Anti Hoax

Cek Fakta: pelarangan masker "scuba" adalah politik dagang?

Cek Fakta: pelarangan masker "scuba" adalah politik dagang?

Petugas keamanan menegur calon penumpang Kereta Rel Listrik Commuter Line yang menggunakan masker jenis scuba di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Senin (14/9/2020). ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/wsj.

Jakarta (ANTARA/JACX) - Pelarangan masker jenis scuba merupakan politik dagang perusahaan, demikian sebuah unggahan yang beredar di media sosial.

Unggahan pada 16 September 2020 itu mengatakan masker scuba dilarang karena harganya murah. Masyarakat lebih memilih masker jenis itu dan tidak membeli masker lainnya.

Berikut narasi lengkap di media sosial terkait politik dagang masker scuba:

"ini politik perusahaan beneran...dl awal podemi masker di save harga di naikan selangit & kluar lah masker scuba produksi rmhan harga murah jg bisa di cuci pakai lagi...skrg di larang masker scuba krn masker mereka tdk laku jg mahal...bantu tdk mlh sll nyusahin masyarakat melulu...bila mau membantu stiap rumah di bagi masker 1 kotak/bln scr free n sosialisasi br jlnin larangan itu."

Namun, benarkah masker scuba dilarang karena politik dagang perusahaan?
Tangkapan layar unggahan yang mengatakan pelarangan masker scuba adalah politik perusahaan (Facebook)


Penjelasan:

Pelarangan masker scuba bukanlah politik dagang.  Juru bicara Satgas COVID-19 WIku Adisasmito mengatakan masker scuba dan buff yang sering digunakan oleh masyarakat berbahan tipis. Kemungkinan virus untuk menembus masker itu juga lebih besar. 

Satgas COVID-19 pun menyarankan masyarakat untuk menggunakan masker kain berbahan katun dan berlapis tiga. Masker kain tiga lapis memilki kemampuan untuk menyaring partikel virus lebih baik.

Sementara, pakar kesehatan dan relawan COVID-19 Muhamad Fajri Adda'i mengatakan masker scuba hanya terdiri satu lapis dengan bahan neoprene

Bahan tersebut cenderung elastis dan jika ditarik pori-pori masker akan membesar sehingga tidak efektif untuk menyaring virus. 

Jurnal ACS Nano, menurut Fajri, melaporkan bahan yang baik untuk menyaring partikel adalah sutra empat lapis, diikuti bahan sifon yang merupakan gabungan 90 persen poliester dan 10 persen spandex, kemudian bahan flaner yang terdiri dari 65 persen katun dan 35 persen poliester. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan penggunaan masker kain tiga lapis yang terdiri dari lapisan dalam untuk menyerap, lapisan tengah untuk menyaring, dan lapisan luar yang terbuat dari bahan seperti poliester. 

Klaim : Pelarangan masker scuba adalah politik dagang
Rating : Salah/Hoaks

Cek fakta: Ada pembagian masker yang diberi bius? Cek faktanya

Baca juga: Jabar konsultasi ke Balai Besar Tekstil terkait masker scuba

Baca juga: Alasan dokter tak rekomendasikan pakai masker scuba

Pewarta: Tim JACX
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Menkominfo ingatkan masyarakat tak sulut hoaks, jelang putusan MK

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar