Kemenperin riset farmasi berbasis bahan baku alam lokal

Kemenperin riset farmasi berbasis bahan baku alam lokal

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Doddy Rahadi. ANTARA/HO-Humas Kemenperin/am.

bekerja keras untuk mengurangi impor di sektor industri farmasi
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian melalui Balai Besar Kimia dan Kemasan (BBKK) Jakarta, melakukan riset farmasi dan kosmetik berbasis bahan alam lokal untuk meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri.

“Penguatan peran ini akan kami jalankan dengan menyiapkan infrastruktur pengembangan fitofarmaka yang sesuai dengan standar CPOTB, penggunaan soft computing dan penerapan teknologi 4.0 guna menjadi percontohan bagi industri farmasi berbasis bahan alam,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Doddy Rahadi lewat keterangan resmi di Jakarta, Rabu.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja industri kimia, farmasi dan obat tradisional mengalami pertumbuhan yang gemilang sebesar 5,59 persen pada semester I tahun 2020.

“Namun demikian, kami tetap bekerja keras untuk mengurangi impor di sektor industri farmasi,” imbuh Doddy.

Sesuai Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan di Indonesia, kementerian dan lembaga terkait harus bersinergi dalam mengembangkan industri farmasi yang mandiri dan berdaya saing.

Apalagi, industri farmasi telah masuk sebagai sektor tambahan yang mendapat prioritas pengembangan dalam peta jalan Making Indonesia 4.0.

“Untuk itu, industri farmasi di dalam negeri agar terus melakukan berbagai upaya dalam mendukung terlaksananya tujuan tersebut serta memastikan terciptanya kondisi masyarakat bisa memperoleh obat dengan mudah, terjangkau, tersedia dimanapun saat dibutuhkan, dan berkesinambungan,” sebutnya.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Muhammad Khayam sebelumnya mengemukakan, Indonesia memiliki potensi tanaman obat yang banyak tumbuh di berbagai wilayah. Jumlahnya sebanyak 30.000 spesies dari 40.000 spesies tanaman obat

“Oleh karena itu, perlu pengoptimalan potensi alam tersebut untuk industri obat tradisional. Hal ini juga sangat prospektif untuk dikembangkan karena kebutuhan yang cukup potensial di pasar lokal maupun global,” tuturnya.

Selain itu, Kemenperin siap berkolaborasi dengan berbagai pihak seperti kementerian, akademisi, industri dan lembaga lainnya untuk pengembangan fitofarmaka di Indonesia.

“Pandemi COVID-19 membuat kesigapan semua negara meningkat, termasuk dalam hal ketersediaan obat-obatan,” ujarnya.

Dalam hal ini, pemerintah terus berusaha memperkuat struktur manufaktur industri farmasi di dalam negeri, antara lain dengan memacu kegiatan riset untuk menciptakan inovasi produk. Selama ini, industri farmasi nasional mampu memproduksi sekitar 90 persen kebutuhan obat domestik.

Kemandirian Indonesia di sektor industri alat kesehatan dan farmasi merupakan hal yang penting, terlebih dalam kondisi kedaruratan kesehatan seperti saat ini. Sektor industri alat kesehatan dan farmasi masuk dalam kategori high demand di tengah pandemi COVID-19, di saat sektor lain terdampak berat.

Baca juga: Kemenperin perkuat industri bahan baku obat topang industri farmasi
Baca juga: Pertamina-Kimia Farma kerja sama tekan impor bahan baku farmasi
Baca juga: BUMN bidang farmasi perlu kurangi impor bahan baku obat


Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Revisi RPP Farmasi akan kembangkan industri obat nasional

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar