Musim berganti, apakah pengaruhi penyebaran COVID-19?

Musim berganti, apakah pengaruhi penyebaran COVID-19?

Ilustrasi penyakit musim hujan (ANTARA/Shutterstock)

Jakarta (ANTARA) - Menjelang pergantian cuaca yang segera memasuki musim hujan, muncul pertanyaan apakah kondisi itu bisa mempengaruhi penyebaran virus penyebab COVID-19?

Profesor ilmu bumi dan planet di Johns Hopkins University, Ben Zaitchik yang memimpin gugus tugas Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengatakan, masih dibutuhkan penelitian untuk mengetahui ada tidaknya faktor elemen iklim, lingkungan, dan meteorologi mempengaruhi penyebaran COVID-19.

WMO dalam sebuah simposium mengatakan, publikasi tinjauan sejawat terkini tentang virus SARS-CoV-2 dan penyakit COVID-19 tidak menunjukkan respons yang kuat dan konsisten terhadap suhu, kelembaban, angin, radiasi matahari, atau penggerak meteorologi dan lingkungan lain yang diusulkan.

Menurut mereka, para pengambil kebijakan tidak perlu bergantung pada makalah sebelumnya atau temuan studi tunggal yang menyimpulkan musim dingin akan memacu gelombang besar COVID-19 lainnya.

Semua studi harus dikomunikasikan secara hati-hati untuk menghindari salah tafsir dan penyalahgunaan informasi.

Baca juga: Dokter ungkap mitos-fakta berolahraga saat pandemi COVID-19

Baca juga: Mitos dan fakta seputar masalah kesehatan


Zaitchik menuturkan, ada alasan untuk memperkirakan penularan penyakit virus pernapasan seperti COVID-19 dapat meningkat saat musim yang lebih dingin dan lebih kering, tetapi pada tahap ini bukti tentang hal ini beragam.

Menurut dia, gugus tugas WMO sedang bekerja untuk mengembangkan standar cara terbaik yang harus dilakukan peneliti untuk mengukur pengaruh kompleks dari faktor iklim, cuaca, dan lingkungan pada COVID-19.

Di sisi lain, dokter dari RSUD Koja, Tanjung Priok, Siti Rosidah, MD mengingatkan Anda, baik itu di musim hujan maupun panas terlebih di masa pandemi COVID-19 saat ini tetap waspada menjaga kondisi kesehatan tubuh.

Jangan lupakan 3M yakni mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak; lalu usahakan mendapatkan waktu tidur yang cukup yakni 6-8 jam per malam.

"Batasi jam kerja, jangan over. Tidak baik lembur atau tidak tidur malam karena proses detoksifikasi tubuh terjadi pada malam hari oleh organ hati. Jadi jika seseorang sering begadang bisa bermasalah dengan proses di heparnya (hati)," kata dia kepada ANTARA, Rabu.

Selain itu, perhatikan asupan cairan demi mencegah dehidrasi dan rutin beraktivitas fisik seperti olahraga dengan intensitas ringan hingga sedang.

Hal lainnya, usahakan melakukan pekerjaan yang bisa menambah semangat, kelola stres, menjaga suasana hati agar tetap baik dan mencukupi asupan makanan sehat.

Baca juga: Dokter: Cukupi kebutuhan air mineral agar tetap bugar di cuaca ekstrem

Baca juga: Tips tetap bugar selama musim hujan


 

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Antisipasi penyebaran COVID-19, RSUD Soedarso Pontianak siapkan tenda darurat

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar