Empat peluang investasi Jepang di Indonesia sektor perikanan

Empat peluang investasi Jepang di Indonesia sektor perikanan

Ilustrasi. Petugas karantina melakukan pengecekan ikan tuna asal Sumbar yang akan diekspor. (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

Dengan pola G to G (government to government) bisa mendukung pengembangan kawasan terpencil
Jakarta (ANTARA) - Direktur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) Tokyo Rakhmat Yulianto mengungkapkan empat peluang investasi Jepang di Indonesia di sektor kelautan dan perikanan, di mana salah satunya termasuk investasi bagi startup.

"Dari inquiry (permohonan) yang kami dapatkan baru-baru ini, banyak perusahaan minat investasi cold chain untuk mendukung pasokan makanan jadi perusahaan Jepang di kawasan Jawa termasuk Indonesia Timur," katanya dalam webinar "Menarik Minat Investasi Sektor Kelautan dan Perikanan dari Wilayah Asia Timur" di Jakarta, Rabu.

Namun, khusus untuk investasi cold chain di bidang usaha perikanan tampaknya investor Jepang belum menunjukkan minatnya. Kendati demikian, pemerintah Jepang melalui JICA sudah mulai masuk ke sejumlah Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) termasuk di Morotai dan Biak.

"Kiranya pola seperti ini bisa dilakukan ke depan. Dengan pola G to G (government to government) bisa mendukung pengembangan kawasan terpencil," katanya.

Peluang lain, lanjut Rakhmat, yakni di bidang industri pengolahan dan makanan. Menurut dia, peluang investasi tersebut cukup menjanjikan terlebih kondisi pandemi membuat masyarakat kini akan lebih memilih memasak makanan sendiri.

Peluang selanjutnya, yaitu pendanaan atau investasi bagi startup atau perusahaan rintisan, terutama di bidang perikanan.

"Ini saat yang tepat karena banyak lembaga keuangan Jepang mencari peluang investasi di startup Indonesia. Saya kira kalau ada startup potensial, kami siap memfasilitasi ke lembaga keuangan di sana," katanya.

Rakhmat menuturkan, dalam menarik investasi Jepang, utamanya di sektor kelautan dan perikanan, penting bagi Indonesia untuk menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku yakni produk kelautan dan perikanan itu sendiri.

Ia juga mengingatkan investor Jepang merupakan investor loyal yang akan berinvestasi dalam jangka panjang. Namun, mereka pun membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk mempertimbangkan menanamkan modal di suatu negara.

Rakhmat bahkan menyebut investor Jepang bisa menghabiskan waktu dua hingga enam tahun sebelum benar-benar masuk industri.

"Saran kami, kalau mengundang investasi Jepang, kita harus sepakat dan komit untuk kerja sama jangka panjang. Mereka studi lama, tapi kalau sudah pasti, mereka akan lakukan (investasi) jangka panjang," katanya.

Lebih lanjut, Rakhmat mengatakan dalam jangka pendek program G to G akan dapat lebih cepat direalisasikan, terlebih jika berhubungan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

"Kami siap jika ada proyek yang bisa dipromosikan, tapi harus clean and clear karena orang Jepang akan menanyakan profil proyek, bukan masuk level strategis tapi ke level teknisnya," pungkas Rakhmat.

IIPC merupakan kantor perwakilan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang tersebar di delapan negara dunia.

Baca juga: Bahlil yakinkan investor Jepang iklim investasi RI telah kondusif
Baca juga: Berbincang dengan menteri ekonomi Jepang, Luhut sampaikan dua harapan

 

Pewarta: Ade irma Junida
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

SWF, wadah investasi yang akan dimiliki Indonesia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar