Artikel

11 Oktober yang fenomenal

Oleh Jafar M Sidik

11 Oktober yang fenomenal

Petenis Spanyol Rafael Nadal berpose dengan trofi French Open yang sudah 13 kali dia menangkan, dengan latar belakang menara Eiffel di Paris, Prancis, pada 12 Oktober 2020. (REUTERS/GONZALO FUENTES)

Saya belum selesai. Saya masih merasa mampu meningkat
Jakarta (ANTARA) - Minggu 11 Oktober 2020 sungguh hari yang istimewa karena dalam sehari ini tiga pencapaian fenomenal dalam dunia olahraga tercipta yang sekaligus bisa menjadi awal untuk terbukanya lembaran-lembaran baru rekor-rekor yang bisa tercipta di kemudian hari.

Pencapaian fenomenal pertama tercipta dari Formula Satu ketika Lewis Hamilton menyamai rekor 91 kemenangan yang dicatat legenda olahraga ini, Michael Schumacher, setelah sukses menaklukkan Sirkuit Nurburgring di Jerman dalam Grand Prix Eifel.

Beberapa jam kemudian peristiwa fenomenal kedua pecah di Roland Garros, Prancis, ketika Rafael Nadal membuat petenis-petenis saat ini dan masa depan hampir mustahil bisa menyamai apalagi melewati rekor 13 kali juara French Open yang dicatatnya.

Baca juga: Hamilton tak pernah membayangkan meraih kemenangan ke-91

Itu juga berarti petenis Spanyol ini menyamai koleksi 20 gelar Grand Slam yang merupakan gelar terbanyak sepanjang masa untuk putra yang sebelum ini kokoh digenggam Roger Federer.

Menyeberangi Atlantik, masih dalam tanggal yang sama, Los Angeles Lakers menuliskan rekor lain yang selain menuntaskan dahaga gelar 10 tahun, tetapi juga menyamai pencapaian Boston Celtics sebagai tim yang paling sering menjuarai NBA dengan 17 kali juara.

Tonggak ini dicapai setelah mereka menaklukkan Miami Heat 106-93 dalam game keenam Final NBA tahun ini yang sekaligus mengakhiri rangkaian final berformat best of seven itu dengan 4-2 untuk menjadi juara baru NBA.

Semua peristiwa itu terjadi pada hari yang sama di tengah atmosfer kompetisi yang sama-sama dikurung virus corona dalam tiga cabang olahraga yang popularitas globalnya hanya kalah oleh sepak bola.

Hamilton masih memburu ambisi menyamai tujuh kali juara dunia Formula Satu yang juga dipegang Michael Schumacher.

Baca juga: Statistik Hamilton vs Schumacher sejauh ini

Seandainya terjadi Hamilton yang sudah berusia 35 tahun sembilan bulan itu bakal menjadi pebalap Formula 1 tertua yang menjadi juara dunia.

Schumacher mematrikan gelar juara dunia ketujuh kalinya pada 29 Agustus 2004 di Grand Prix Belgia ketika sang legenda dari Jerman berusia 35 tahun tujuh bulan. Schumacher dan Hamilton sama-sama dilahirkan bulan Januari.

Namun tidak seperti Schumacher setelah 2004 ketika eranya memudar, Hamilton tak menunjukkan tanda-tanda meredup, sebaliknya dia bisa terus mempertahankan dominasinya di Formula Satu sampai beberapa tahun ke depan.

Hamilton sudah mengisyaratkan dia bisa menyamai rekor Schumacher, dan bahkan melampauinya, antara lain karena keberhasilannya melewati pencapaian Schumacher dalam hal jumlah pole position, finis menghasilkan poin, dan finis podium.

Hamilton juga tengah bersama tim yang performanya stabil dalam enam tahun terakhir dan di ambang melampaui pencapaian Ferrari enam musim berturut-turut juara konstruktor. Ferrari melakukannya dari 1999 sampai 2004.

Indikasi Mercedes itu kian kuat saja setelah sejak 2014 sampai sekarang tidak ada tim yang bisa menandingi performa Mercedes.

Baca juga: Hamilton vs Schumacher dalam angka

Selanjutnya: Belum selesai

Oleh Jafar M Sidik
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar