Bank Dunia: Pandemi pukul ekonomi Asia Timur, picu kemiskinan baru

Bank Dunia: Pandemi pukul ekonomi Asia Timur, picu kemiskinan baru

Ilustrasi: Deretan bangunan liar di bantaran sungai ciliwung di kawasan Petamburan, Jakarta, Kamis (25/9/2014). Salah satu program Pemprov DKI Jakarta adalah penataan pemukiman kumuh dengan cara relokasi warga ke rumah susun sederhana (rusunawa). ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo/pd/aa. (ANTARA FOTO/PRASETYO UTOMO)

COVID-19 tidak hanya menyebabkan pukulan terparah bagi masyarakat miskin, tapi juga mengakibatkan munculnya masyarakat miskin baru
Jakarta (ANTARA) - Bank Dunia dalam laporan ekonomi terbaru menyatakan pandemi COVID-19 telah memukul perekonomian di Asia Timur dan Pasifik sehingga dibutuhkan tindakan cepat agar wabah ini tidak menghambat pertumbuhan dan meningkatkan kemiskinan di tahun-tahun mendatang.

"COVID-19 tidak hanya menyebabkan pukulan terparah bagi masyarakat miskin, tapi juga mengakibatkan munculnya masyarakat miskin baru. Kawasan ini dihadapkan kepada serangkaian tantangan yang belum pernah dihadapi sebelumnya, dan pemerintah menghadapi pilihan yang sulit," kata Wakil Presiden Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik Victoria Kwakwa dalam pernyataan di Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan laporan edisi Oktober 2020 berjudul From Containment to Recovery menyatakan pandemi COVID-19 telah menyebabkan terjadinya tiga guncangan bagi kawasan ini yaitu pandemi itu sendiri, pembatasan terhadap perekonomian dan gaung resesi global yang diakibatkan oleh krisis yang terjadi.

Baca juga: Bank Dunia perkirakan 70 juta-120 juta orang jadi miskin akibat Corona

Situasi itu bisa menyebabkan kenaikan angka kemiskinan di kawasan Asia Timur dan Pasifik untuk pertama kalinya dalam 20 tahun dengan perkiraan sekitar 38 juta orang tetap berada atau kembali terdorong ke dalam kemiskinan, berdasarkan garis kemiskinan negara berpenghasilan menengah-ke atas sebesar 5,5 dolar AS per hari.

"Akan tetapi, ada beberapa pilihan kebijakan yang cerdas yang dapat menekan parahnya dampak tersebut, seperti misalnya dengan berinvestasi pada kapasitas pengujian dan penelusuran serta memperluas cakupan perlindungan sosial yang meliputi masyarakat miskin dan sektor informal," katanya.

Laporan ini memperingatkan jika tidak diambil tindakan di berbagai bidang, maka pandemi dapat mengurangi pertumbuhan regional selama satu dekade ke depan sebesar satu poin persentase per tahun, dengan dampak terbesar dirasakan oleh keluarga miskin, karena mereka memiliki lebih sedikit akses kepada fasilitas layanan kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan keuangan.

Baca juga: Bank Dunia imbau RI lakukan sinkronisasi data penyaluran stimulus

Kepala Ekonom Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo menambahkan banyak negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang telah berhasil mencegah meluasnya penyebaran penyakit dan memberikan stimulus, meski masih harus berjuang untuk pulih dan mencapai pertumbuhan.

"Prioritas saat ini seharusnya mencakup bersekolah dengan aman untuk menjaga modal manusia, memperluas basis pajak yang sempit untuk menghindari pemotongan investasi publik, dan mereformasi sektor-sektor layanan yang dilindungi untuk mendapatkan manfaat dari berbagai peluang digital yang muncul," katanya.

Baca juga: Bank Dunia imbau RI sinkronkan data untuk percepat penyaluran bansos

Baca juga: Indonesia masuki zona resesi, apa arti resesi dan dampaknya?


 

Pewarta: Satyagraha
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Cerita Mari Elka - Dari wartawan "wanna be" akhirnya jadi petinggi Bank Dunia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar