Pengunjuk rasa pro demokrasi Thailand hadapi pendukung kerajaan

Pengunjuk rasa pro demokrasi Thailand hadapi pendukung kerajaan

Raja Thailand Maha Vajiralongkorn dan Ratu Suthida menyapa pendukung raja yang berkumpul di depan Istana Kerajaan untuk memperingati 4 tahun wafatnya Raja Bhumibol Adulyadej, di Bangkok, Thailand, Selasa (13/10/2020). REUTERS/Jorge Silva/AWW/djo (REUTERS/JORGE SILVA)

Mereka tidak boleh menyentuh institusi. Kami tidak akan menerima ejekan atau mengangkat tiga atau empat jari selama iring-iringan mobil
Bangkok (ANTARA) -  Pengunjuk rasa anti pemerintah Thailand dan pendukung Raja Maha Vajiralongkorn saling unjuk kekuatan di kedua sisi jalan Bangkok pada Rabu, seiring ketegangan politik yang meningkat setelah demonstrasi yang berlangsung tiga bulan.

Ratusan pengunjuk rasa di Monumen Demokrasi mengulangi seruan mereka untuk mundurnya Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha, mantan pemimpin junta, dan konstitusi baru. Mereka memberi hormat tiga jari khas mereka.

Hanya beberapa puluh meter jauhnya, ratusan bangsawan berkumpul dengan anggota pasukan keamanan---semuanya berpakaian warna kuning kerajaan---beberapa jam sebelum iring-iringan mobil kerajaan lewat di sepanjang jalan.

Terlepas dari satu perkelahian singkat, kedua belah pihak sebagian besar tetap terpisah, tetapi kebuntuan menghidupkan kembali kekhawatiran akan masalah di negara yang mengalami kekerasan jalanan selama satu dekade antara pendukung dan penentang sebelum kudeta tahun 2014.

Baca juga: Raja Thailand minta polisi tidak tutup jalan saat pengawalan
Baca juga: Raja Thailand kembali pecat pejabat istana, di antaranya karena zina


Pemimpin kerajaan Buddha Issara mengatakan para pengunjuk rasa dapat menuntut demokrasi, tetapi tidak boleh menyerukan reformasi monarki, seperti yang telah dilakukan beberapa orang.

"Mereka tidak boleh menyentuh institusi. Kami tidak akan menerima ejekan atau mengangkat tiga atau empat jari selama iring-iringan mobil," kata dia kepada wartawan.

Pada Selasa (13/10), para pengunjuk rasa membuat tantangan langsung yang langka kepada raja, dengan meneriaki konvoi yang lewat setelah 21 aktivis ditangkap selama bentrok dengan polisi.

Polisi mengatakan para tahanan akan didakwa dengan pelanggaran ketertiban umum pada Rabu.

Protes telah menjadi tantangan terbesar selama bertahun-tahun bagi pemerintahan yang didominasi oleh tentara dan istana di Thailand.

"Kami di sini untuk berperang, dengan menghormati semua orang serta monarki," kata pemimpin protes Anon Nampa kepada para pengunjuk rasa.

"Kami di sini untuk menyerukan reformasi lembaga untuk memperbaiki negara."

Juru bicara pemerintah Anucha Burapachaisri mengatakan polisi telah diberitahu untuk menghindari konfrontasi yang tidak perlu. Polisi mengatakan hampir 15.000 petugas telah dikerahkan untuk menjaga ketertiban.

Istana kerajaan belum menanggapi permintaan komentar atas protes atau tuntutan para pengunjuk rasa.

Demonstrasi pro kerajaan relatif kecil dibandingkan dengan puluhan ribu orang yang bergabung dalam demonstrasi anti pemerintah terbesar pada September lalu, tetapi pertemuan para loyalis kerajaan pada Rabu jauh lebih besar.

Truk-truk kota Bangkok menurunkan ratusan pendukung kerajaan, banyak di antaranya membawa bendera dan gambar raja.

"Kemapanan di Thailand memainkan permainan yang sangat berbahaya, memobilisasi pasukan keamanan negara dan kelompok ultra royalis untuk menghadapi para demonstran pro demokrasi," kata Prajak Kongkirati, seorang profesor hukum di Universitas Thammasat.

Pengunjuk rasa anti pemerintah di antaranya menuntut untuk mengekang kekuasaan konstitusional raja dan agar dia mengembalikan kendali pribadi yang dia ambil atas beberapa unit tentara dan kekayaan istana senilai puluhan miliar dolar.

Sumber: Reuters

Baca juga: Protes anti pemerintah Thailand dimajukan sebab khawatir akan gangguan
Baca juga: PM Thailand sebut mahasiswa pengunjuk rasa "bertindak terlalu jauh"

Penerjemah: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar