Penggembalaan Bukan Ancaman Cagar Alam Mutis

Penggembalaan Bukan Ancaman Cagar Alam Mutis

Cagar Alam Mutis, Nusa Tenggara Timur (NTT) ((Pemda NTT/P003))

SoE (ANTARA News) - Penggembalaan liar dalam kawasan Cagar Alam Mutis seluas sekitar 12.000 hektare di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), bukan ancaman bagi proses regenerasi tumbuh kembangnya tanaman di kawasan tersebut.

"Sejak dulu ternak sapi maupun kuda berkeliaran bebas dalam kawasan Cagar Alam Mutis. Injakan kaki ternak yang `melukai` akar tanaman selalu menumbuhkan tunas baru, bukan mematikan," kata Edy Oematan, tokoh adat dari Desa Nenas, wilayah kantung (enclave) dalam kawasan Cagar Alam Mutis.

Oematan mengemukakan hal ini kepada ANTARA News dan Kompas yang melakukan perjalanan jurnalistik ke kawasan Cagar Alam Mutis, sekitar 45 km barat SoE, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan atau sekitar 155 km timur Kupang, selama Sabtu (13/3) dan Minggu (14/3).

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTT Kemal Amas sebelumnya mengatakan Cagar Alam Mutis saat ini mendapat ancaman yang cukup serius dari penggembalaan ternak liar milik warga Desa Nenas yang berada dalam wilayah kantung cagar alam tersebut.

"Injakan kaki kuda atau sapi di kawasan tersebut sangat menghambat proses regenerasi tumbuh kembangnya tanaman di Cagar Alam Mutis. Ini ancaman yang cukup serius dalam menjaga kelestarian hutan," katanya.

Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Nenas El Panie mengatakan masalah penggembalaan liar sudah lama berlangsung dalam kawasan Cagar Alam Mutis, dan tak pernah merusak kelestarian hutan seperti yang dikhawatirkan BKSDA dan Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan.

"Jika tidak ada penggembalaan, rumput-rumput yang ada dalam kawasan Cagar Alam Mutis berpotensi terbakar. Kebakaran dalam kawasan hutan lindung, misalnya, selalu muncul tanpa diduga. Sampai sejauh ini, kami belum temukan orang yang membakar dalam kawasan hutan," kata Simon Sasi, mantan Kepala Desa Nenas.

Menurut dia ternak sapi maupun kuda tidak pernah makan atau merusak tanaman "ampupu" (eucalyptus urophylla) yang menjadi ciri khas Cagar Alam Mutis.

"Ekosistem serta kelestarian alam dalam kawasan Cagar Alam Mutis tetap terjaga hingga kini karena setiap penggembala ternak akan selalu menjaganya. Aturan adat kami di sini sangat tegas sejak ayah saya Leonardus Oematan menjadi raja di wilayah ini,"katanya.

Menurut dia tanaman yang sudah mati pun dilarang diambil untuk kayu api, apalagi membakar hutan.

Menurut Simon Sasi jumlah ternak sapi yang ada dalam kawasan hutan lindung Mutis-Tiimau dan Cagar Alam Mutis sekitar 400 ekor, sedangkan ternak kuda antara 30-40 ekor.

"Masyarakat kami di sini (Nenas) sangat patuh pada aturan adat sehingga terus menjaga kelestarian hutan dalam Cagar Alam Mutis. Ternak masyarakat yang ada dalam kawasan cagar alam ini bukanlah menjadi ancaman seperti yang dikhawatirkan banyak pihak," kata Kepala Desa Nenas Uria Kore.

Ia menambahkan pada saat musim hujan, warga desa dalam wilayah kantung Cagar Alam Mutis wajib menanam pohon dalam kawasan tersebut.

"Anakan tanaman diperoleh dari dalam kawasan hutan atau dari ladang penduduk yang mengolah lahan dalam kawasan itu kemudian ditanam kembali pada areal yang masih kosong atau di samping pepohonan yang sudah tua sebagai bentuk regenerasi hutan," katanya.

Cagar Alam Mutis merupakan daerah tangkapan air (hulu) bagi dua daerah aliran sungai (DAS) besar di Pulau Timor bagian barat NTT, yakni DAS Benenain seluas 384.331 hektare dan DAS Noelmina 191.037 hektare.

Menurut peneliti ilmu pertanian dari Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Dr L Michael Riwu Kaho, sebagian besar tata air permukaan di Pulau Timor bagian barat NTT diatur oleh hubungan antara hutan dalam Cagar Alam Mutis dan daerah tengah serta hilir dua DAS besar tersebut.

Cagar Alam Mutis berada pada ketinggian sekitar 2.472 meter dari permukaan laut, kawasan itu merupakan salah satu bentang terakhir kawasan hutan di Timor bagian barat NTT.

Menurut Riwu Kaho luas hutan di Timor bagian barat NTT hanya 240.109.178 hektare, yang tergolong sebagai hutan primer kering sekitar 6,15 persen dari luas kawasan hutan yang ada.

"Melihat kondisi hutan yang ada, kawasan Cagar Alam Mutis memiliki nilai yang sangat penting karena merupakan salah satu bentang terakhir dari kawasan hutan di Timor bagian barat NTT," katanya.
(T.L003/E005/P003)

Pewarta: priya
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2010

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar