KKP survei stok sumber daya ikan di Selat Malaka-Samudera Hindia

KKP survei stok sumber daya ikan di Selat Malaka-Samudera Hindia

Kapal KR Bawal Putih III. ANTARA/HO-KKP

Hasil survei ini sangat penting sebagai dasar oleh pengambil kebijakan untuk menyusun kebijakan dalam pengelolaan sumber daya ikan
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui kapal KR Bawal Putih III bakal mengkaji atau melakukan survei eksploitasi laut pengkajian stok ikan di wilayah Selat Malaka dan perairan Samudera Hindia sebelah barat Sumatera.

Kepala Badan Riset dan SDM KKP Sjarief Widjaja di Jakarta, Sabtu, menyatakan pelepasan KR Bawal Putih III berbobot 395 gross tonnage (GT) itu dilakukan di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Muara Baru pada 26 September 2020 secara daring.

"Tinjauan secara periodik terhadap status potensi stok sangat diperlukan, sehingga kontrol terhadap tingkat pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya ikan dapat dilakukan dengan baik," ucapnya.

Baca juga: Menteri Edhy yakin bisa tingkatkan produksi perikanan tangkap

Menurut dia, hal tersebut bisa dijaga salah satunya adalah dengan melaksanakan survei eksplorasi laut.

Tujuan dari survei eksplorasi, ujar dia, yaitu untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai potensi sumber daya ikan (demersal, udang, pelagis kecil, pelagis besar nontuna, dan cumi) yaitu estimasi kepadatan stok dan biomassa serta sebaran spasial kelimpahannya.

Kemudian, mengenali karakteristik biologi beberapa jenis sumber daya ikan, seperti komposisi jenis, struktur ukuran ikan, tingkat kematangan gonad, dan indikasi daerah asuhan-pemijahan, serta habitat sumber daya ikan dan kesuburan perairan.

Kegiatan eksplorasi ini akan difokuskan pada survei perikanan dengan metode hidro-akustik yang dipadukan dengan luas sapuan (trawl) dan oseanografi (fisika, kimia dan biologi). Sehingga dapat menyediakan basis data untuk merumuskan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.

Sjarief Widjaja menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Balai Riset Perikanan Laut (BRPL) Pusat Riset Perikanan dan seluruh jajaran penelitinya yang telah mempersiapkan survei kapal riset Bawal Putih III ini.

"Hasil survei ini sangat penting sebagai dasar oleh pengambil kebijakan untuk menyusun kebijakan dalam pengelolaan sumber daya ikan yang berada di kedua wilayah pengelolaan perikanan tersebut," ujar Sjarief.

Meskipun di tengah pandemi dan dengan segala keterbatasan situasi penerapan PSBB, tim peneliti dan kru Kapal Riset Bawal Putih III dapat tetap berangkat setelah sebelumnya seluruh personil melaksanakan prosedur kesehatan yakni tes usap dan seluruhnya dinyatakan negatif COVID-19.

Survei eksplorasi laut pengkajian stok ikan di perairan WPP 571 dan 572 dengan KR. Bawal Putih III dilaksanakan selama 60 hari (26 September-24 November 2020) dan terbagi ke dalam 4 leg yaitu leg 1 selama 15 hari, kemudian bersandar di Belawan 3 hari; leg 2 selama 11 hari, kemudian sandar di Meulaboh 4 hari; selanjutnya leg 3 selama 11 hari, kemudian sandar di Bungus 4 hari; dan leg 4 selama 12 hari ke Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Muara Baru.

Personil dalam kegiatan ini melibatkan 20 tim peneliti dari BRPL, Pusriskan, Koarmada 1 dan Universitas IPB, yang dipimpin oleh Duranta Kembaren, peneliti BRPL.

Di samping itu, terdapat teknisi dan kru kapal sebanyak 15 personil, yang dipimpin oleh Kirab, sebagai nahkoda.

Baca juga: Menteri Edhy: Gudang pendingin bisa tekan praktik tengkulak ke nelayan
Baca juga: KKP pamerkan peningkatan stok ikan Indonesia pada panel internasional

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Stok berkurang, harga ikan di Pandeglang melambung

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar