Lomba karya tulis ilmiah "MYRES" 2020 diikuti 5.600 pelajar madrasah

Lomba karya tulis ilmiah "MYRES" 2020 diikuti 5.600 pelajar madrasah

Ajang lomba karya tulis ilmiah berbasis riset bagi madrasah tsanawiyah (MTs) dan ​​​​​​​madrasah aliyah (MA) yang disebut Madrasah Young Researchers Super Camp (MYRES) 2020 yang digagas Kementerian Agama. (FOTO ANTARA/Andi J/HO-Kemenag)

Mereka berasal dari 3.460 pendaftar dari jenjang madrasah tsanawiyah (MTs) dan 2.140 jenjang madrasah aliyah (MA) untuk ikut mengirimkan proposal menjadi peserta Madrasah Young Researcher Super Camp (MYRES) 2020
Provinsi Riau (ANTARA) - Sebanyak 5.600 pelajar madrasah seluruh Indonesia telah mendaftar untuk menjadi peserta pada ajang lomba karya tulis ilmiah berbasis riset bagi madrasah tsanawiyah (MTs) dan madrasah aliyah (MA) yang disebut Madrasah Young Researchers Super Camp (MYRES) 2020 yang digagas Kementerian Agama.

"Mereka berasal dari 3.460 pendaftar dari jenjang madrasah tsanawiyah (MTs) dan 2.140 jenjang madrasah aliyah (MA) untuk ikut mengirimkan proposal menjadi peserta Madrasah Young Researcher Super Camp (MYRES) 2020," kata Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KKSK) Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Dr H Ahmad Umar seperti disampaikan Pranata Humas Ahli Muda Kanwil Kemenag Riau Vethtria Rahmi di Pekanbaru, Senin.

Kompetisi itu, katanya, sejak awal memang dirancang antara lain bertujuan untuk menumbuhkan budaya meneliti di kalangan siswa madrasah.

Selain itu, MYRES juga bertujuan mengembangkan potensi intelektual siswa madrasah, sekaligus mendorong pencapaian hasil penelitian mereka yang orisinal, berkualitas, dan kompetitif.

Hingga ditutup pada 25 September 2020 dan sebanyak 5.600 proposal telah didaftarkan untuk menjadi peserta MYRES 2020 itu.

"Ada lonjakan pendaftar yang signifikan pada MYRES 2020, yakni mencapai 5.600 pendaftar," katanya.​​​​​​​

Ahmad Umar menjelaskan ada tiga bidang yang dilombakan di tiap jenjang, yaitu riset matematika, sains, dan pengembangan teknologi, di mana untuk jenjang MTs 1.383 pendaftar, MA 859 pendaftar, riset ilmu sosial dan humaniora (MTs 1.387 pendaftar dan MA 846 pendaftar), serta riset ilmu Keagamaan (MTs 690 pendaftar, MA 435 pendaftar).

Ia menyebutkan MYRES pertama kali digelar tahun 2018 dan saat itu, proposal yang masuk hanya 666 naskah. Tahun 2019, jumlahnya meningkat menjadi 1.018 proposal, 215 MTs dan 803 MA.

"Tahun 2020 naik signifikan. Ini menunjukkan tradisi riset di madrasah terus bergeliat, bahkan sejak jenjang tsanawiyah," katanya.

Sementara itu penelitian di bidang ilmu keagamaan, kata dia, difokuskan pada riset tentang pemikiran, sikap, perilaku, pranata/tradisi keagamaan dan pengajaran Islam. Bidang ini antara lain penelitian tentang Al-Quran, Hadits, Tafsir, Fiqih, Ilmu Kalam, Sejarah Kebudayaan Islam, integrasi keilmuan Islam, dan lainnya

Untuk ilmu sosial dan humaniora, penelitian yang dilakukan terkait kajian fundamental dan/atau terapan berkenaan ilmu-ilmu sosial dan humaniora, baik ekonomi, sosiologi, antropologi, psikologi, seni budaya, bahasa dan sastra, sejarah, geografi, pendidikan, dan lainnya.

Adapun untuk bidang ilmu matematika, sains, dan pengembangan teknologi, penelitiannya tentang kemampuan menyelesaikan permasalahan yang terkait dengan ilmu matematika, eksplorasi alam semesta, modifikasi, inovasi dan teknologi, atau aplikasi dari ilmu pengetahuan alam untuk menemukan solusi dalam memenuhi kebutuhan manusia.

"Ini misalnya penelitian tentang aljabar, trigonometri, statistika, lingkungan, mikrobiologi, zoologi, geofisika, biokimia, bioteknologi, dan lainnya," katanya.

"Saat ini akan dilakukan penilaian atas ribuan naskah proposal yang masuk. Hasil penilaian proposal akan diumumkan pada 6 Oktober 2020 melalui web Kemenag," katanya.

Menurut Ahmad Umar lima provinsi dengan pendaftar terbanyak adalah Jawa Timur (1058), Jawa Tengah (787), Jawa Barat (774), Sumatera Barat (367), dan DI Yogyakarya (314). Adapun tiga provinsi dengan pendaftar paling sedikit adalah Papua (6), Kalimantan Utara (9), dan Maluku (16).

Kasubdit Kesiswaan KSKK Madrasah Kemenag Dra. Hj. Nanik Pujiastuti, M.Si ​​​​​​​menambahkan dari ribuan yang mendaftar, akan dipilih 54 proposal terbaik, MTs 27 proposal, MA 27 proposal. Artinya, pada tiap bidang, ada 9 proposal yang akan dipilih.

"Sebanyak 54 proposal terpilih akan mengikuti pendalaman secara 'online'. Mereka akan melakukan penelitian selama 4 Minggu, 7-28 Oktober 2020," katanya.

"Di sela penelitian, panitia juga memberi kesempatan pendalaman materi pada rentang 13-23 Oktober 2020," katanya.

Hasil penelitian lapangan, kata dia, harus sudah dikirim ke panitia pada 28-30 Oktober. Hasil tersebut dikirim dalam bentuk naskah dan video profil penelitian. Selanjutnya, pada 10 November akan dipilih di setiap bidang 6 proposal terbaik sebagai finalis.

Presentasi online para finalis akan dilaksanakan pada 16-17 November 2020. Pengumuman dan pemberian penghargaan, 19 November 2020.

"Panitia telah menyiapkan apresiasi menarik, termasuk memberi kebebasan bagi para juara untuk memilih MA atau Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk melanjutkan pendidikan," demikian Nanik Pujiastuti,​​​​​​​

Baca juga: Kemenag: kompetisi karya tulis budayakan riset siswa

Baca juga: 54 proposal lolos tahap awal Madrasah Young Researcher Camp

Baca juga: Murid madrasah raih emas Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia

Baca juga: Kemenag uji coba Kompetisi Sains Madrasah daring

Pewarta: Frislidia
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar