Dolar naik ke tertinggi 8 minggu dipicu nada "hawkish" pejabat Fed

Dolar naik ke tertinggi 8 minggu dipicu nada "hawkish" pejabat Fed

Beberapa lembar uang seratus dolar AS di latar belakang uang kertas seratus dolar AS. ANTARA/Shutterstock/pri.

Yang kami dengar dari The Fed selama beberapa bulan terakhir adalah kami tidak akan menaikkan suku bunga kapan pun di masa mendatang. Kemudian Evans masuk dan menantang narasi itu, sehingga pasar menjadi lengah.
New York (ANTARA) - Dolar AS naik ke level tertinggi delapan minggu terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), setelah seorang pejabat Federal Reserve membuat nada hawkish dengan menyebutkan prospek kenaikan suku bunga, semakin memperkuat investor yang sudah dalam suasana menghindari risiko (risk-off).

Euro menyentuh level terendah delapan minggu terhadap dolar sebelum mengupas kerugian, sementara franc Swiss jatuh ke palung tujuh minggu. Sterling berada di sekitar level terendah dua bulan di tengah kekhawatiran tentang dampak pembatasan untuk mengendalikan penyebaran virus corona.

Berbicara pada pertemuan virtual Forum Resmi Moneter dan Lembaga Keuangan (OMFIF) berbasis di London, Presiden Fed Chicago Charles Evans mengatakan ekonomi AS mempertaruhkan pemulihan yang lebih lama dan lebih lambat, jika bukan resesi langsung, tanpa paket dukungan fiskal lainnya.

Baca juga: Dolar melonjak karena aset berisiko jatuh, kasus COVID-19 meningkat

Evans, yang akan menjadi pemilih di Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang mengatur kebijakan pada 2021, mengatakan The Fed masih perlu membahas target inflasi rata-rata yang baru tetapi "dapat mulai menaikkan suku sebelum kami memulai (target inflasi) rata-rata 2,0 persen." Dan dia mengatakan pelonggaran kuantitatif tambahan mungkin tidak lagi memberikan dorongan bagi ekonomi AS.

“Yang kami dengar dari The Fed selama beberapa bulan terakhir adalah kami tidak akan menaikkan suku bunga kapan pun di masa mendatang. Kemudian Evans masuk dan menantang narasi itu, sehingga pasar menjadi lengah," kata Erik Nelson, ahli strategi makro di Wells Fargo Securities di New York, juga mencatat bahwa Evans biasanya dipandang sebagai salah satu pejabat Fed yang lebih dovish.

Edward Moya, analis pasar senior di OANDA di New York, menggambarkan komentar Evans sebagai "sangat hawkish."

"Semakin cepat kita sampai ke sisi lain dari virus ini, Anda akan melihat ekspektasi kenaikan suku bunga melonjak, dan itu selanjutnya akan mendorong dolar ini rebound," kata Moya.

Baca juga: Dolar bertahan, yen merayap naik saat para pembicara Fed jadi fokus

Sementara itu, Ketua Fed Jerome Powell mengatakan kepada panel kongres pada Selasa (22/9/2020) bahwa sementara ekonomi Amerika telah menunjukkan "peningkatan yang nyata" sejak pandemi virus corona mendorongnya ke dalam resesi, jalan ke depan tetap tidak pasti dan bank sentral AS akan berbuat lebih banyak jika diperlukan.

Baik Evans maupun Powell berbicara tentang perlunya stimulus fiskal untuk membantu perekonomian.

Hal ini menyoroti keprihatinan di antara para pelaku pasar bahwa kemungkinan perjanjian bantuan meredup karena anggota parlemen Washington mengalihkan perhatian mereka ke pertarungan atas pencalonan hakim Mahkamah Agung untuk menggantikan mendiang Hakim Ruth Bader Ginsburg.

"Ada badai sempurna dari berita utama negatif di luar sana untuk ekonomi, yang mulai mengalir ke pasar keuangan," kata Nelson dari Wells Fargo. "Pergeseran fokus untuk senator AS mengurangi harapan untuk paket stimulus fiskal."

Baca juga: Emas anjlok, tertekan penguatan dolar AS dan kekhawatiran stimulus

Sebelum Evans berbicara, dolar telah naik pada perdagangan sebelumnya karena investor mencari perlindungan yang aman setelah beberapa bagian Eropa memberlakukan pembatasan akibat melonjaknya kasus virus corona.

Sterling diperdagangkan di sekitar posisi terendah dua bulan setelah berputar dalam perdagangan yang tidak stabil setelah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan kepada orang-orang untuk bekerja dari rumah bila memungkinkan dan memerintahkan bar dan restoran tutup lebih awal, dengan pembatasan baru mungkin berlangsung selama enam bulan.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, terakhir menguat 0,39 persen pada 93,935. Indeks dolar sebelumnya mencapai tertinggi 94,086, level terkuat sejak akhir Juli.

Euro melemah 0,5 persen terhadap dolar pada 1,1708 dolar, setelah jatuh di bawah level kunci 1,17 dolar, juga terendah sejak akhir Juli.

Dolar juga menguat terhadap yen, naik untuk hari kedua berturut-turut. Dolar terakhir naik 0,28 persen pada 104,93 yen.

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar