Pemprov Sulbar kembangkan tanaman kedelai 50.000 ha mulai 2021

Pemprov Sulbar kembangkan tanaman kedelai 50.000 ha mulai  2021

Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar (kiri) bersama Direktur PT Dwitunggal Nusa Mandiri Petrus Chandra (kanan) pada penandatanganan kontrak kerja sama pengembangan kedelai di Provinsi Sulbar. (ANTARA/HO/Diskominfo Sulbar)

Mamuju (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat mulai mengembangkan tanaman kedelai dalam skala besar seluas 50.000 hektare untuk meningkatkan kesejahteraan petani di Sulbar.

Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar, di Mamuju, Selasa mengatakan, Pemprov menggandeng PT Dwitunggal Nusa Mandiri untuk pengembangan tanaman kedelai pada 2021.

Komitmen kerja sama tersebut dituangkan melalui penandatanganan nota kesepahaman antara Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar dengan Direktur PT Dwitunggal Nusa Mandiri Petrus Chandra.

"Penandatanganan kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari acara tanam perdana kedelai di Polewali Mandar pada Juni 2020," kata Ali Baal Masdar.

Melalui surat Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI Nomor B 285/TU. 0 20/ C. 4 /09/2020 tanggal 4 September 2020, pada 2021 Provinsi Sulbar mendapatkan program prioritas pengembangan kedelai 50.000 hektare dan menjadi provinsi andalan untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri.

Ia menyampaikan bahwa tujuan akhir dari kerja sama tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan petani di Sulbar.

Untuk itu, Gubernur mengingatkan agar segala bentuk kerja sama yang dilakukan antara pihak investor dan petani, harus benar-benar memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada para petani di Sulbar.

Gubernur mengatakan, harapan yang besar dari kerja sama tersebut adalah persoalan dalam pengembangan kedelai dalam penyediaan bibit unggul dan pemasaran dapat diatasi.

Gubernur juga menyampaikan apresiasi kepada pihak PT Dwitunggal Nusa Mandiri yang telah bersedia bekerja bersama dalam pembangunan pertanian di Sulbar, khususnya dalam pengembangan komoditi kedelai.

"Ini yang kita mau bangun di Sulbar, dimana Sulbar ke depan dapat menjadi daerah sesuai impian kita nantinya," ujar Ali Baal Masdar.

Sementara, Direktur PT Dwitunggal Nusa Mandiri Petrus Chandra mengatakan, makanan paling murah di Indonesia itu adalah tahu dan tempe. Tetapi sangat miris ketika melihat data, hampir semua kedelai yang dikonsumsi masyarakat Indonesia berasal dari Amerika dengan jumlah pengeluaran 2,9 miliar dolar AS yang setara dengan Rp42 triliun.

"Kalau kita impor senjata, mobil, pesawat, itu masih wajar, tetapi bagaimana mungkin hanya tempe saja kita impor dari Amerika," kata Petrus Chandra.

"Saya yakin dimulai dari Sulbar, kita jadikan provinsi ini sebagai yang pertama mengembangkan proyek tanaman kedelai berskala luas dan di Indonesia ini juga yang pertama kali kita akan buat petani Sulbar menjadi contoh bagi para petani di tempat lain," tambahnya

Ketua Pelaksana Brigade Pertanian Sulbar Fakhruddin menyampaikan, kebutuhan kedelai sebagai bahan baku tahu dan tempe serta olahan lainnya setiap tahun mengalami peningkatan, sebab sebagian besar kebutuhan tersebut masih dipenuhi oleh produksi petani.

"Peningkatan produksi kedelai lokal menjadi sangat penting untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor," kata Fakhruddin

Melalui pendekatan pengembangan kawasan kedelai pada 2021, diharapkan terjadi peningkatan produksi di daerah sentra kedelai dan akan tumbuh sentra-sentra baru pengembangan kedelai.

Kegiatan tanam perdana keledai di Kecamatan Wonomulyo seluas 500 hektare, perkiraan minggu ketiga hingga akhir Oktober 2020 telah memasuki masa panen.

"Untuk itu kami berharap kepada investor segera menyiapkan perangkat agar dapat menyerap hasil produksi tersebut," kata Fakhruddin.
Baca juga: Sulut alokasikan 6.153 hektare lahan pengembangan kedelai
Baca juga: Pakar gizi paparkan manfaat kedelai bagi kesehatan

 

Pewarta: Amirullah
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar