Gastronomi berkelanjutan jadi solusi krisis pangan masa depan

Gastronomi berkelanjutan jadi solusi krisis pangan masa depan

Salah satu kawasan tanaman sagu di Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe. (foto ANTARA/ Azis Senong)

masih banyak makanan nusantara yang terbuat dari olahan sagu
Jakarta (ANTARA) - Gastronomi berkelanjutan yang memanfaatkan sumber pangan dan budi daya lokal dari keanekaragaman hayati yang berlimpah di berbagai daerah di Indonesia dapat menjadi solusi krisis pangan masa depan,

Head of Commercial ANJ Bueno Nasio Nelda Hermawan dalam webinar Sagu Sebagai Solusi Krisis Global yang digelar Yayasan KEHATI di Jakarta, Minggu, mengatakan berbicara tentang sumber pangan dan budi daya lokal dapat terhubung dengan seni memasak gastronomi.

Sebagai mahzab kuliner yang mengaitkan erat antara makanan dan akar budaya, gastronomi dapat memanfaatkan sumber pangan lokal yang melimpah di beberapa daerah di Indonesia, salah satunya sagu.

Selain manfaatnya pada ketahanan pangan, sagu memiliki kandungan positif yang dapat mendukung pola makan sehat masyarakat Indonesia. “Sagu adalah sumber karbohidrat asli Indonesia yang bersifat prebiotik, bernilai indeks glikemik rendah dan bebas gluten,” katanya.

Prebiotik adalah unsur dalam makanan yang menunjang pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme baik di dalam saluran pencernaan. Makanan dengan indeks glikemik rendah dapat membantu seseorang untuk mengurangi kadar kolesterol total dan LDL dalam darah, mengurangi risiko penyakit diabetes, dan jantung, serta membantu menjaga berat badan.

Sedang makanan bebas gluten dapat mencegah seseorang dari menderita celiac atau intoleransi gluten yang dapat menyebabkan peradangan di usus kecil, diare akut, muntah-muntah, hingga keguguran.

Baca juga: KEHATI sebut sagu potensial jadi solusi kedaulatan pangan di Indonesia

Baca juga: Keanekaragaman hayati tingkatkan pangan lokal


Terdapat lebih dari 300 jenis makanan dari olahan sagu (data kemendikbud) di Kepulauan Meranti, Riau. Salah satu masakan berbahan sagu di sana yaitu nasi sagu.

Nasi sagu rempah atau barempa diolah dari sari pati sagu dan dicampur dengan bahan-bahan lokal lain seperti cengkeh, kapulaga, kayu manis, jahe dan serai. Di Sumatera Selatan terdapat pempek, dan Sumatera Barat memiliki lompong sagu, kue khas Minang yang mulai lenyap dari meja makan.

Sedangkan di Pontianak, Kalimantan Barat, terdapat beberapa makanan dari olahan sagu seperti bagea, sagu gunting, mie sagu, dan bubur sagu. Sementara di Kabupaten Sangihe terdapat 259 jenis makanan berbahan sagu dan berhasil tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) pada 2014 atas rekor penyelenggaraan penyajian 259 makanan berbahan dasar sagu dengan variasi terbaik pada Festival Sangihe.

"Kalau ditelisik, masih banyak makanan nusantara yang terbuat dari olahan sagu. Apalagi jika bicara Maluku dan Papua," kata Nelda.

Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI Riki Frindos mengatakan melalui gastronomi, kebanggaan masyarakat Indonesia khususnya generasi muda dapat dibangun.

"Makanan lokal yang disantap hari ini tidak hanya berbicara materi bahan baku, namun sumber inspirasi leluhur, mulai dari pengetahuan, nilai dan kebajikan, serta teknologi lokal." ujarnya.

Selain itu, pengembangan sagu yang ditanam secara lokal membantu meningkatkan ekonomi suatu daerah, mendukung para petani dan mengurangi gas rumah kaca serta sumber daya yang digunakan dalam mengangkut makanan, kata Riki.

Di tahun 2008, FAO memperkirakan krisis pangan global akan terjadi, dimana persediaan pangan harus ditingkatkan sampai 50 persen di tahun 2030.

Pada April 2020, salah satu badan PBB itu mengatakan bahwa krisis pangan global akan datang lebih cepat sebagai dampak pandemi COVID-19, sehingga hal itu pun menjadi perhatian Presiden Joko Widodo dengan mengambil kebijakan pembentukan food estate untuk menjawab permasalahan itu terutama soal ketersediaan beras.

Yayasan KEHATI melalui kertas kebijakan yang dikeluarkan di 2019, merekomendasikan agar pemerintah dan para pihak harus mengembalikan konsep pangan nusantara yang didasarkan pada keberagaman sumber daya hayati dan budaya lokal.

Sastrapradja et.al (2010) dalam salah satu tulisannya yang berjudul “Keanekaragaman Hayati Pertanian Menjamin Kedaulatan Pangan” pun menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia harus menyadari dan wajib mengetahui tentang kekayaan hayati yang dimiliki bangsanya.

Baca juga: BRG gandeng masyarakat kembangkan perkebunan sagu

Baca juga: Dewan Guru Besar IPB optimistis terhadap industri berbasis sagu

 

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kementerian LHK dorong TNGM sebagai konservasi sumber daya alam

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar