Ketua MPR ingatkan pentingnya bantuan sosial untuk jaga daya beli

Ketua MPR ingatkan pentingnya bantuan sosial untuk jaga daya beli

Dokumentasi. Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) dalam Dialog Kebangsaan dengan Nelayan dan Petani Tambak, di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (27/8/2020). (ANTARA/ HO-Humas MPR)

Mendorong pemerintah meningkatkan dan memfokuskan dalam penyaluran bantuan sosial (bansos) kepada kelompok masyarakat miskin dan rentan agar daya beli masyarakat tidak semakin tergerus
Jakarta (ANTARA) - Ketua MPR Bambang Soesatyo mengingatkan pentingnya penyaluran bantuan sosial untuk menjaga daya beli masyarakat yang telah lesu karena terdampak pandemi COVID-19.

"Mendorong pemerintah meningkatkan dan memfokuskan dalam penyaluran bantuan sosial (bansos) kepada kelompok masyarakat miskin dan rentan agar daya beli masyarakat tidak semakin tergerus," kata Bambang dalam pernyataan di Jakarta, Sabtu.

Bambang mengatakan strategi pemerintah dalam memberikan bansos tersebut perlu dipercepat, bahkan apabila memungkinkan penerima sasaran diperluas, agar daya tahan ekonomi masyarakat tidak mengalami penurunan.

Ia juga mengharapkan penyaluran insentif yang serupa berupa stimulus kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) juga perlu diperlancar agar kegiatan ekonomi dapat segera bangkit.

"Percepatan penyaluran berbagai program bantuan sosial dan perluasan sasaran penerima bantuan subsidi, serta terus memberikan dukungan untuk menjaga daya tahan kelompok yang paling terdampak, seperti pelaku UMKM," katanya.

Dalam kesempatan ini, Bambang mengharapkan pemerintah juga membuat terobosan lainnya sebagai langkah antisipatif yaitu terkait pengadaan komoditas pangan terutama untuk pasokan dan distribusi.

Hal tersebut sangat penting untuk menjaga harga komoditas tetap stabil dan inflasi tetap terkendali, mengingat daya beli masyarakat akan terpengaruh, apabila Indonesia benar-benar mengalami resesi.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat selama tiga bulan berturut-turut telah terjadi deflasi pada perekonomian nasional yaitu Juli sebesar 0,10 persen dan Agustus serta September masing-masing 0,05 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan deflasi yang terjadi selama tiga bulan berturut-turut harus menjadi perhatian khusus karena merupakan tanda-tanda dari perlemahan daya beli masyarakat.

Kondisi itu juga terlihat dari inflasi inti yang tercatat 1,86 persen atau menurun sejak April 2020. Padahal dalam periode tersebut ada momen perayaan Lebaran yang biasanya menyumbang inflasi tinggi.

"Yang perlu diwaspadai adalah inflasi inti yang turun sejak Maret. Inflasi inti rendah itu telah menunjukkan daya beli masih sangat-sangat lemah. Deflasi juga perlu diwaspadai karena sudah tiga bulan berturut-turut, artinya triwulan tiga ini daya beli rendah," katanya.

Baca juga: Resesi dan pandemi, persoalan yang harus diselesaikan bersama
Baca juga: Ketua MPR: Jangan terbuai prediksi RI akan jadi kekuatan ekonomi dunia

Pewarta: Satyagraha
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Wakil Ketua MPR yakini pendekatan persuasif efektifkan sosialiasi vaksinasi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar