Indonesia masuk peringkat 2 pencipta pekerjaan dari energi terbarukan

Indonesia masuk peringkat 2 pencipta pekerjaan dari energi terbarukan

Pekerja mengecek panel surya di atas gedung, di Jakarta, Senin (31/8/2020). Pemerintah menyiapkan Peraturan Presiden (Perpres) terkait Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi dan dengan kebijakan ini diharapkan target 23 persen bauran energi di Indonesia bisa tercapai. ANTARA FOTO/Reno Esnir/aww.

Mengadopsi energi terbarukan menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan lokal di pasar energi yang berkembang dan sedang berkembang
Jakarta (ANTARA) - Data terbaru yang dirilis Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat kedua dunia dalam penciptaan lapangan pekerjaan dari energi terbarukan khususnya biofuel.

Indonesia berada di peringkat dua dari 10 negara yang memimpin penciptaan pekerjaan untuk biofuel. Peringkat pertama diduduki Brasil dan negara di urutan ketiga dan seterusnya adalah AS, Kolombia, Thailand, Malaysia, China, Polandia, Rumania, dan Filipina.

Indonesia merupakan negara produsen biodiesel terbesar dan IRENA memperkirakan bidang ini mempekerjakan 494.400 orang di Indonesia.

Data terbaru yang dirilis Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) dikutip Antara di Jakarta, Rabu, mengungkapkan, pekerjaan di sektor energi terbarukan mencapai 11,5 juta secara global pada tahun lalu, dengan didominasi oleh panel surya sekitar 3,8 juta pekerjaan atau sepertiga dari total.

Laporan tersebut merupakan edisi ketujuh Renewable Energy and Jobs - Annual Review yang dirilis IRENA.

Baca juga: IESR sarankan RUEN diperbarui untuk percepatan transisi energi

“Mengadopsi energi terbarukan menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan lokal di pasar energi yang berkembang dan sedang berkembang,” kata Direktur Jenderal IRENA Francesco La Camera.

La Camera menjelaskan bahwa bagian yang tumbuh dari pekerjaan di panel surya cenderung off-grid sehingga mendukung pemanfaatan produktif untuk pertanian, pemrosesan makanan, serta perawatan kesehatan di komunitas yang sebelumnya terpencil, terisolasi, dan miskin energi.

Menurut laporan tersebut, 63 persen dari semua pekerjaan di bidang energi terbarukan tercatat di Asia - yang sekaligus menegaskan status Asia sebagai pemimpin pasar. Menyusul setelah panel surya, ada biofuel yang menciptakan 2,5 juta pekerjaan. Banyak dari pekerjaan ini berada dalam rantai pasokan pertanian yang padat karya, terutama di negara-negara seperti Brasil, Kolombia, Malaysia, Filipina, dan Thailand.

Sektor energi terbarukan lainnya yang juga menciptakan banyak pekerjaan adalah industri tenaga air dan angin yang masing-masing menghasilkan hampir 2 juta dan 1,2 juta pekerjaan. Ben Backwell, CEO Global Wind Energy Council (GWEC), mengatakan bahwa pembuat kebijakan harus mengakui semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa investasi di energi terbarukan menghasilkan keuntungan yang lebih besar dibanding investasi di energi fosil.

Baca juga: RUU Energi Baru Terbarukan perlu fokus kepada harga sebagai insentif

“Menghabiskan 1 juta dolar As untuk energi terbarukan menciptakan lapangan kerja tiga kali lebih banyak daripada untuk bahan bakar fosil. IRENA telah menetapkan bahwa masa depan energi bersih, di mana tenaga angin menghasilkan sepertiga dari listrik dunia pada 2050, akan melipatgandakan lapangan kerja energi terbarukan global menjadi 42 juta pekerjaan dan menciptakan perolehan lapangan kerja bersih yang dramatis dibandingkan dengan hilangnya pekerjaan di sektor konvensional,” kata Backwell.

Backwell juga mengingatkan bahwa energi angin memiliki peran penting dalam pemulihan hijau untuk keluar dari krisis COVID. Di sektor angin lepas pantai saja, GWEC memperkirakan 51 gigawatt (GW) akan dipasang di seluruh dunia pada 2024 dan dapat menciptakan hampir 900 ribu pekerjaan selama lima tahun ke depan.

IRENA Jobs Review 2020 ini menyebutkan bahwa 10 negara yang menciptakan pekerjaan terbanyak dari panel surya adalah China, Jepang, Amerika Serikat, India, Bangladesh, Vietnam, Malaysia, Brasil, Jerman, dan Filipina. Kevin Tu, selaku penasihat senior di Agora Energiewende - sebuah lembaga pemikir transisi energi internasional yang bermarkas di Berlin, mengatakan bahwa meski batu bara saat ini mendominasi sektor energi , China menyumbang 58 persen dari konsumsi energi primer, pekerjaan yang disediakan oleh industri pertambangan batu bara China mengalami penurunan dari 5,3 juta pada akhir 2013 menjadi 2,6 juta pada awal 2020.

“Sebagai perbandingan, lapangan kerja yang diciptakan oleh industri terbarukan China naik menjadi 4,4 juta pada 2019, menyumbang 38 persen dari pekerjaan energi terbarukan global. Dari perspektif penciptaan lapangan kerja, masa depan sektor energi China adalah milik energi terbarukan,” kata Kevin.

Baca juga: Legislator: Perlu ada terobosan agar investor tertarik investasi EBT

Pewarta: Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

RUU EBT menjadikan nuklir sebagai energi andalan masa depan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar