Seniman TMII menanti solusi jitu dari pemerintah

Seniman TMII menanti solusi jitu dari pemerintah

Destinasi Dunia Air Tawar tampak lengang saat diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (19/9/2020). (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/hp)

Tapi bagimana mereka sewa tempat tinggal, listrik, khususnya mereka yang berkeluarga itu seperti apa?
Jakarta (ANTARA) - Komunitas seniman Taman Mini Indonesia Indah (TMII) saat ini tengah menanti solusi jitu dari pemerintah untuk mengatasi persoalan ekonomi di tengah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan secara berkelanjutan.

"Saya tahu bahwa mengurus warga dalam jumlah besar itu susah, tapi apa langkah jitunya saat kesenian di ruang budaya itu ditutup semua," kata Koordinator Seniman Tari dan Musik Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Armen, di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Penghasilan seniman TMII kini bergantung pada donasi

Armen tidak menampik perhatian pemerintah daerah dalam bentuk pemberian sembako berisi beras, minyak, gula, dan lainnya.

Namun bantuan tersebut belum sepenuhnya menutupi kebutuhan dasar profesi seniman di Jakarta.

"Kalau hanya bantuan sosial beras, minyak dan lainnya itu hanya kebutuhan perut saja. Tapi bagaimana mereka sewa tempat tinggal, listrik, khususnya mereka yang berkeluarga itu seperti apa? Ini harus ada rundingan lebih jauh," katanya.

Baca juga: TMII tutup total selama PSBB

Pertolongan itu dia lakukan sebab mereka tersebut terusir dari indekos setelah tidak memiliki pendapatan untuk membayar uang sewa.

"Dia hutang Ibu kos, sebab agak susah membayar sewa dan tidak ada pertolongan, akhirnya saya bicarakan dia tinggal di saya, saya yang urus untuk hidupnya," katanya.

Armen pun dituntut dapat bekerja kreatif di tengah impitan beban ekonomi sambil tetap melakukan rekaman musik di studio salah seorang rekannya.

"Kita membuat karya musik Borneo yang berkaitan dengan Kalimantan, kita rekam walaupun harus 'kucing-kucingan' dengan petugas saat masuk ke studio teman. Yang penting jadi hasil karya yang bisa kita tawarkan ke publik," katanya.

Selain itu, Armen bersama komunitasnya juga membangun bersama komunitas "anak punk" dengan memberikan sentuhan tradisi budaya dalam aransemen musik mereka.

Baca juga: PSBB total, TMII diskusikan rencana penutupan operasional

"Ada beberapa karya yang mereka aransemen. Kita produksi untuk aktivitas saja sebab diam di rumah kita stres justru itu akan turunkan daya tahan tubuh," katanya.

"Saya juga pernah mengisi acara di instansi pemerintahan tapi tidak jelas juga. harapannya bisa dapat bantuan keuangan, tapi banyak juga teman-teman yang menanyakan kejelasannya gimana," kata Armen melanjutkan.

Armen meminta otoritas terkait dapat meninjau langsung kondisi seniman saat ini dan bisa segera memberikan solusi jitu bagi keberlangsungan ekonomi mereka.

"Surveilah ke lapangan, bertanya kepada seniman seperti apa?, bagaimana pun kita warga negara," katanya.

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Berwisata ke Museum Macan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar