Jakarta (ANTARA News) - Maraknya video peragaan busana, gambar-gambar mewah para model, dan katalog produk-produk perempuan membuat merk-merk terkenal menciptakan "cermin digital" menanggapi tuntutan e-commerce yang semakin berkembang.

Iklan cetak tradisional di majalah-majalah tidak lagi menjadi satu-satunya cara untuk berkomunikasi dengan publik dan rumah-rumah busana menjangkau para pelangganya melalui laman-laman internet seperti Facebook, Twitter, atau aplikasi telepon.

Penguatan merk dengan membangun desain produk, kualitas, dan aura merk, rumah busana sedang berusaha menciptakan kembali atmosfer online yang lebih eksklusif.

"Jika berjalan lancar, maka laman itu akan membawa atmosfer mewah yang bahkan lebih dasyat dari media tradisional," kata Michele Norsa, pemimpin eksekutif rumah busana di Florence, Italia, Salvatore Ferragamo seperti yang dikutip Marie-Louise Gumuchian dari Reuters.

Website dan jejaring sosial menunjukan prospek pertumbuhan yang tinggi untuk kelompok-kelompok produsen busana mewah setelah mereka bangkit dari krisis ekonomi dan para konsumen yang semakin percaya diri berbelanja menggunakan Internet untuk.

Ketika berbelanja busana mewah yang selalu terbayang adalah melihat, menyentuh, atau bahkan membaui wangi produk tersebut dengan kenyamanan pelayanan pribadi. Itulah yang akan diterjemahkan dalam pengalaman berbelanja secara online.

Yoox, sebuah situs Italia, yang menawarkan produk mewah dari Emporio Armani dan valentino, berusaha membangun websitenya "sesuai dengan warisan dan DNA sebuah merk."

Mereka menampilkan foto-foto berkilauan dan video, yang melibatkan fotografer mode Nick Knight, dan pelayanan berbelanja kelas atas.

"Perhatian yang luar biasa pada detail dan pemahaman yang sangat baik akan apa yang dibutuhkan oleh setiap merk adalah elemen kunci membangun sebuah rumah busana online," kata Federico Marchetti, CEO Yoox.

"Aspek lain yang sangat penting adalah penampilan. Rumah busana online harus sangat diperhitungkan agar menjadi tempat belanja yang unik ... Berkat semuanya itu, rumah busana mewah online dapat menjadi 'cermin digital' sungguhan yang dapat mengekspresikan dirinya sendiri dan identitas merk," ia menambahkan.

Pelanggan Baru

Marchetti mengatakan sebagian besar pesanan yang mereka dapat datang dari kota-kota tempat barang-barang bermerk tidak dipasarkan atau terbatas.

"Sebuah tingkat eksklusifitas baru hadir akibat penawaran barang-barang yang sebelumnya hanya ada di kota-kota metropolitan seperti Tokyo, Paris, dan London," paparnya.

Beberapa rumah busana bahkan lebih menyukai beriklan di jalur jejaring sosial.

"Pelanggan kami bisa berselancar di dunia maya sambil melihat barang-barang bagus," kata Gianluca Brozzetti, CEO rumah busana Italia Roberto Cavalli.

Penjualan rumah busana online meningkat sampai 3,6 miliar Euro (4,9 miliar dollar) tahun lalu dan semakin terbuka untuk terus berkembang, demikian keterangan lembaga konsultan Bain.

Bagaimanapun juga toko online tidak harus menjadi replika dari sebuah butik, demikian Claudia D'Arpizo, partner Bain.

"Laman itu harus lebih menghibur, interaktif, dan lebih aktif. Tetap menjaga aura kemewahannya sambil mengurangi kesan mengintimidasi," ulasnya lebih lanjut.

Dari berbagai gaya iklan yang beragam, iklan website diharapkan bertumbuh 9,5 persen di tahun 2009 diikuti dengan pertumbuhan 12 sampai 13 persen pertahun di tiga tahun mendatang.

"Dari sudut pandang komunikasi, internet sangat efektif, efisien, dan mengandung pesan dalam berkomunikasi dengan pelanggan," jelas Robert Polet, CEO Gucci Group kepada surat khabar Italia Il Sole, sambil menyebutkan bahwa pada September 2009 saja ada dua juta pengunjung pernah masuk ke laman mereka.

"Ketika beriklan, Anda membayar satu halaman sebuah majalah dan berharap sejuta orang yang membuka halaman itu akan manghabiskan lima detik waktunya untuk fokus pada iklan Anda, walaupun Anda tahu sebenarnya banyak orang yang tidak melihatnya sama sekali," pungkasnya.

(Ber/S026)

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2010