Peneliti Jepang kembangkan tes peringatan dini kasus parah COVID1-19

Peneliti Jepang kembangkan tes peringatan dini kasus parah COVID1-19

Seorang pekerja medis melakukan tes pelatihan walk-in style polymerase chain reaction (PCR) untuk penyakit virus corona  (COVID-19), di fasilitas darurat di Yokosuka, Tokyo Selatan, Jepang, Kamis (23/4/2020). ANTARA FOTO/Reuters-Issei Kato/hp.

Jika CCL17 lebih kecil dari 100 pikogram per milimeter, kemudian kami meminta mereka untuk dirawat inap, namun jika di atas dari 400, pasien dapat tinggal di hotel atau rumah mereka dan diperiksa setiap tiga hari,
Tokyo (ANTARA) - Para peneliti Jepang mengembangkan tes darah yang menurut mereka  bisa saja dijadikan sebagai sistem peringatan dini kasus parah COVID-19, dan mengerahkan 500 mesin prototipe untuk menguji keampuhannya secara nasional.

Peneliti dari Pusat Nasional Medis dan Kesehatan Global yang sebelumnya menguji lima senyawa dalam darah 28 pasien, menemukan bahwa pembacaan serum CCL17 yang rendah menjadi prediksi dari infeksi serius COVID-19.

Hasil itu menunjukkan bahwa tes awal untuk serum dapat membantu menentukan pasien mana yang memerlukan rawat inap rumah sakit, katanya melalui dokumen yang dirilis September ini.

"Jika CCL17 lebih kecil dari 100 pikogram per milimeter, kemudian kami meminta mereka untuk dirawat inap, namun jika di atas dari 400, pasien dapat tinggal di hotel atau rumah mereka dan diperiksa setiap tiga hari," kata kepala peneliti Masaya Sugiyama kepada Reuters, Jumat.

Baca juga: AS catat rekor 1 juta lebih tes harian COVID-19
Baca juga: KAI tambah stasiun layani tes cepat COVID-19


Menurutnya, data lain diperlukan guna memastikan hasil dari riset mikro tersebut, kata Sugiyama. Namun sejak uji coba 28 pasien, kelompok tersebut telah bermitra dengan sebuah perusahaan Jepang untuk mengembangkan mesin uji prototipe untuk serum.

Hampir 500 perangkat kini digunakan di negara tersebut, yang memberikan hasilnya dalam waktu 20 menit, katanya.

Kelompok peneliti bersiap mencari persetujuan regulasi untuk perangkat tersebut di Jepang dan sedang memeriksa opsi lisensi dan ekspor untuk pasaran di luar negeri, menurut Sugiyama, yang menolak menyebutkan nama perusahaan yang dimaksud.

"Siapa yang akan berkembang menjadi (potensi) kasus kematian atau mereka yang tanpa gejala sangat penting untuk diklarifikasi," katanya. "Metode ini akan tersedia di seluruh dunia, dan jika mereka mengujinya, maka (penentuan) akan sangat mudah dipahami."

Sumber: Reuters

Baca juga: Seluruh atlet Olimpiade Tokyo akan diwajibkan jalani tes COVID-19
Baca juga: David Moyes kembalikan hasil tes positif COVID-19 kedua kalinya

Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar