Kinerja ekspor Indonesia ke China meningkat di tengah pandemi

Kinerja ekspor Indonesia ke China meningkat di tengah pandemi

Manggis yang berasal dari para petani di Indonesia dijual pedagang di Pasar Zuojiazhuang, Beijing. Manggis salah satu komoditas ekspor andalan Indonesia ke China dalam tiga tahun terakhir. ANTARA/M. Irfan Ilmie/pri.

Ada penurunan defisit yang sangat signifikan pada neraca perdagangan periode Januari-Agustus 2020 yaitu sebesar 69,2 persen
Jakarta (ANTARA) - Kinerja ekspor Indonesia ke China pada Januari-Agustus 2020, di tengah pandemi COVID-19 terus naik yang didorong oleh peningkatan sejumlah ekspor produk unggulan dan potensial RI.

“Menurut data yang dirilis Kepabeanan Tiongkok, nilai perdagangan Indonesia-Tiongkok pada periode Januari-Agustus 2020 mencapai 48,7 miliar dolar AS,” ujar Duta Besar RI untuk China dan Mongolia Djauhari Oratmangun lewat keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat.

Dari jumlah tersebut, lanjut Djauhari, ekspor Indonesia ke China mencapai 23,3 miliar dolar AS atau tumbuh sebesar 6,4 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya di periode yang sama.

Sementara, nilai impor Indonesia dari China pada periode tersebut mencapai 25,4 miliar dolar AS atau menurun sebesar 11,8 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

“Ada penurunan defisit yang sangat signifikan pada neraca perdagangan periode Januari-Agustus 2020 yaitu sebesar 69,2 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Apabila tren tersebut terus berlangsung, diharapkan sampai akhir tahun ini defisit akan berkurang banyak,” jelas Djauhari.

Sejumlah produk unggulan dan potensial Indonesia yang meningkat secara signifikan, di antaranya besi dan baja (HS 72) meningkat 134,3 persen; tembaga (HS 74) meningkat 88,5 persen; alas kaki (HS 64) meningkat 31,9 persen; kertas dan paperboard (HS 48) meningkat 118,7 persen; produk perikanan (HS 03) meningkat 16,2 persen.

Kemudian, karet (HS 40) meningkat 25,8 persen; plastik (HS 39) meningkat 20,4 persen; timah (HS 80) meningkat 1163,6 persen; aluminium (HS 76) meningkat 4124,1 persen; bahan kimia anorganik (HS28) meningkat 63,1 persen; buah-buahan tropis (HS 08) meningkat 72,8 persen; kopi, teh dan rempah-rempah (HS 09) meningkat 280,8 persen; produk tekstil (HS 63) meningkat 3296,3 persen; serta produk kain khusus (HS 56) meningkat 54,2 persen, dan lain-lain.

Sementara itu, realisasi investasi China di Indonesia pada periode Januari-Juli 2020 mencapai 2,4 miliar dolar AS, meningkat 9 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Dengan demikian, China merupakan investor kedua terbesar di Indonesia. Namun, apabila ditambah dengan investasi dari Hongkong senilai 1,7 miliar dolar AS, maka dapat dikatakan China bersama Hongkong merupakan investor terbesar di Indonesia pada kuartal pertama tahun 2020.

Sementara itu, Atase Perdagangan Marina Novira menyampaikan akan terus berupaya mendorong ekspor Indonesia ke China, terutama di tengah pandemi COVID-19. Salah satunya, dengan memanfaatkan platform digital.

“Pemanfaatan platform digital dengan optimal dalam situasi pandemi saat ini dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kinerja ekspor Indonesia ke Tiongkok dan pada akhirnya diharapkan dapat menjaga neraca perdagangan Indonesia,” pungkas Marina.

Baca juga: Ekspor Indonesia ke China naik, impor turun
Baca juga: KKP sebut ekspor ikan hias ke China semakin mudah
Baca juga: Luhut bidik potensi ekspor ke China tahun depan


Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

ICW paparkan kejanggalan kebijakan ekspor benih lobster

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar