Dinkes DKI: Alasan pelarangan makan di tempat adalah penggunaan masker

Dinkes DKI: Alasan pelarangan makan di tempat adalah penggunaan masker

Petugas Satpol PP menutup restoran yang menyediakan layanan makan di tempat saat razia PSBB Jakarta di kawasan Sunter Agung, Jakarta, Kamis (24/9/2020). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nz.

pada saat makan bersama dengan membuka masker, dengan jarak yang relatif dekat, itu bisa berisiko saling menularkan
Jakarta (ANTARA) - Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyebut alasan pelarangan makan di tempat pada restoran atau kafe selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Jakarta jilid II seperti dalam Pergub Nomor 88 Tahun 2020, adalah penggunaan masker.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengatakan alasan tersebut karena saat orang makan akan melepas masker yang berpotensi menyebabkan penularan COVID-19.

Baca juga: Survei: Penyebaran COVID-19 dan PSBB tekan usaha ritel dan restoran

"Pada saat makan, masa makan pakai masker, buka masker kan, pada saat buka masker kadang-kadang tingkat disiplinnya berkurang mungkin katakanlah restonya sudah menyiapkan setting kursi dengan berjarak, tetapi masih ada yang berhadap muka, mejanya satu, berhadapan muka, buka masker, satu keluarga makan bersama. Nah, itu yang menyebabkan risiko pada saat makan bersama dengan membuka masker, dengan jarak yang relatif dekat, itu bisa berisiko saling menularkan," ujar Widyastuti dalam rekaman video Pemprov DKI yang dipantau di Jakarta, Sabtu.

Lebih lanjut, Widyastuti menyebutkan bahwa kebanyakan orang merasa aman, akhirnya abai untuk menerapkan protokol kesehatan ketika bersama dengan orang yang dikenalnya, meski fakta  memperlihatkan 50 persen kasus positif di Jakarta merupakan orang tanpa gejala (OTG).

Baca juga: Langgar protokol kesehatan, dua perkantoran dan 119 restoran ditutup

"Jadi, merasa aman, 'oh, makan dengan keluarga sendiri nih, makan dengan teman kantor sendiri nih', Nggak tahu kalau teman kantornya itu belum pernah diperiksa dan tidak ada gejala. Kan pernah kita bahas, di Jakarta sekitar 50 persen tanpa gejala. Pada saat tanpa gejala, makan bersama, buka masker, duduk bersama, makan. Biasanya orang makan ngobrol nggak? Makan, sambil cerita, pasti buka masker. Di situlah risikonya," ujarnya.

Widyastuti menyebutkan bahwa saat makan bersama risiko droplet atau percikan liur akan  meningkatkan risiko penularan virus.

"Iya, droplet-nya itu akan keluar saat makan bersama ketika kita cerita dan sebagainya, inilah yang jadi alasan Pemprov meminta untuk makanan dibawa pulang saja," ujar Widyastuti.

Baca juga: Langgar protokol kesehatan PSBB Jakarta, 23 restoran disegel

Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta memutuskan kembali menerapkan PSBB ketat. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, dalam kondisi tersebut, restoran hingga kafe masih diperbolehkan beroperasi, tapi tak boleh makan di lokasi.

"Kegiatan usaha makanan, rumah makan, restoran, kafe, diperbolehkan untuk tetap beroperasi, tetapi tidak diperbolehkan untuk menerima pengunjung makan di lokasi," ujar Anies dalam keterangannya, Rabu (9/9).

Restoran hingga kafe hanya diizinkan menerima pesanan take away atau dibawa pulang. Anies menyebut tempat-tempat usaha makanan ini mungkin menjadi perantara penularan COVID-19.

"Jadi pesanan diambil, pesanan diantar, tapi tidak makan di lokasi. Karena kita menemukan di tempat inilah terjadi interaksi yang mengantarkan terjadinya penularan," kata Anies.

Pewarta: Ricky Prayoga
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Vaksin Merah Putih diserahkan ke Bio Farma awal 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar