Artikel

Ikhtiar melestarikan batik di tengah pandemi Jakarta

Oleh Laily Rahmawaty

Ikhtiar melestarikan batik di tengah pandemi Jakarta

Rumah Batik Palbatu tempat edukasi batik bagi warga Jakarta dan sekitarnya di Kampoeng Batik Palbatu Jalan Palbatu IV No 17, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (4/10/2020). ANTARA/Laily Rahmawaty/aa.

Dengan mengetahui definisi batik otomatis tahu menilai dan membedakan
Jakarta (ANTARA) - Bertahan setelah ronde ke-10 dalam pertandingan tinju profesional mungkin tidak mudah bagi seorang petarung, selain membutuhkan keterampilan dan pengalaman mumpuni, diperlukan juga kesabaran serta taktik untuk menang.

Agaknya demikian gambaran kondisi saat ini, serangan virus SARS-COV-2 memakan waktu tujuh bulan dari awal 2020 telah memukul berbagai sektor di dunia, mulai dari kesehatan hingga perekonomian.

Dari raksasa ekonomi hingga ekonomi rakyat jelata, semua babak belur menghadapi pandemi COVID-19 yang telah menyerang sendi-sendi kehidupan.

Hal ini pula dirasakan oleh penggiat pengrajin batik di Ibu Kota Jakarta, di sebuah perkampungan yang dikenal Kampoeng Batik Palbatu, Jakarta Selatan.

Mereka hingga kini mencoba bertahan diantara tugas suci melestarikan batik sebagai warisan dunia hingga menyelamatkan nasib para pembatik yang semakin terjepit.

Berdiri
Boleh dikatakan beruntung Rumah Batik Palbatu yang lahir setelah Kampoeng Batik Palbatu terbentuk tahun 2011 tepatnya di abad 21 yang mana masyarakat sudah lebih modern dengan kebaharuan pemikiran yang merekat kuat.

Meski sejarah panjang batik dimiliki pebatik di pedalaman Jawa, namun di jantung Ibu Kota Jakarta, semangat untuk melestarikan batik di tengah terjangan pandemi terus menapak.

Baca juga: Pebatik difabel Jaksel ciptakan motif batik unsur Corona

Melalui kolaborasi 'Duo Budi' yakni Budi Darmawan seorang 'even organizer' yang dipanggil Iwan dan Budi Dwi Hariyanto seorang penggiat seni yang dipanggil Harry membentuk Kampoeng Batik Palbatu setelah dua tahu badan kebudayaan dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yakni UNESCO mendeklarasikan batik sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dari Indonesia.

"Kenapa kampung batik, karena kita ingin buat kampung pengrajin batik, bukan industri. Jualan batik itu gampang, bawa batik dari Jawa dijual di Jakarta selesai. Kita berfikiran untuk membikin kampung batik dalam bentuk kampung pengrajin," kata Iwan saat dihubungi di Jakarta, Sabtu.

Dua Budi mendeklarasikan berdirinya Kampoeng Batik Palbatu yang berada di RW 04 Jalan Palbatu IV, Kelurahan Menteng Dalam, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, dengan mengadakan pameran seni batik selama dua hari berturut-turut.

Pameran batik diikuti 18 pebatik dari sejumlah daerah yang diundang untuk menampilkan batik karyanya dengan memanfaatkan teras rumah warga sebagai tempat memajang karyanya. Selain itu, para pebatik juga mengajarkan ibu-ibu setempat cara membatik.

Bukan hanya itu, warga dan pebatik pun bersama-sama memeriahkan acara tersebut melukis jalan dengan motif batik. Hingga menyabet rekor MURI pengecetan jalan dengan motif batik terpanjang, 133,9 meter.

Kesuksesan kegiatan perdananya itu membuat warga dan pengrajin batik meminta agar kegiatan serupa kembali diadakan.

Hingga tahun 2012, kegiatan serupa dengan nama Jakarta Batik Carnival (JBC) selama dua hari bertepatan telah terselenggara bersamaan dengan Hari Pendidikan Nasional 5-6 Mei 2012.

Lewat JBC, Duo Budi berhasil meyakinkan warga untuk berpartisipasi melakukan pengecetan tembok dengan motif batik, hampir di setiap gang. Sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang datang.
Dua pebatik penyandang tuna rungu membatik di Rumah Batik Palbatu tempat edukasi batik di Kampoeng Batik Palbatu Jalan Palbatu IV No 17, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (4/10/2020) (ANTARA/Laily Rahmawaty)


Tujuan
Kampoeng Batik Palbatu kini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata edukasi batik di Jakarta. Kegiatan utamanya adalah edukasi seperti yang dikatakan Iwan.

Hampir setiap hari tamu dari Jakarta, luar Jakarta hingga mancanegara datang untuk belajar batik di Kampoeng Batik Palbatu. Kegiatan belajar dilaksanakan di Rumah Batik Palbatu, maupun mendatangi tempat-tempat ketika para penggiat batik Palbatu diundang.

Baca juga: Perajin batik difabel di Jakarta Selatan kini memproduksi masker

Kegiatan edukasi melibatkan komunitas binaan Rumah Batik Palbatu, seperti komunitas ibu-ibu penggiat batik di RW 04 Palbatu, kelompok millenial, komunitas tuli serta komunitas penderita kanker.

Rumah Batik Palbatu, tidak hanya tempat edukasi, tapi juga tempat produksi serta galeri untuk batik-batik karya penggiat batik di Jakarta.

Dari 2014 hingga 2019 kegiatan belajar batik rutin dilaksanakan setiap harinya. Mereka yang belajar datang dari semua kalangan, masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, hingga turis dari sejumlah negara.

Bagi Budi Dwi Hariyanto atau Harry, Rumah Batik Palbatu adalah wadah bagi untuk semua pihak baik yang bisa mendengar (non difabel) juga bisa buat teman-teman difabel.

"Dari 2011 kita melakukan pembinaan dengan harapan bisa melestarikan batik meningkatkan nilai ekonomi masyarakat," kata Harry.

Harry menyakini lewat edukasi masyarakat melek tentang batik, mampu membedakan batik yang benar dengan yang tiruan.

Batik yang benar yaitu motif di atas kalin ditulis dengan canting atau cap dengan malam yang dipanaskan. Proses merintangi di atas kain yang dinamakan dengan membatik.

Sedangkan yang tidak melalui proses tersebut tidak disebut batik tapi kain motif batik atau tiruan daripada batik.

Batik adalah kata kerja, batik adalah sebuah proses, mencanting atau cap. Dengan pemahaman ini diharapkan timbul kecintaan, menghargai dan melestarikan.

Sehingga pola pikir bahwa batik asli pasti mahal. Karena mahal belum tentu asli dan asli belum tentu mahal.

"Dengan mengetahui definisi batik otomatis tahu menilai dan membedakan, sehingga jika sudah tahu bisa saja menanyakan ketika membeli apakah batik ini ditulis apa dicap atau cetak, kalau cetak itu bukan kain batik, tapi kain dengan motif batik," ujar Harry.

Rumah Batik Palbatu mengambil peran mengedukasi semua pihak agar jangan sampai pengrajin batik tergerus karena masyarakat tidak bisa membedakan batik asli dan tiruan. Membeli batik jutaan yang nyatanya adalah batik printing.
Harry pendiri Rumah Batik Palbatu memperlihatkan batik motif kontemporer karyanya yang dipajang di galeri batik Rumah Batik Palbatu di Jalan Palbatu IV No 17, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (4/10/2020) (ANTARA/Laily Rahmawaty)


Terhenti
Sejak pemerintah mengumumkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Maret hingga Juni 2020, seketika aktivitas edukasi batik di Rumah Batik Palbatu terhenti, banyak kegiatan dibatalkan, kunjungan tak dapat dilakukan, produksi dihentikan, pemasaran tak dapat dilakukan, nihil pemasukan.

Baca juga: Memaknai nilai batik di tengah pandemi

Operasional terhenti tapi biaya hidup terus berjalan, situasi pandemi membuat pengrajin batik terkaget-kaget dan bingung bagaimana caranya bertahan.

Harry mengatakan pengrajin belum ada pengalaman dan kemampuan menghadapi situasi sulit tersebut. Hingga akhirnya bertahan tanpa pemasukan, karena tidak ada kegiatan memproduksi.

Memproduksi dapat dilakukan, tetapi daya beli tidak mendukung karena keuangan masyarakat juga menurun.

Hingga PSBB dilonggarkan, Rumah Batik Palbatu membuka lagi aktivitasnya, tetapi semua kegiatan yang dikerjakan tidak mampu menutup biaya operasional termasuk sewa Rumah Batik Palbatu belum tertutupi, berhutang jadi salah satu jalan.

Tidak ada tempat bertanya, tidak ada 'rule model' (percontohan) untuk mengatasi dampak yang dirasakan para pengusaha dan pengrajin batik di Indonesia dan Jakarta.

"Ini yang membuat kami terhenti, berdiam diri tidak ngapa-ngapain. Untuk memproduksi tidak bisa karena khawatir corona," kata Harry.

Memasuki masa PSBB transisi, Iwan dan Harry memutar otak untuk bertahan, dengan satu kata kunci yaitu inovasi.

Belajar dari pertemuan virtual melalui "zoom meeting", Iwan mengembangkan kelas membatik virtual dengan menggandeng komunitas millenial binaanya.

Jikapun ada pertemuan yang harus tatap muka langsung, maka dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat.

Hikmah pandemi
Kebingungan menghadapi situasi pandemi, terlebih tidak ada tempat untuk bertanya apapun yang dapat mengajarkan cara menghadapi situasi sulit akibat COVID-19.

Iwan yang juga Ketua Asosiasi Pengrajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APBI) belajar dari pertemuan-pertemuan daring yang dilakukannya selama PSBB.

Baca juga: Presiden tetap rayakan Hari Batik Nasional di tengah pandemi

Dari pertemuan tersebut, Iwan menemukan lima rumus yang saat ini dijalaninya dalam mengatasi pandemi COVID-19.

Kelima rumus itu adalah inovasi, kolaborasi, sinergi, membuat ekosistem dan komunitas.

Berawal dari inovasi, edukasi dapat dilakukan secara daring maupun luring. Dari inovasi diperlukan kolaborasi, agar kegiatan yang membutuhkan tatap muka dapat dilaksanakan.

Untuk melaksanakan kegiatan tersebut diperlukan sinergi. Dengan adanya sinergi, diperlukan ekosistem dan membuat komunitas untuk menjalankannya.

Iwan beruntung telah memiliki sejumlah komunitas pebatik yang telah disertifikasi olehnya. Dari situ ia tinggal membentuk sinergi, kolaborasi dan ekosistem untuk menjalankan kegiatan batik di masa pandemi.

Sebagai contoh apabila ada permintaan membatik dari luar daerah dapat dilakukan secara daring. Tapi tidak semua daerah memiliki jaringan internet yang kuat, dan tidak semua pelaku mengerti dengan teknologi.

Maka lewat sinergi dan kolaborasi yang ada, menggerakkan komunitas yang sudah dilatih di daerah untuk memberikan pendampingan, ini yang disebut dengan ekosistem.

"Kelima langkah itu yang kita lakukan sekarang," kata Iwan.

Hingga kini di Hari Batik Nasional 2 Oktober 2020 yang berlangsung di tengah pandemi, tidak ada kemeriahan, tetapi penggiat batik terus berkarya dan berinovasi.

Menggandeng komunitas tuli membuat batik edisi Jakarta terkini mengandung unsur motif corona yang siap dipasarkan sebagai warisan generasi kelak, kalau pandemi COVID-19 pernah melanda Ibu Kota.

Tak mudah memang untuk bertahan, apalagi tujuh bulan telah berlalu, pandemi yang diprediksi berakhir Juli 2020 nyatanya masih menghantui.

Tahun 1918, dunia maupun Indonesia pernah dihantam pandemi bernama Flu Spanyol dengan rentang waktu wabah selama tiga tahun (1918-1920).

Setelah 100 tahun berlalu, kini wabah virus kembali melanda. Tapi setidaknya sudah punya pengalaman untuk berkaca dan membaca, langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk tetap bertahan.

Hal itu tak ubahnya seperti upaya pelestarian batik lewat edukasi yang dilakukan Rumah Batik Plabatu Jakarta Selatan. Yang tetap bertahan meski pandemi seakan menelan.

Oleh Laily Rahmawaty
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Batik Sukun, ikon baru Kota Malang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar