ACT NTB bantu UMKM dengan Wakaf Modal Usaha Mikro

ACT NTB bantu UMKM dengan Wakaf Modal Usaha Mikro

Relawan ACT NTB menyerahkan bantuan program Wakaf Modal Usaha Mikro (WMUM) kepada salah seorang pedagang kecil di Kota Mataram, Selasa (22/9/2020). ANTARA/Awaludin

Mataram (ANTARA) - Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Cabang Nusa Tenggara Barat melaksanakan program Wakaf Modal Usaha Mikro (WMUM) untuk membantu pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) agar tetap bisa menjalankan usaha di tengah pandemi COVID-19.

"WMUM merupakan program masterpiece dari ACT dalam rangka pemberdayaan ekonomi umat. Program tersebut untuk masyarakat menengah ke bawah yang ekonominya terdampak pandemi COVID-19," kata Kepala Program ACT NTB M Romi Saefuddin di Mataram, Selasa.

Untuk tahap awal, kata dia, pihaknya melaksanakan program WMUM dengan sasaran masyarakat di Kota Mataram dan sebanyak 35 pelaku UMKM sudah menerima manfaat dari program itu.

Romi menambahkan jumlah sasaran penerima manfaat akan terus bertambah karena banyak yang mengharapkan bisa terakomodasi dalam program WMUM.

"Banyak yang mengharapkan program tersebut bisa berjalan dengan baik. Oleh sebab itu, kami mohon kepada para dermawan untuk bisa terlibat dalam aksi gerakan program WMUM," ujarnya.

Nur Minah, salah seorang penerima manfaat program, mengaku sudah mendapatkan bantuan ACT melalui program WMUM. Bantuan tersebut sangat bermanfaat untuk kelanjutan usahanya menjadi pedagang nasi bungkus di pinggir jalan.

Sebelumnya, ibu tiga anak itu pernah menerima bantuan modal usaha melalui program Sahabat Usaha Mikro Indonesia (SUMI), namun karena dampak pandemi COVID-19 yang berkepanjangan, modal itu pun habis.

"Saya sangat berharap semoga pandemi ini segera berakhir dan semuanya kembali normal," tutur Nur Minah.

Sejak pandemi, Nur Minah menjadi tulang punggung keluarga karena suaminya sudah tidak lagi bekerja sebagai buruh bangunan karena proyek tempatnya bekerja dihentikan sejak pandemi COVID-19.

Wanita paruh baya tersebut sehari-hari berjualan nasi bungkus di pinggir Jalan Sriwijaya Mataram. Penghasilannya tidak menentu setiap hari, tergantung jumlah pembeli. Namun terkadang hanya Rp50 ribu yang bisa dibawa pulang karena kondisi pembeli sepi.

"Kalau lagi sepi, modal usaha ikut menipis, Terkadang harus berutang dulu ke warung lain agar bisa mendapat bahan membuat nasi bungkus," ucap Nur Minah.

Pewarta: Awaludin
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Sejak pandemi, total 400 ASN Pemprov Riau terpapar COVID-19 

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar