Pengaruh harga minyak, Gapki catat ekspor Agustus turun 14,2 persen

Pengaruh harga minyak, Gapki catat ekspor Agustus turun 14,2 persen

Ilustrasi. Pekerja menimbang tandan buah segar (TBS) kelapa sawit usai dipanen di Tebo Ilir, Tebo, Jambi. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/foc.

Kenaikan harga minyak sawit yang menyebabkan perbedaan harga dengan minyak nabati lain, terutama minyak kedelai
Jakarta (ANTARA) - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat volume ekspor produk minyak sawit dan turunannya pada Agustus 2020 sebesar 2,68 juta ton atau turun 14,25 persen dibandingkan bulan Juli yang mencapai 3,13 juta ton.

Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono menjelaskan bahwa penurunan volume ekspor ini diduga selain karena pengaruh COVID-19 yang belum mereda, juga karena kenaikan harga minyak sawit.

"Kenaikan harga minyak sawit yang menyebabkan perbedaan harga dengan minyak nabati lain, terutama minyak kedelai, menjadi lebih kecil sehingga sebagian pengguna beralih ke minyak lain atau importir menunggu perubahan harga," kata Mukti di Jakarta, Selasa.

Dari segi nilainya, ekspor minyak sawit juga lebih rendah, yakni sebesar 1,67 miliar dolar AS atau turun dibandingkan capaian bulan Juli yang mencapai 1,86 miliar dolar AS. Nilai ekspor tersebut tercapai pada harga rata-rata bulan Agustus CPO 703 per ton dolar AS cif Rott, sedangkan harga pada bulan Juli 659 dolar AS per ton.

Menurut tujuannya, ekspor ke India pada Agustus turun 200.000 ton (36,4 persen) sedangkan ekspor ke China turun 11 ribu ton (1,7 persen). Namun demikian, jika dibandingkan periode tahun lalu (YoY), ekspor ke India 2020 meningkat 600.000 ton dari 2019. Sementara pada ekspor ke China, terjadi penurunan signifikan hampir 2 juta ton.

Penurunan ekspor yang besar lainnya adalah ke Timur tengah hampir 100.000 ton (36,13 persen) yang secara YoY turun 11 persen.

"Ekspor ke China sampai dengan Agustus (YoY) adalah 37 persen lebih rendah dari tahun lalu dan China adalah negara yang sudah pulih dari COVID-19, sehingga ada peluang yang besar untuk mengejar ketertinggalan ekspor ke China dari tahun lalu," kata Mukti.

Berdasarkan jenis produknya, ekspor CPO turun sekitar 146.000 ton, ekspor olahan CPO turun 242.000 ton, laurik turun 58.000 ton, sedangkan ekspor oleokimia masih mengalami pertumbuhan sebesar 5.000 ton.

Secara kumulatif, ekspor produk minyak sawit Indonesia periode Januari-Agustus 2020 sudah mencapai 21,31 juta ton.

Baca juga: GAPKI sayangkan maraknya produk dengan stiker Palm Oil Free
Baca juga: Harga CPO membaik, Gapki catat nilai ekspor sawit Juli naik 15 persen

 

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

GAPKI: Uni Eropa bukan pasar terbesar sawit Indonesia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar