Kemendikbud: Eksistensi batik meluas karena bernilai universal

Kemendikbud: Eksistensi batik meluas karena bernilai universal

Model mengenakan busana motif batik ikan marlin rancangan desainer lokal saat peragaan busana Batam Batik Fashion Week 2020 di Dataran Engku Hamidah, Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (12/9/2020) ANTARA FOTO/M N Kanwa/foc.

Pertumbuhan batik luar biasa.
Jakarta (ANTARA) - Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, Dr. Hilmar Farid Setiadi, optimistis eksistensi batik dan industrinya akan semakin tumbuh dan dikenal luas, baik secara domestik maupun internasional, karena memiliki nilai-nilai universal dalam setiap coraknya.

"Kita selangkah lagi untuk menjelaskan ke mereka kalau setiap corak batik punya message dan ada nilai-nilai universal yang bisa dipetik," kata Hilmar melalui siaran virtual, Kamis.

Menurut Hilmar, pertumbuhan industri rumah tangga hingga yang besar di sektor batik terus membaik, seiring peluang pasar di Indonesia yang luas. Ia pun menyebut, batik juga sudah mulai dikenal dan banyak digunakan di pasar global.

"Pertumbuhan batik luar biasa. Industri rumah tangga sampai yang besar pun tumbuh. Market juga masih luas banget. Teman-teman di UNESCO, mereka kebanyakan punya batik, dan bisa dibilang sudah merupakan pakaian yang mendunia," kata Hilmar.

Baca juga: Mendes PDTT gaungkan penggunaan batik hingga ke desa

Baca juga: Inovasi jadi strategi agar batik bertahan saat pandemi dan naik kelas


Menurut Hilmar, tantangan paling besar dalam membuat batik dan dikenal lebih dalam, adalah membuat setiap corak dengan teknik spesifik tertentu, sehingga narasi dan filosofinya muncul dan menjadikan kain tradisional Indonesia ini kian bermakna.

"Cara itu melekat dengan produknya, sehingga efek dari teknik tersebut punya makna bagus dan harus diceritakan," kata Hilmar.

Baca juga: Paduan batik dan unsur Eropa Maquinn Couture di Milan Fashion Week

Baca juga: Bangkitkan UMKM saat pandemi, BI Jember gelar peragaan busana batik


Ketika disinggung mengenai inovasi dan kreativitas, ia mengatakan, saat ini sudah banyak batik yang diperkenalkan melalui produk dan media lain. Contohnya antara lain perlengkapan interior rumah, hingga produk fesyen seperti tas.

Selain itu, ia berpendapat bahwa industri batik tidak bisa berjalan sendiri, namun membutuhkan kerja sama antara banyak pihak, termasuk pemerintah, pelaku usaha, hingga pelaku di industri kreatif.

"Batik bisa diperkenalkan lebih luas lagi melalui industri kreatif seperti audiovisual, game, dan lainnya. Jangan cuma jadi dekorasi dan diambil visualnya saja, tapi diharapkan bisa menjadi core component di produk itu, karena narasinya juga penting," kata Hilmar.

"Potensi, saya PD (percaya diri) banget Indonesia punya kekayaan intelektual yang besar, dan kita baru mengelola sedikit darinya, dan kalau dikerjain dengan sungguh-sungguh, pasti berpengaruh sangat besar," imbuhnya.

Baca juga: Kemenperin bimbing perajin batik, agar bisa bersaing di kancah global

Baca juga: Kemendes sambut Hari Batik Nasional dengan gowes berbatik

 

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2020

SMK di Pekalongan berhasil buat turbin spiral pembangkit listrik

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar