjaga UMKM untuk kelangsungan usaha, mendukung permodalan. Selain itu, Pemkot Kediri juga melakukan pendampingan digitalisasi UMKM, membentuk persepsi publik, ikut promosi produk, serta membuat kemitraan strategis dengan private sector.

Pemkot juga membuat gebrakan dengan menyelenggarakan UMKM Virtual Expo 2020, yakni penyelenggaraan expo UMKM secara daring kerja sama dengan Bank Indonesia.

Pemkot juga melakukan pendampingan UMKM berupa workshop foto atau video, social media marketing, desain packaging, standar pangan, dan sebagainya. 

Pewarta: Asmaul Chusna
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar